Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dukun Mantap

Samsudin Adlawi • Kamis, 22 Februari 2024 - 15:33 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi*
Oleh: Samsudin Adlawi*

TERPESONA sejak pandangan pertama. Itu yang saya alami. Saat berada di Bandara Abu Dhabi. Tepatnya, saat hendak masuk ke dalam pesawat Etihad Airways. Yang akan menerbangkan saya ke Bandara Istanbul, Turkiye, akhir pekan Januari lalu.

Saat itu, saya dan rombongan sedang boarding. Staf maskapai tak hanya menanyakan tiket penumpang. Mereka juga memeriksa bawaan penumpang. Yang bawa koper (meski kecil) diarahkan ke staf lain di sampingnya. Untuk dilabeli. Label khusus untuk bagasi pesawat. Sedangkan yang tidak bawa koper dipersilakan langsung masuk. Menuju arah garbarata.

Perlakuan itu agak nyeleneh. Tidak lazim. Layaknya ketika kita naik pesawat yang lain. Di mana setiap penumpang tidak dilarang membawa koper kecil. Untuk diletakkan di kabin. Persisnya di langit-langit pesawat. Yang membentang di atas tempat duduk penumpang.

Namun, konon, aturan dadakan seperti itu sering diterapkan. Yakni, ketika kabin pesawat sudah overcapacity. ”Aturannya, penumpang hanya boleh membawa satu travel bag. Atau bawa koper kecil berisi kamera dan laptop,” kata Antonius Josef Cahyo Nugroho dari Wonderful Turkiye—pendamping rombongan.

”Tidak bisa,” protes salah satu anggota rombongan. ”Ini musti diluruskan. Koper kabin ini didesain khusus oleh pabriknya untuk ditaruh di kabin. Bukan untuk masuk bagasi. Kalau dipaksa harus masuk ke bagasi, itu melanggar aturan yang dibuat oleh perusahaannya sendiri tentang peruntukan koper kabin,” sergahnya.

Saya terhenyak. Yang disampaikan si Fulan itu masuk akal. Dan, kegigihannya menegakkan aturan membuat saya kagum. Saya diam-diam merasa mendapat ilmu darinya. ”Ia pasti bukan orang biasa,” kata saya dalam hati.      

Singkat cerita, Fulan batal menyampaikan protes. Karena waktu untuk terbang makin terbatas. Kami harus segera masuk pesawat. Alhamdulillah, akhirnya kami tetap bisa membawa koper kecil ke dalam pesawat. Dengan cara ”mengelabui” tiga staf maskapai yang memeriksa tas dan koper bawaan penumpang. Mereka berdiri tepat di depan mulut garbarata. Begitu melihat di koper penumpang ada label khusus yang dipasang temannya saat boarding, koper itu langsung diambilnya. ”Diamankan” ke dalam bagasi pesawat.

Lalu ke mana lenyapnya label-label yang dilekatkan di koper-koper kami oleh staf maskapai tadi? Itu rahasia. Penasaran? Ingin tahu? Silakan DM saya. Bukan karena pelit informasi. Tapi lebih disebabkan karena trik itu nyerempet-nyerempet bahaya.  

Ngomong-omong, gerangan siapa sosok pemberani yang ngotot akan protes ke staf maskapai tadi? Kenapa pula saya terpesona kepadanya?

Saya terpesona karena dia berani menyoal aturan yang ”menabrak aturan”. Lebih-lebih protesnya dilakukan saat injury time. Ketika penumpang yang lain—termasuk saya—memilih untuk pasrah. Menerima aturan aneh dengan hati menggondok.

Kolonel (Pur) dr Andi Irwan Tallu Rahim.
Kolonel (Pur) dr Andi Irwan Tallu Rahim.

Pemberani yang memesona saya itu bernama Andi Irwan Tallu Rahim. Umurnya sudah tidak muda lagi. Malah, usianya yang 71 tahun tercatat sebagai anggota rombongan tertua. Karenanya, kami sepakat memanggilnya Opa. Meski begitu, penampilan Opa cukup Mboys. Bahkan, lebih perlente dari anggota rombongan yang muda-muda. Hahaha….

Naluri jurnalistik saya langsung bekerja. Menelisik jati diri Opa. Ternyata dia memang orang luar biasa. Menjadi aktivis saat kuliah. Sempat jadi anak teknik. Tapi itu tak lama. Dia pindah kedokteran. Lalu menjadi dokter setelah lulus kuliah. Itu pun bukan dokter biasa. Opa tercatat sebagai dokter yang tentara atau tentara yang dokter. Kok bisa?

