ZAMAN sudah berubah. Apalagi dibandingkan dengan zaman 40 tahun silam. Jauh sekali perbedaannya. Dulu mengasuh anak tak serumit sekarang. Nyaris tak ada ancaman bagi anak-anak. Mereka bebas bermain. Kapan dan di mana saja.
Tidak mengherankan bila anak-anak dulu bermain sampai lintas-desa. Mbolang rame-rame. Seru. Berjalan kaki atau ngontel. Tidak ada yang mengganggu. Meski sering sekali, ‘gerombolan’ kecil itu pulang menjelang matahari tenggelam.
Itu hal biasa.
Ulahnya tidak sampai mengusik orang tua di rumah. Bapak-ibunya percaya. Punya keyakinan penuh. Anaknya tidak anak kenapa-kenapa. Pasti pulang dengan selamat. Maaf, itu pengalaman pribadi. Nostalgia ketika saya masih kecil. 45 tahun lampau.
Bandingkan dengan sekarang. Anak telat pulang sekolah, orang tua langsung bingung. Resah. Apalagi bila telatnya sampai berjam-jam. Orang tua begitu takutnya. Anak-anak sekarang tak lagi punya tradisi mbolang. Mereka menjadi anak rumahan. Perkembangan zamanlah yang ‘memenjarakan’ mereka.
Orang tua begitu protektif. Mereka punya alasan atas ketakutannya. Di luar rumah sudah tidak aman. Banyak aksi kejahatan. Terutama kejahatan terhadap anak-anak. Lebih khusus lagi, kasus kekerasan seksual dengan pelaku dan korban anak di bawah umur. Atau, remaja.
Angkanya cukup mencengangkan. Dari 17.222 kasus kekerasan yang dilaporkan ke Kementerian PPPA pada 2024, sebanyak 81 persen atau setara 13.962 korban adalah anak di bawah umur (Jawa Pos, 7 September 2024). Wajar, sekali lagi, bila orang tua menjadi protektif. Setiap hari orang tua dihantui ketakutan yang tinggi.
Sudah banyak sekali kasusnya. Terbaru, aksi kekerasan seksual terhadap anak di Palembang, Sumatera Selatan. Aksi itu berujung kematian seorang siswi SMP. Polisi berhasil mengamankan tersangkanya. Empat. Semua masih di bawah umur. Pelajar SMP dan SMA.
Ada tengara, pengaruh lingkungan terhadap tumbuh berkembang pelaku anak menjadi penyebabnya. Lingkungan paling berbahaya saat ini justru dari ‘dunia lain’. Namanya: era digital. Terutama cyberporn. Alias pornografi maya. Makhluk yang satu ini layaknya Dajjal bagi anak-anak. Kerjanya sangat rapi. Dan halus. Tidak frontal. Tapi tak kenal lelah. Apalagi putus asa. Dajjal digital itu menstimulasi anak untuk melakukan kejahatan seksual.
Bagi orang tua pemuja teknologi informasi harus mulai berhitung. Ia harus meningkatkan pengetahuan buah cintanya. Terutama yang masih di bawah umur. Selalu katakan kepada mereka: TI itu bermanfaat. Tapi juga mudarat. Bila tidak dikontrol. Apalagi, sampai lepas control orang tua. Ancaman yang paling nyata adalah maraknya tawaran cyberporn. Yang bertebaran di media sosial. Internet. Itu membuat anak-anak terpicu melakukan tindakan yang salah.
Dalam lorong gelap selalu ada cahaya. Meski hanya setitik. Manfaatnya tetap nyata. Ancaman setan yang gentayangan di medsos, khususnya cyberporn, sangat mungkin juga sudah gentayang di Banyuwangi. Maka, tameng harus terus dibentangkan.
Kita bersyukur. Penciuman Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas sangat tajam. Begitu mencium gelagat membahayakan anak-anak Bumi Blambangan, orang nomor satu di kota The Sunrise of Java itu langsung membentangkan tameng. Dia menginisiasi Sobat (Sekolah Orang Tua Hebat). Sesuainya namanya, sekolah itu diikuti oleh para orang tua hebat. Karena mereka sangat peduli terhadap masa depan anaknya. Punya jiwa juang ’45. Melindungi anak-anaknya dari ancaman laten medsos. Utamanya syberporn!
Bukan hanya itu. Lebih luas lagi. Selama di Sobat, mereka mendapat pengetahuan, sikap maupun keterampilan. Agar Pendidikan, pendampingan, dan pengasuhan yang diperoleh anak di rumah selaras. Saling mendukung, saling menguatkan. Dengan yang diperoleh anaknya di satuan pendidikan.
Wa ba’du. Sobat beda dengan sekolah umumnya. Sekolahnya hanya empat bulan. Terbagi dalam 16 pertemuan. Materinya disesuaikan dengan tingkatan sekolah anaknya. Mulai PAUD, SD, dan SMP. Angkatan pertama siswanya cukup fantastis: 7.155 orang!
Mereka baru saja lulus. Baru saja diwisuda. Secara bertahap. Menyesuaikan tempat tinggalnya. Yang tinggal di kota dan sekitarnya diwisuda di lapangan tenis indoor GOR Tawangalun, Kamis (5/9/24) pekan lalu. Diikuti 2.495 alumni Sobat. Mereka juga bertoga. Layaknya wisuda siswa dan mahasiswa.
Wisuda berikutnya secara berturut-turut di lakukan di SMPN 1 Siliragung hingga wisuda terakhir pada 21 September 2024 di SMPN 2 Gambiran. Dengan jumlah wisudawan yang berbeda-beda. Tak sabar menunggu hasil implementasi pelajaran siswa Sobat I.
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin