ITdBI (International Tour de Banyuwangi Ijen) berakhir 25 Juli 2024 lalu. Balap sepeda empat etape itu meninggalkan banyak inspirasi. Bukan hanya dari segi penyelenggaraan. Tapi juga yang lain.
Bisa dimaklumi jika penyelenggaraannya kurang rapi. Sebab, ITdBI baru rehat selama empat tahun. Akibat pandemi Covid-19. Kurang rapinya terlihat pada acara seremoni. Baik saat pembukaan. Hingga seremoni di akhir etape. Utamanya saat jelang pengumuman pemenang sampai pembagian hadiah.
Acara-acara itu masih bisa dirapikan lagi. Caranya, hilangkan kecanggungan-kecanggungan panggung. Misal, saat acara malam pembukaan. Beberapa kali tampak ada miss antar-MC. Akibatnya ada jeda. Ada kekosongan ruang suara agak lama di panggung. Juga pemanggilan undangan VVIP. Siapa dan kapan mereka harus naik ke panggung untuk menyapa hadirin.
Yang paling mencolok esok harinya. Saat awarding balapan etape 1. Ketika itu, MC menyilakan Menpan-RB Abdullah Azwar Anas maju memberi sambutan. Ternyata Pak Anas tidak berkenan. Dari tempat duduknya, Pak Anas menolak dengan gestur tubuhnya. Sangat beralasan penolakan Pak Anas. Sebab, ada yang lebih berkompeten memberi sambutan. Yakni, Menpora Dito Ariotedjo. ”Balap sepeda itu bagian Dito. Masuk Kemenpora. Jauh sekali dari urusan Kemenpan-RB,” kira-kira begitu arti bahasa tubuh Pak Anas yang duduk bersebelahan dengan Dito.
Urusan sambut-menyambut itu kelihatan sepele. Tapi penting. Apalagi, di acara berkelas dunia seperti ITdBI. Yang dihadiri oleh para pembalap dunia. Seperti pembalap yang tampil di Grand Tour Merhawi Kudus dan Laas Martin. Juga International Commissaire ITdBI asal Malaysia Jamaludin Mahmood. Bahkan, President of The Commissaire Panel UCI Tsunenori Kikuchi.
Di acara yang sangat prestisius seperti ITdBI, kesalahan atau ”kecelakaan” sekecil apa pun harus diminimalkan. Sebab, hal itu terkait dengan derajat keprofesionalan. Paling gampang mengukur tingkat profesionalitas penyelenggaraan event adalah timeline. Manajemen waktu dari detik ke detik harus terukur. Harus dijalankan secara disiplin. Tidak boleh ada yang luput. Kesalahan menyebut atau memanggil nama seseorang, serta kurang sigapnya para pengisi acara adalah bukti ketidakpatuhan pada timeline. Ketidakpatuhan itu, salah satunya, disebabkan kurang koordinasi pihak-pihak terkait.
Dalam kondisi seperti itu, kehadiran seorang stage manager sangat dibutuhkan. Ia bertanggung jawab terhadap manajemen acara secara keseluruhan. Ia adalah dirigen. Penentu dan eksekutor ketika ada satu atau dua rundown yang tidak jalan sebagaimana mestinya. Sebagai jenderal panggung, ia berkuasa penuh. Dan, harus mengambil keputusan cepat. Hanya dalam hitungan detik. Tidak boleh lelet. Walhasil, tidak ada jeda. Rapi. Tidak ada kekosongan waktu lama saat acara berlangsung.
Itu catatan kecil untuk panitia ITdBI 2024. Catatan besarnya dibahas pada kesempatan lain. Di lain tempat. Catatan-catatan itu penting. Untuk perbaikan ITdBI tahun depan. Selebihnya, secara keseluruhan, ITdBI 2024 tetap merupakan one of the best di Asia—mengutip ucapan International Commissaire ITdBI Jamaludin Mahmood.
Terlepas dari ”kekurangan kecilnya”, harus diakui, ITdBI 2024 telah menginspirasi. Bahkan, membuat iri. Dari sekian puluh event dalam kalender Banyuwangi Festival, ITdBI seorang yang mengglobal. Hingga Juli ini. Peserta hingga jurinya dari luar negeri. Keren. Event yang lain masih berkutat dengan serba kelokalannya. Dan, terasa kesulitan untuk berubah.
Sebenarnya, ada peluang event lain naik kelas menjadi event global. Terutama event-event seni budaya Banyuwangi Festival. Pergelaran musik tradisional, misalnya, sangat terbuka melibatkan kelompok/grup dari luar negeri. Sekadar contoh, kita buat festival perkusi. Kita undang grup perkusi dari beberapa negara. Atau lebih sempit lagi, kita gelar festival musik bambu. Ada beberapa negara di Asia yang punya grup musik bambu. Juga dari Amerika Latin dan Eropa.
Tapi, kan setiap event Banyuwangi Festival harus berdampak pada ekonomi kerakyatan. Lah, saat digelar festival International Bamboo Music, para perajin suvenir bambu bisa menjual produk-produknya di sekitar lokasi acara.
Event tari juga begitu. Gandrung Sewu, misalnya. Panitia bisa mengundang grup tarian dari Thailand. Negeri Gajah Putih itu punya tarian dengan kostum mirip gandrung. Hanya beda di omprog penarinya. ”Gandrung Thailand” mengenakan omprog lebih tinggi.
Dan, wa ba’du. Masih banyak lagi event dalam Banyuwangi Festival yang bisa dinaikkan levelnya. Masih ada waktu untuk melakukan riset. Kira-kira event apa saja yang bisa diglobalkan kelasnya untuk Banyuwangi Festival 2024.
Wah, kan butuh banyak biaya untuk mendatangkan duta seni dari luar negeri. Siapa bilang? Tergantung dari kelihaian panitia. Umumnya, rombongan muhibah seni budaya datang ke suatu tempat/negara dibiayai oleh pemerintahnya. Jadi, kedatangan mereka tidak akan membuat kita buntung. Sebaliknya malah untung. Keuntungan itu, terutama, bakal dinikmati oleh para pemilik hotel, restoran, dan kedai-kedai suvenir. Maka, jangan sungkan mengundang para owner mereka untuk membahas terobosan menggelar event seni budaya global di Banyuwangi. Kira-kira mau gak ya…. (Pekolom Banyuwangi)