Begitu lulus koasasal istilah dari istilah asing co-assistant atau biasa disingkat co-ass. Yakni, program profesi yang harus dilakukan oleh mahasiswa kedokteran untuk mendapatkan gelar dokter, dilakukan di rumah sakit selama 1,5 tahun hingga 2 tahun, Opa langsung daftar wamil (wajib militer). Masuk. Seperti tentara umumnya, Opa juga mengalami mutasi ke sejumlah komando daerah militer. Seperti Bitung, Manado, Ternate, dan Palu. Termasuk dinas di dua wilayah konflik; Ambon dan Papua.

Ketika di Ambon, Opa menjadi salah satu saksi mata kerusuhan Ambon pada 1999–2002. ”Menurut cerita istri saya, beliau harus memulangkan istri dan anak-anaknya ke Makassar via pelabuhan. Sedangkan beliau harus tetap standby di Ambon,” tutur Muhammad Resha Irawan, menantu Opa.

Keluarga Opa sangat unik. Tiga anaknya dokter. Menantunya juga dokter semua. Kecuali Muhammad Resha Irawan seorang. Dia tercatat sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Kantor Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Sulawesi Selatan.

Jiwa aktivis Opa tak pernah padam. Dia tetap kreatif seperti saat kuliah. Tepatnya jadi panitia Posma (Pekan Orientasi Mahasiswa).  Melihat suasana interaksi anggota rombongan kaku karena belum saling kenal, Opa langsung maju ke depan. Berdiri di dekat sopir. Dia memimpin yel-yel yang dibuatnya sendiri: ”Wonderful… Turkiye… / Kupluk-kupluk / Syaaal / Dingiiin / Yeeess”. Ice breaking Opa sukses. Suasana dalam bus tak lagi beku seperti cuaca di luar yang minus. 

Asyik mengobrol sama Opa. Orangnya humble, tapi selalu berapi-api saat bicara. Termasuk ketika menceritakan pengalamannya saat bertugas dalam misi khusus di Papua. Suatu saat ketika mengejar Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), empat prajurit yang bersamanya tertembak. Ada yang luka di leher tembus ke belakang, luka di pundak, kaki, dan perut. ”Dukun, tolong selamatkan nyawa mereka,” perintah komandan lapangan kepada Opa.

”Dukun,”  papar Opa, adalah sandi untuk dokter seperti Opa yang ikut dalam operasi khusus menjaga keamanan di Papua. ”Alhamdulillah, setelah saya tangani dengan cepat, nyawa mereka bisa diselamatkan,” kenang Opa.     

Wa ba’du. Saya baru ngeh kenapa Opa sampai berusaha keras bisa membawa koper kecil ke dalam pesawat. Jumlahnya dua. Satu miliknya. Satunya lagi milik istrinya, Nani Dya Laksmiwati, 69. Dua-duanya berwarna merah.

Koper ukuran tanggung dan mini itu tampaknya sangat privasi. Saya sempat ngintip isinya. Saat dibuka oleh si empunya. Dalam perjalanan dari Istanbul menuju Busa. Kebetulan saya duduk hanya dua deret di belakang kursi Opa dan Oma. Ternyata, selain barang yang sangat pribadi, koper itu berisi barang paling mahal. Terutama bagi Oma.

Saya kaget ketika Opa tiba-tiba tanya kepada putranya, dokter Andi Alamsyah Irwan dan dokter Rani Abdul Kadir Bachmid (menantunya): ”Sekarang jam berapa di Indonesia?” Rupanya sudah waktunya Oma minum obat. Dengan cekatan Opa mengambil beberapa obat dari koper merah kecil. Lalu dengan sabar dan penuh kasih sayang dia menyodorkannya kepada ”bidadari” yang dinikahinya saat koas. Oma langsung mengambilnya satu per satu dan meminumnya. Adegan yang romantis itu membuat saya iri. Apalagi, adegan yang sama beberapa kali saya lihat berulang-ulang. Baik ketika di dalam bus saat berpindah dari satu kota ke kota yang lain. Maupun saat sehabis makan di restoran hotel dan restoran di luar hotel.

Opa pensiun dengan pangkat kolonel. Kol (Pur) dr Andi Irwan Tallu Rahim kini menikmati hasil kerja kerasnya. ”Saya kini menjadi orang mantap, makan tabungan,” kata Opa kepada saya di lobi hotel kami menginap lalu tergelak bersama hahaha. Tabungannya cukup bukan hanya untuk dirinya. Melainkan untuk cucu-cucunya.

”Saya sudah siapkan lahan untuk biaya kuliah cucu-cucu saya. Karenanya saya bilang ke anak-anak, jangan menjual aset-aset tanah itu,” kata Opa yang menjadi pelajaran berharga bagi saya, dalam merancang masa depan pendidikan cucu-cucu saya, kelak. Terima kasih Opa. Sehat selalu Dukun Mantap! (Pekolom Banyuwangi)

Editor : Ali Sodiqin
#Turkiye #etihad airways #istanbul #pesawat #bandara abu dhabi