BICARA tentang pengurus masjid, bayangan kita langsung nyantol pada takmir. Memang tidak bisa disangkal.
Ketika berurusan dengan masjid, jemaah atau masyarakat umum selalu ”berhadapan” dengan takmir.
Sebab, takmirlah penanggung jawab rumah tangga masjid. Mulai dari penggalangan dana sampai menyusun program pemakmuran tempat ibadah kaum muslimin.
Selain takmir, ada elemen kecil dalam masjid. Bisa jadi ia menjadi elemen paling kecil. Entah, elemen itu masuk dalam struktur organisasi masjid.
Baik yang sudah berstatus yayasan maupun yang masih konvensional. Elemen terkecil itu bernama marbot.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kita tidak akan menemukan lema marbot.
Sebab, KBBI mencatatnya dengan lema marbut dengan arti ”penjaga dan pengurus masjid”. Marbut serapan dari bahasa Arab. Dari akar kata rabatha-yarbuthu-rabthan. Artinya ’yang terikat’.
Terikat apa? Terikat dengan masjid, jiwa dan raganya. Baik dalam urusan ibadah maupun khidmah (kegiatan, pengabdian, dan sekaligus pelayanan).
Kegiatan rutin marbot adalah membersihkan masjid. Namun, ia juga bertanggung jawab pada kelancaran ibadah di dalam masjid.
Misal, ketika muazin yang dijadwal belum/tidak datang, marbot mengambil alih tugas tersebut. Ia segera mengumandangkan azan.
Tak sulit menemukan sosok marbot di dalam masjid. Penampilannya membuat jemaah mudah mengenalinya.
Sebab, memang, sangat berbeda dengan pengurus takmir umumnya. Entah karena minder atau karena alasan yang lain.
Tapi ketika berada di masjid, saya dengan cepat bisa mengenali marbot dari kesibukannya. Coba sesekali datang lebih awal di masjid.
Perhatikan setiap orang yang ada. Cari yang paling sibuk. Ketika pengurus takmir datang langsung masuk dan duduk di dalam saf (biasanya di barisan paling depan), marbot sibuk menyiapkan peralatan untuk memperlancar ibadah.
Mulai mengecek dan menyiapkan mik, menghidupkan AC atau kipas angin, hingga memastikan kotak-kotak amal siap di tempatnya.
Bahkan, bila kita datang lebih awal lagi di masjid, kita akan bertemu marbot yang sibuk menyapu halaman masjid—juga lantai teras dan lantai dalam masjid. Ketika menjumpainya saya langsung bisa mengenalinya—meski tanpa menanyakan kebenarannya. Lalu menyalaminya dan menyerahkan sedikit infak.
Saya beruntung sudah mengenal ciri-ciri marbot sejak kecil. Ketika kecil hingga menjelang dewasa, saya melihat marbot usianya sudah tua-tua.
Sebagian ada yang dewasa. Itu pun menjelang tua. Saya tidak tahu persis kenapa orang tua dan dewasa yang tertarik menjadi marbot.
Tapi, seiring perkembangan zaman, kini sudah mulai banyak anak muda menjadi marbot.
Terutama di masjid-masjid di kota. Mereka mengabdikan diri menjadi ”pelayan” masjid. Dan, ikhlas menjalani pekerjaan mulia itu.
Ketertarikan generasi muda menjadi marbot sangat menggembirakan. Meski belum begitu banyak jumlahnya.
Anung Winahyu salah satu dari yang sedikit itu. Dia menjadi marbot Masjid Pangeran Diponegoro Jogjakarta.
Kisah Anung sangat menginspirasi. Marbot masjid yang berada di kompleks Balai Kota Jogjakarta itu merasa, pengabdiannya menjaga rumah Allah SWT membawa berkah sendiri.
Baginya, masjid menjadi sarana strategis dalam pengembangan diri dan karakter.
Karena marbot muda, Anung bisa berinteraksi dengan jemaah lain. Itu memupuk dan membentuk jiwa sosialnya.
Berkat pergaulan antarsesama marbot, Anung termotivasi melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Dia pun berkuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Masjid Syuhada (STAIMS) Jogjakarta.
”Saya melihat teman-teman marbot banyak yang nyambi kuliah. Dari situ saya termotivasi. Akhirnya, saya ambil jurusan Pendidikan Agama Islam di STAIMS Jogjakarta,” kenang Anung.
Anung harus pandai mengatur waktu. Kuliahnya tidak boleh terganggu. Atau mengganggu tugas utama sebagai marbot.
Layaknya merawat rumah, tangan Anung harus membuat lantai masjid selalu tampak kinclong. Bukan hanya berhenti di situ. Tempat wudu sampai halaman dan pekarangan masjid pun harus bersih.
Wa ba’du. Marbot pasti makin sibuk. Harus menyiapkan masjid sebagai tempat ibadah Ramadan senyaman mungkin.
Mulai dari buka bersama, tarawih, tadarus, hingga iktikaf (kalau ada).
Tapi, tugas mereka bisa jadi makin ringan. Karena tiba-tiba takmir yang tak begitu aktif, mendadak aktif selama Ramadan.
Biasanya juga ada sebagian jemaah yang ikut membantu membersihkan masjid.
Tapi, bagaimanapun ada satu hal penting dan urgen untuk marbot. Yakni, perlindungan diri. Marbot ”tidak boleh sakit”.
Kalaupun sakit tidak boleh lama-lama. Harus cepat sembuhnya. Untuk sembuh harus berobat. Untuk berobat harus bayar.
Sulit bagi marbot yang bekerja karena ikhlas untuk memikirkan berobat.
Berulang kali saya menangkap rona kegembiraan yang luar biasa, ketika seorang marbot menerima sedekah dari saya.
Sejak itu saya berusaha memberi salam tempel sekadarnya kepada marbot saat numpang salat di masjidnya. Tapi, sekarang saya senang. Ada pihak yang mulai peduli terhadap marbot.
Yakni, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Banyuwangi dan Pemkab Banyuwangi. Menggandeng BPJS Ketenagakerjaan, Baznas bersama pemkab sudah membayar premi perlindungan terhadap marbot yang bekerja merawat tempat ibadah.
Penyerahan secara simbolis bantuan BPJS Ketenagakerjaan kepada 800 marbot masjid dilakukan pada Rabu (28/2) oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas bersama Ketua Baznas Banyuwangi H Lukman Hakim.
Disaksikan oleh Kepala Bidang Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Moch. Mujibur Rochman.
Marbot yang menerima bantuan BPJS Ketenagakerjaan di Masjid Al Ikhlas, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran itu, baru sebagian kecil. Masih ada 1.000 marbot yang menunggu bantuan. Siapa mau?
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin