Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Perkawinan Musik Klasik-Etnik

Samsudin Adlawi • Rabu, 19 Juni 2024 | 15:42 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi*
Oleh: Samsudin Adlawi*

SEJARAH baru seni musik Banyuwangi tercipta. Setelah menunggu dan ditunggu-tunggu. Sekian lama. Baru karena belum pernah ada sebelumnya. Bersejarah karena menjadi penanda zaman.

Bahwa musik etnik Banyuwangi sangat “lentur”. Tidak hanya nyaman dikolaborasikan dengan musik koplo, jazz, dangdut, dll.

Melainkan juga cukup harmoni dengan musik klasik. Perkawinan musik tradisional Bumi Blambangan dengan musik klasik itu terjadi di Ijen Ballroom Santika Hotel Banyuwangi. Sabtu akhir pekan kemarin (15/6/24).

Sebuah eksperimen menyandingkan dua kutub musik berbeda itu cukup berhasil. Musik klasik dari Bali tampak akrab dengan musik tradisional Banyuwangi. Mereka sangat harmonis dalam pelaminan “Konser Kolaborasi Musik Etnik Blambangan 2024”.

Kolaborasi itu melibatkan Joyo Karyo Art Banyuwangi dan Bavisch Music School Denpasar (BMSD), Bali.

“Pada kesempatan ini kami menampilkan Joyo Karyo junior, seusia siswa Bavisch, ” kata Elvin Hendratha, pemilik-pembina Joyo Karyo Art.

Pimpinan Bank Mandiri Banyuwangi itu mengaku, ajakan berkolaborasi dengan Bavisch menjadi tantangan tersendiri.

Sebab, antara Joyo Karyo dan Bavicsh punya kekhasasan masing-masing. ‘’Ini menjadi tonggak perkembangan musik di Banyuwangi,’’ tandasnya.

Owner BMSD Ch Anam Bavicsh mengatakan, sudah lama dirinya ingin mengambangkan musik tradisional Banyuwangi.

‘’Musik etnik Banyuwangi sangat unik. Lagu-lagunya juga sangat indah. Alangkah menarik bila dikolaborasi dengan musik klasik,’’ tuturnya dalam beberapa kesempatan kepada penulis.

Boleh dibilang, Sebagian hati Anam memang Banyuwangi. Ia sudah sering minum air Banyuwangi. Makan nasi dari beras Banyuwangi.

Bolak-balik Denpasar-Banyuwangi sudah menjadi kebiasaannya. Banyuwangi menjadi rumah keduanya.

Sebab, ia beristri dengan wanita Banyuwangi. Ia mempersunting anak mantan kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi, Sumartini Moenaris.

Tak heran bila proyek kolaborasi itu digarap sangat serius oleh Anam. Meski dengan cara unik. Kedua pihak berlatih di tempat masing-masing. BMSD Latihan di Denpasar. Joyo Karyo di Banyuwangi.

Dengan modal rekaman hasil Latihan dari kedua pihak. Itu memaksa Anam harus bolak-balik Denpasar-Banyuwangi. Untuk sinkronisasi. Memadukan hasil latihan 10 komposisi yang dimainkan saat konser.

Sepuluh komposisi itu sangat legend di Banyuwangi dan Bali. Yakni, Giro Blambangan, karya H Sutedjo Hadi (alm). Lagu itu sangat popluer di Radio Suara Blambangan.

Terutama di era 80 sampai 90-an). Komposisi berikutnya  Padang Ulan (dipopulerkan alm Sumitro Hadi). Disusul Manuk Kepodang karya Suparman.

Berikutnya lagu Paltuding gubahan trio Elvin Hendratha, Nuno Sutedjo dan kawan. Tak ketinggalan lagu Yon DD berjudul Semebyar disusul komposisi dari Bali Bungan Sandat (Bunga Kenanga).

Sebelum ditutup dengan lagu kebangsaan Banyuwangi ‘’Umbul-Umbul Blambangan’’ karya Andang CY dan BS Nurdian), konser juga menampilkan satu lagu berbahasa Inggris ‘’Denpasar Moon’’.

Semua komposisi itu dinyanyikan dengan merdua oleh Fadjar Putra, Farhan Dikha, Bella Tri, dan Laily Suci. Mereka personil Joyo Karyo.

Khusus Denpasar Moon, Bella Tri dan Laily Suci dibantu Aiko—personil BMSD yang fasih logat bahasa Inggrisnya.

Alat musik Joyo Karyo yang terdiri dari kendang, saron 1 dan saron 2, angklung, ketuk, suling dan gong kolaboris bersama alat musik klasik dari BMSD. Yakni violin 1 dan violin 2, cello, gitar elektrik, gitar akuistik, bass, piano, dan drum.

Konser kolaborasi dua jenis musik kemarin belum bisa dikatakan sempurna. Violin 2 dan drum dari musik klasik terdengar beberapa kali fals. Itu bisa dimaklumi.

Yang tampil kemarin masih usia anak-anak. Siswa. Alasan kedua, mereka berlatih dalam waktu yang terbatas. Itu pun tidak pernah bertemu dengan anak-anak Joyo Karyo. Apalagi latihan bersama.

Mereka baru bertemu dan latihan singkat saat geladi bersih. Sehari sebelum konser yang sebenarnya. Keberadaan saron Joyo Karyo sangat mewarnai konser. Sebagai melodi, cukup bisa menutupi kekurangan alat musik yang lain.

Maka, tidak ada alasan untuk tidak mengacungkan jempol kepada mereka. ‘’Terutama waktu memainkan komposisi Giro Blambangan, sangat pas dan kena,’’ kata Elvin.

Harmonisasi musik klasik dan musik etnik selama satu jam konser tak lepas dari peran Anam Bavicsh. Sebagai konduktor, ia berhasil memadukan permainan musik dari Joyo Karyo dan anak asuhnya di BMSD.

Stick di tangan kanannya bergerak lincah. Memandu kapan pemusik harus memainkan alat musiknya. Sementara tangan kirinya tak kalah aktif dan lincah.

Tak heran bila pada setiap komposisi dimainkan, penonton yang memadati ballroom langsung memberi aplaus panjang.

‘’Konser seperti harus menjadi pergelaran setiap tahun,’’ puji M Yanuar Bramuda, mantan kepala Dinas Pariwisata yang kini menjabat Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretaris daerah Kabupaten Banyuwangi.

Wa ba’du. Persembahan aransemen kolaboratif musik klasik dan musik tradisional Banyuwangi di konser akhir pekan lalu menjadi bukti.

Bahwa dua kutub musik yang selama ini berjauhan ternyata bisa bersanding. Akrab dan harmoni dalam satu panggung. Apalagi dibumbuhi tarian tradisional Bumi Blambangan, seperti saat komposisi Padang Ulan dimainkan.

‘’Ini membuktikan kepada kita semua, bahwa musik tradisional Banyuwangi itu cair. Bisa dikolaborasikan dengan jenis musik yang lain. Termasuk musik klasik seperti mala mini,’’ kata ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri.

*) Pekolom Banyuwangi

Editor : Ali Sodiqin
#blambangan #santika hotel #kolaborasi #seni musik #Musik Etnik #koplo #jazz #banyuwangi #dangdut