BANYUWANGI sebenarnya punya destinasi unik. Kelas dunia. Tidak semua kota di Indonesia memilikinya. Hanya 10.
Destinasi itu berupa taman bumi. Orang asing biasa menyebutnya geopark. Selain Geopark Ijen, sembilan geopark Indonesia yang diakui/masuk jaringan UNESCO Global adalah Geopark Batur, Gunung Sewu, Gunung Rinjani, Ciletuh, Danau Toba, Belitung, Maros Pangkep, Merangin Jambi, dan Raja Ampat.
Informasi lengkap tentang 10 warisan dunia itu bisa didapatkan di pusat informasi kesepuluh taman bumi tersebut. Tapi, sayang, tidak semua memiliki tempat yang mengasyikkan untuk dikunjungi. Kecuali dua. Museum Geopark Ijen dan Museum Geopark Gunung Batur.
Museum Gunung Api Batur terletak di Jalan Raya Penelokan, Kintamani, Bangli, Bali. Bentuk bangunannya unik. Seperti piramida. Atapnya tersusun dari sembilan trap. Makin ke atas makin mengerucut. Di dalamnya terbagi tiga zona. Yakni, keanekaragaman geologi (kebumian, batuan produk letusan gunung Batur), hayati, budaya, dan auditorum.
Geopark Danau Toba memiliki Gedung Pusat Informasi Geopark Kaldera Danau Toba. Wisatawan bisa memperoleh informasi tentang sejarah danau vulkanik terbesar bernama Toba. Sekadar mengingatkan, pada 2023 lalu kawasan wisata Geopark Kaldera Toba menerima kartu kuning dari UNESCO (United Nations, Educational, Scientific, and Cultural Organization). Tersebab badan pengelola Danau Toba dinilai tidak maksimal dalam pengembangan kawasannya.
Museum Geopark Ijen tak kalah mentereng dari Museum Gunung Api Batur. Menempati tower dormitory Wisma Atlet. Di Jalan Gajah Mada, Banyuwangi. Saya baru sempat masuk ke dalamnya, akhir Juni kemarin (Kamis, 27/6/24). Menemani dua penulis buku dari Rumah Perubahan Jakarta: Iqbal dan Marsudi. Padahal, museum yang lebih dikenal dengan Pusat Informasi Geologi Geopark Ijen (PIGGI) sudah dibuka awal tahun 2024 lalu.
Sebelum melongok isi di dalamnya, jantung pengunjung sudah dibuat berdecak kagum pada bangunannya. Sangat artistik. Ora umum. Tidak lazim. Beda dengan bangunan-bangunan umumnya.
Dormitory Wisma Atlet didesain oleh Budi Pradono. Arsitek nasional itu memang dikenal dengan karya-karya yang nyeleneh—di mata awam. Terutama bentuknya. Lebih suka pakai bahan alam. Memanfaatkan kekayaan alam Indonesia, tepatnya. Seperti Wisma Atlet yang menjadi Museum PIGGI itu. Massa bangunannya melengkung. Sebuah tampilan yang dinamis. Sekaligus ikonis. Menjadikannya tak ada duanya di kota the sunrise of Java. Keberadaan kisi-kisi kayu mengelilingi seluruh gedung tidak hanya membuat eksotis-ikonis. Tapi sekaligus menjadi shading (area penghasil bayang-bayang) dan mengatur curahan sinar matahari dari arah timur.
Saat masuk ke dalam gedung, sejarah terbentuknya kawasan Geopark Ijen ribuan tahun silam terhampar di depan mata. Berupa gambar dan tulisan. Juga benda. Seperti bongkahan belerang. Yang diambil langsung dari kawah Gunung Ijen. Seorang pemandu menjelaskan dengan fasih setiap objek. Baik yang terpasang di lantai 1 sampai lantai 2. Pengunjung bisa mendapat dua sekaligus: edukasi dan wisata.
