LUAR BIASA. Tahun 2024 milik Banyuwangi. Empat seniman Bumi Blambangan memborong Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2024. Penerima penghargaan seni tertinggi Indonesia itu: Temu Misti, Siami, Senari, dan (Alm) KH Ali Manshur Shiddiq. AKI yang mereka terima berbeda. Sesuai kapasitas dan dampak karyanya. Terhadap masyarakat dan umat.
Temu, Siami, dan Senari menerima penghargaan dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim. Sedangkan Kiai Ali Manshur mendapat Tanda Kehormatan dari Presiden Joko Widodo.
Temu Misti menerima penghargaan kategori Maestro Seni Tari. Dia sangat layak menyandang gelar maestro. Usia 72 tahun tak memengaruhi jiwa senimannya. Semangatnya tetap menggelora. Masih menari gandrung. Bahkan, kuat menari hingga subuh. Bukan hanya gerakan kepala, pundak, tangan, dan kakinya yang lincah. Suaranya juga masih merdu. Lengkingan laik-laiknya menyayat kalbu. Sabetan sampurnya masih maut. Tak kalah dengan gandrung-gandrung muda.
Sebagai maestro, Temu tak pelit ilmu. Dia bertekad akan terus mengajar tari gandrung. Hingga ajal menjemput. ”Kalau ditanya sampai kapan saya jadi gandrung, sampai saya nggak kuat lagi. Semampu saya akan terus saya ajarkan gandrung ke generasi muda di bawah saya. Biar mereka yang nanti meneruskan jika saya meninggal,” tekadnya, dilansir radarbanyuwangi.id (27/03/24).
Mbah Temu sudah melestarikan tari gandrung selama setengah abad. Selain masih sibuk tanggapan, dia juga mengajari generasi muda menari gandrung di sanggar tari miliknya. Sanggar bernama ”Sopo Ngiro” itu berada di rumahnya Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.
Temu menjadi gandrung sejak umur 15 tahun. Tepatnya, pada 1968. Dia penari otodidak. Hanya memperhatikan gerakan gandrung menari dekat rumahnya. Ketika masih muda, Temu menari gandrung setiap malam. Tanggapan di seluruh wilayah Banyuwangi. Juga luar kota. Bahkan, sampai luar negeri. Antara lain Jerman.
Sama dengan Temu, Siami, 74, dan Senari, 82, juga dianggap punya kontribusi luar biasa tehadap pemajuan kebudayaan Indonesia. Namun, kategori penghargaan yang mereka terima bukan maestro seperti Temu. Melainkan kategori pelestari. Siami adalah penenun wastra Using. Sedangkan Senari penyalin kitab Lontar Yusuf.
Tiga legenda hidup seni budaya kota the Sunrise of Java itu diganjar pin emas, piagam penghargaan, dan dana apresiasi Rp 100 juta. Temu sebagai maestro mendapat tambahan. Insentif Rp 25 juta per tahun. Selama hidupnya!
Sementara itu, Kiai Ali Manshur memang layak menerima Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden. Sebab, Shalawat Badar gubahannya bukan hanya menjadi milik warga Nahdliyin. Tapi menjadi milik Indonesia. Bahkan, dunia. Bukan hanya warga NU Indonesia. Semua umat Islam dunia (khususnya jamiyah Nahdlatul Ulama) selalu mengumandangkan Shalawat Badar.
Salawat Badar, menurut saya, masuk puisi klasik Arab. Itu bisa dilihat dari bentuk syair 28 bait tersebut. Susunan kalimat sangat indah. Bahasa Arabnya bagus. Menunjukkan Kiai Ali Manshur sangat menguasai bahasa Arab. Terutama ilmu Arudh. Salah satu ilmu bahasa Arab. ”Senjata” bagi orang yang ingin menggubah syair Arab klasik. Yakni, syair yang terkait dengan wazan (pola kata) dan qofiyah. Berupa bagian akhir pada setiap bait puisi Arab. Atau, kumpulan dua huruf mati di akhir bait dengan huruf-huruf berharakat.
Shalatullah salamullah / ’Ala thaha rasulillah /
Shalatullah salamullah / ’Ala yasin habibillah /
Akhir dua baris pembuka Shalawat Badar itu berakhiran sama. Iramanya sama. Dalam puisi lama Indonesia kita mengenal bentuk sajak berima aa ii uu dst.
Kiai Muhammad Shiddiq (putra Kiai Ali Manshur) mengatakan, syair Shalawat Badar ditulis Abahnya antara 1961–1962. Melalui riyadhah khusus. Berhari-hari. Tidak sekali jadi. ”Ibu saya melihat, Abah berkali-kali membuang kertas ke tong sampah di samping meja kerjanya. Kertas-kertas itu berisi coretan-coretan konsep syair Shalawat Badar,”kata Shiddiq, menirukan cerita ibunya.
Shiddiq menambahkan, teks syair Shalawat Badar ditulis Kiai Ali Manshur di Kelurahan Lateng, Kecamatan Banyuwangi. Bukan di Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi. ”Yang di Karangrejo itu peresmiannya. Tapi, baik di Lateng dan Karangrejo sama-sama punya sejarah,” katanya saat menjadi narasumber bersama saya di Gesah Banyuwangi ”Mutiara dari Bumi Blambangan untuk Dunia”.
Gesah bertema ”KH Ali Manshur, Shalawat Badar dan Penghargaan dari Presiden” itu juga menghadirkan narasumber Ustad Sunandi Al-Jubaidi (Khatib Syuriah PCNU Banyuwangi) dan Taufik Rohman (Plt Kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi).
Wa ba’du. Kiai Ali Manshur seorang ulama sekaligus seniman. Tepatnya, seni puisi. Penyair. Di mana darah kepenyairannya terasah. Di tanah kelahirannya Jember. Atau, di tempatnya dibesarkan di Tuban. Atau, di Bumi Blambangan. Bisa jadi saat beliau tinggal di Banyuwangi jawabannya. Mulai 1959–1967. Air dan beras Kota Gandrung yang dimakan dan diminumnya selama sembilan tahun, sudah cukup mewarnai DNA (deoxyribonucleic acid) seni dalam tubuh Kiai Ali Manshur. Jawaban agak terang disampaikan Gus Dur (KH Abdurahman Wahid). ”Andai tak tinggal di Banyuwangi, mungkinkah Kiai Ali Manshur menciptakan Shalawat Badar?” ujar Gus Dur dalam Muktamar ke-25 NU di Ponpes Krapyak, Jogjakarta, pada 1989.
Di balik pernyataannya itu, seolah Gus Dur ingin mengatakan, Banyuwangi adalah kota ber-DNA seni. Terlepas latar belakang sosial politik Banyuwangi pada era 1950-an sampai 1960-an. Yakni drama rebutan wacana kebudayaan antara PKI dan NU. Wallahu a’lam. (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Niklaas Andries