SALAH satu arti agro adalah ”produksi tanaman”. Maka, Anda harus memanggil sahabat baru saya dengan ”dokter Agro”. Kok bisa?
Iya. Bisa. Harus begitu. Karena faktanya ia seorang dokter. Sehari-hari berdinas di Puskesmas Srono, Banyuwangi.
Sepulang dari dinas, dia buka praktik. Bukan hanya di satu tempat. Tapi, dua sekaligus. Di klinik dan kebun. Di klinik ia berpraktik sebagai dokter gigi. Sedangkan di kebun ia merawat hampir seribu tanaman produktif.
Jarak dua tempat praktiknya itu, kebetulan, tidak jauh. Hanya 100-an meter. Dia lebih suka berjalan kaki. Dari klinik ke kebun. Tapi terkadang juga naik motor butut kebanggaannya. Meski motor tua itu sudah mulai kehilangan warna aslinya.
Dua praktik itu bisa dijalankan sekaligus. Secara bersamaan. Ketika sedang tidak ada pasien, ia pergi ke kebun. Sebaliknya, ketika asyik merawat tanaman di kebun dan tiba-tiba ada pasien di klinik, ia pun bergegas pulang. Ganti baju ”pekebun” dengan ”baju dokter”. Lalu melayani pasien yang telah menunggunya.
Setelah urusan pasien beres dan matahari belum tenggelam sempurna ditelan bumi, ia buru-buru balik ke kebun. Gentian melayani pasien kesayangannya: hampir seribu tanaman produktif. Mulai kelengkeng, jambu kristal, kelapa, jeruk, dan lain-lain.
Sulit untuk mendefinisikan. Apakah pekerjaannya di kebun sebagai kerjaan sampingan. Atau bisa jadi malah kebalik: sesungguhnya yang sampingan adalah pekerjaannya sebagai dokter gigi. Pasalnya, kedua kesibukan itu sama-sama ia hayati. Sama-sama dilakukan dengan sepenuh hati. Yang ia lakukan di kebun sama hebatnya dengan yang dilakukannya di klinik dan di tempat dinasnya.
Ia pun membuka kartu. Kesukaannya sama tanaman sudah tumbuh sejak kecil. Berkebun menjadi hobinya. Tapi, karena orang tua memintanya kuliah di kedokteran, ia tidak bisa menolak. ”Saya jalani keinginan orang tua. Dan, saya pun lulus. Menjadi dokter. Ibu saya senang. Tapi berkebun tetap jalan. Bahkan, setelah menjadi dokter makin gemar tanam tanaman produktif,” jelasnya.
Sekitar satu jam, ia ngobrol sama saya. Di tengah kebun miliknya. Sepanjang mata memandang, yang tampak ratusan pohon kelengkeng yang sedang berbuah. Dibungkus jaring khusus buah. Agar tidak ”dipanen” burung dan codot. Kelengkeng-kelengkeng siap panen itu tinggal menggunting tangkainya. Tidak perlu repot-repot cari tangga. Karena pohonnya tidak tinggi-tinggi amat. Hanya setinggi orang dewasa!
Pohon-pohon kelengkeng itu ditanam 19 tahun silam. Ketika anak sahabat saya berusia tiga tahun. ”Anak saya ketika itu berusia tiga tahun. Dia menemani saya, ikut menanam kelengkeng ini,” kenangnya sambil menunjuk ke pohon kelengkeng (Dimocarpus longan) dengan buah lebatnya. ”Sekarang anak saya sudah umur 22 tahun. Dia sedang koas (co-ass: program profesi yang harus dilakukan oleh mahasiswa Prodi Kedokteran untuk mendapatkan gelar dokter, dilaksanakan di rumah sakit dalam waktu dua tahun) di Mojokerto,’’ tambahnya.
Ide membuat kebun tanaman produktif tebersit puluhan tahun silam. Sesaat setelah ia pulang dari pembukaan Kusuma Agrowisata, Batu, Malang. ”Kebetulan pemiliknya teman saya. Dia meminta saya hadir melihat acara pembukaan Kusuma Agrowisata miliknya,” tuturnya.
Sejak saat itu, ia terus kepikiran. ”Kenapa saya tidak membuat agrowisata juga. Memanfaatkan lahan yang saya miliki,” pikirnya. Pelan-pelan, saat waktu senggang ia mulai membeli dan menanam kelengkeng. Bibitnya berasal dari berbagai daerah. Ratusan pohon kelengkeng itu ia sulam dengan jeruk, jambu kristal, dan beberapa kelapa.
Sejak beberapa tahun belakangan, tanaman-tanaman itu berbuah. Sangat produktif. Senang melihatnya. Keinginan lama membuat agrowisata sahabat saya hampir mendekati kenyataan. Dia berencana mendirikan saung. Bangunan semacam balai bengong khusus untuk pengunjung menunggu. Atau menikmati buah baru dipetiknya langsung dari pohon. Lahan dekat saung yang masih berupa hamparan rumput akan dibuatnya lokasi parkir. Agar pengunjung nyaman.
Lokasi calon destinasi agrowisata itu berada di tengah kota. Di Jalan Brawijaya. Hanya sekitar 100 meter dari kantor saya, Jawa Pos Radar Banyuwangi. Tepatnya, di sisi selatan. Tanaman-tanaman kelengkengnya terlihat jelas dari teras ruang kerja saya: Gedung Grha Pena Banyuwangi, lantai 2,5.
Lokasi tepatnya persis di seberang gerbang masuk Perumahan Kebalenan Baru 1 dan Klinik Brawijaya. Barat jalan. Sementara dipagari tanaman hidup. Namun, ada pintu di bagian tengah pagar. Kecil. Sekitar 1,5 meter. Untuk tahu agrowisata petik kelengkengnya buka cukup melihat tanda khusus. Bila di bahu jalan depan pintunya ada setangkai lengkap buah kelengkeng digantung di tiang, berarti buka. Bila mujur, kita akan bertemu langsung dengan pemiliknya.
Yakni, drg Ketut Wiguna.
Wa ba’du. Dokter yang petani-pekebun itu mengingatkan pada dua teman saya. Yang sama anehnya. Yakni, dr Wirianto dan dr Purwanto. Dua nama terakhir itu juga ”gila” bertani-berkebun. Suka sekali ke sawah dan kebun. Tentu saja, sawah dan kebunnya sendiri. Dokter Wirianto masih sering mengirimi saya buah naga dan rambutan yang baru dipetiknya. Untuk ditiliki. ”Saya baru panen, silakan dirasakan, Pak,” katanya singkat setelah menyerahkan rambutan dan atau buah naga yang baru dipetiknya, lalu balik pulang.
Pun dokter Purwanto. Pria yang sedang berada di Tanah Suci itu rajin mengirimi foto-foto saat dirinya berada di tengah hamparan tanaman padi yang menguning. Di lain kesempatan, ia kirim foto dan video buah jeruk yang bergelantungan di ratusan pohon jeruk miliknya. Ia yang memberi tahu saya, ia juga mulai beternak sapi.
Ketiga teman dokter saya itu ndilalah punya sifat yang sama. Sama-sama menyayangi tanaman dan pasiennya. Ada saja yang cerita ke saya. Tentang kebaikan mereka.
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Salis Ali Muhyidin