GILA. Ada 8.000 judul buku. Sejuta eksemplar didiskon besar-besaran. Kisaran 30–80 persen. Dari harga banderol. Fenomena itu terjadi pada 2019. Di Jogjakarta. Dalam Festival Patjar Merah. Pada 2–10 Maret 2019. Gudang Gedongkuning yang lama mangkrak berubah riuh. Menjadi saksi bisu. Sejarah bermulanya Festival Patjar Merah. Menggenapi pameran buku lainnya. Bukan hanya di Jogja. Tapi juga di banyak tempat di Indonesia.
Sekilas info—sebagai obat salah sangka. Pacar (dalam Patjar Merah) itu bukan daun inai, pemerah kuku. Melainkan masih terkait dengan buku. Itu menunjukkan kecerdikan pengide festivalnya. Patjar Merah, mengutip unggahan Bambang Trim di WAG Klinik Bahasa, merupakan nama tokoh yang muncul dalam roman detektif tahun 1038. Karya Matu Mona. Sang tokoh representasi dari sosok Tan Malaka yang cerdik, cerdas, dan tentu saja suka membaca!
Lima tahun kemudian. Patjar Merah Jogja sudah berjenama. Dampaknya bisa dirasakan. Setidaknya. Tingkat kegemaran membaca (TGM) Jogjakarta paling tinggi se-Indonesia. Dengan skor indeks 73,27 persen. Berdasar survei Perpusnas RI 2023. Itu petunjuk bahwa masyarakat Jogja sangat unggul dalam kegemaran membaca buku.
Menyusul berturut-turut di bawah Jogja adalah Jawa Tengah (71,31 persen), Jawa Barat (70,47 persen), DKI Jakarta (69,94 persen), dan Jawa Timur (69,78 persen) di urutan kelima. Kalimantan Utara (Kaltara) yang didirikan pada 2012, secara mengejutkan menempati urutan keenam dengan indeks 69,32 persen. Mengalahkan saudara tuanya Sumatra Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Jambi menggenapi sepuluh besar.
Survei Perpusnas RI Tahun 2023 secara nasional menunjukkan, TGM masyarakat Indonesia hanya 66,77 persen. Berada di level ”sedang” berdasarkan skala 50,1–75. Sebaliknya, tidak ada satu provinsi pun yang mencapai level ”tinggi”. Yakni, dalam skala 75,1–90. Apalagi ”sangat tinggi” yakni 90,1–100.
Berada di level ”sedang” itu cukup merisaukan. Terutama bila dikaitkan dengan ambisi Indonesia meraih keandalan pada 2045. Yang terus didengungkan sebagai tahun Indonesia Emas. Akankah bangsa ini memasuki Indonesia Emas dalam keadaan sedang-sedang saja. Dalam hal membaca buku. Atau, meng-gaspol-kan gerakan literasi. Program bagus itu, saat ini, terkesan hanya semarak di acara-acara seremonial. Tidak dalam kerja nyata, nyata, dan nyata!
TGM yang hanya 66,77 persen itu mendekati kenyataan di lapangan. Coba perhatikan. Seberapa banyak orang membaca buku yang Anda temui hari-hari ini. Tak banyak. Tidak banyak orang melakukan aktivitas membaca buku cetak saat bepergian. Di stasiun saat menunggu keberangkatan kereta api yang akan ditumpanginya. Di bandara sambil menunggu disilakan masuk ke pesawat. Apalagi, di dalam kereta dan pesawat. Hampir semua penumpang memilih tidur daripada membaca buku. Di taman kota, di mal, di kantor, kondisinya kurang lebih sama. Bahkan, di sekolah dan perpustakaan sekolah dan umum, siswa masih membaca buku karena mendapat tugas dari gurunya.
Bagaimana dengan di Banyuwangi? TGM 2023 Bumi Blambangan, Alhamdulillah, naik. Dibanding 2022. Pada 2022 skor indeks TGM kota the Sunrise of Java 61,2 persen. Pada 2023 indeksnya naik menjadi 63,4 persen. Namun, kenaikan itu belum memuaskan. Sebab, masih di bawah skor Jatim (69,78 persen) dan skor nasional (66,77 persen).
Wa ba’du. Dibutuhkan kerja keras untuk mengejar ketertinggalan TGM Banyuwangi. Juga kerja cerdas. Kerja keras yang dilakukan selama ini harus didukung dengan kerja cerdas. Segera evaluasi program-program yang dijalankan selama ini. Ganti yang kurang atau bahkan tidak efektif. Bikin program baru sesuai dengan perkembangan kekinian. Giatkan kampanye ”Ayo Membaca!”
Membaca apa saja. Buku, koran, majalah, dlsb. Membaca apa saja. Di mana saja. Budayakan kembali membawa buku. Menenteng buku ke mana-mana. Bukan untuk gaya-gayaan—agar disebut cendekiawan. Tapi, sudah menjadi kebutuhan. Tak lengkap hari berlalu, tanpa dihiasi membaca buku. Meski hanya 15 menit atau malah berjam-jam.
Mulailah dari keluarga. Baru masyarakat. Lalu bangsa. Memang, tidak mudah menumbuhkan kebiasaan membaca di dalam rumah tangga. Kuncinya kemauan. Dan teladan. Orang tua harus memberi contoh. Ibu dan bapak biasakan membaca. Walau hanya beberapa halaman buku. Buku fiksi dan nonfiksi. Buku menu masakan pun tak masalah. Yang penting, anak-anak melihat aktivitas membaca Anda. Dari melihat pemandangan membaca yang Anda demonstrasikan, anak-anak akan menirunya.
Catat ini dengan tinta tebal: bila anak sudah maniak membaca, jangan pelit bila ia terus-terusan minta ke toko buku. Antar ia dengan senyum mengembang. Sebab, anak Anda sedang melakukan investasi untuk masa depannya. (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Niklaas Andries