Museum PIGGI menawarkan destinasi baru. Yakni wisata edukasi geologi. Meliputi kekayaan arkeologi, peninggalan budaya, hingga kekayaan flora dan fauna di Banyuwangi. Tentu, budaya, flora, dan faunanya masih terkait dengan Gunung Ijen purba. Serta kawasan yang melingkupinya. Seperti kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, saat acara pembukaan Museum PIGGI, awal tahun 2024. ”Tempat ini dapat memberikan edukasi kegeologian yang lengkap bagi pelajar, masyarakat umum, wisatawan, hingga peneliti. Mereka bisa mendapatkan informasi kekayaan geologi di kawasan Geopark Ijen,” tandasnya.
Museum yang menampilkan geosite, biosite, dan cultural-site Geopark Ijen itu disokong Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM). Sebagai apresiasi ditetapkannya Geopark Ijen sebagai jaringan UNESCO Global Geopark. Pada 24 Mei 2023 lalu.
Selain data mati yang menempel di dinding melengkung dalam museum, pengunjung juga bisa menyaksikan video immersive Geopark Ijen. Video itu berisi beragam informasi tentang kekayaan arkeologi, sejarah tektonik, kaldera Ijen, danau asam, api biru, dan beragam informasi yang lain.
Sebelum masuk ke studio dan menonton film berdurasi 18 menit, pengunjung juga bisa mencoba layar sentuh. Di dalam layar terdapat beberapa jenis bebatuan. Tinggal sentuhkan jari tepat searah batu yang dipilih. Muncullah keterangan jenis batunya. Misal memilih batu Tumpang Pitu yang berwarna kekuningan, akan terpampang penjelasannya seketika.
Wa ba’du. Saya bangga sekaligus sedih bisa berkunjung ke Museum PIGGI. Sedih karena ketika ke sana tidak tampak pengunjung yang lain. Kecuali kami berempat! Padahal, gedungnya sangat menarik. Isinya juga tak kalah menarik. Saya berpikir, seharusnya sebelum mendaki Ijen, melihat api biru, wisatawan ”belajar” dulu ke Museum PIGGI. Dengan begitu, mereka ke Kawah Ijen tidak kosongan. Alias tinggal mencocokkan. Apa yang didapat di Museum PIGGI dengan kenyataan yang ditemuinya saat mendaki gunung Ijen.
Tapi, entahlah. Pengunjung Kawah Ijen tak pernah sepi. Sementara Museum PIGGI terus kesepian. Tak banyak yang hatinya kerentek ke sana. Kayaknya ada yang salah deh. Salahnya di mana. Tak tahulah. Harus diteliti lebih serius. Kita punya barang bagus bernama Museum PIGGI kok tidak laku. Seharusnya, Museum PIGGI dan Kawah Ijen itu saling complementing.
Lalu, salahnya di mana. Bisa saja promosinya. Belum tentu juga. Mungkin promosinya sudah. Tapi kurang jitu. Karena, antara lain, nama museumnya tidak konek dengan pikiran khalayak. Coba Anda sempatkan lewat di depannya. Yang terpampang di depan gedung museum tulisan besar ”Pusat Informasi Geologi Geopark Ijen”. Tidak ada tulisan museumnya.
Faktanya, hingga kini masyarakat kurang familier dengan istilah ”pusat informasi”. Di pikiran banyak orang, ”pusat informasi” itu tidak lebih hanya tempat bertanya. Misal, saat di mal kita kebelet pipis atau pup, kita hampiri petugas di balik meja atau satpam, lalu bertanya kepada mereka, ”Toiletnya di mana, ya?”
Belum lagi ditambah dengan istilah geopark. Silakan tanya kepada 100 orang dewasa tentang geopark. Rasa-rasanya yang bisa menjawab tak lebih dari 10 persen. Bahkan, lebih sedikit lagi. Berarti tulisan di depan Museum PIGGI harus diganti?
Tergantung hasil kajiannya. ”Menjual” apa tidak nama itu. Terus siapa yang harus mengajinya? Tanyakan ke ahlinya. Hush… Sudah jangan banyak tanya! (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Niklaas Andries