Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Menulis sambil Menatap Yunani

Samsudin Adlawi • Rabu, 24 Januari 2024 | 22:00 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi*
Oleh: Samsudin Adlawi*

CATATAN ini saya tulis dari barat Turkiye (nama Turki sekarang). Tepatnya, di Kusadasi. Sebuah kota pantai di Provinsi Aydin, Turkiye.

Kusadasi merupakan destinasi wisata. Sangat populer bagi wisatawan domestik. Juga mancanegara.

Lokasi Kusadasi cukup strategis. Berada di tepi Laut Aegea. Keindahan pantainya menakjubkan.

Air lautnya jernih. Ditambah pemandangan matahari terbenam (sunset) yang memukau.

Saya tulis catatan ini dalam kondisi tidak seperti biasanya. Dari balkon Hotel Le Bleu, jemari saya lincah menari di toot handphone (HP).

Sambil memandangi negara Yunani di seberang. Hanya selemparan bola mata. Mirip Ketapang–Gilimanuk jaraknya.

Sesekali kapal pesiar dan feri lalu-lalang. Burung camar terbang rendah. Memamerkan sayapnya.

Suhu udara 4 derajat merajam tubuh. Meski sudah terbungkus jaket tebal. Ditambah angin berkecepatan 47 knot/jam.

Tapi tulisan ini harus selesai. Sudah ditunggu sama Rahman Bayu Saksono, GM sekali redaktur artikel Jawa Pos Radar Banyuwangi.

Ya, Turkiye sekarang sedang musim dingin. Suhu antarkotanya berkisar -6 sampai 8 derajat.

Itu sebabnya, selama perjalanan dari Bandara Istanbul, saya jarang sekali melihat dan bertemu dengan warga setempat.

Memang, saat musim dingin warga Turkiye memilih tinggal di dalam rumah.

Menghidupkan gas panas alami dari geotermal yang bertebaran di Turkiye, untuk menghangatkan tubuh mereka.

Kusadasi kotanya tidak terlalu besar. Tapi menyimpan lembaran sejarah besar bagi Turkiye. Bahkan, bagi dunia.

Kusadasi memiliki sejarah panjang dan kaya. Pada zaman kuno, kota itu dikenal sebagai Efes, merupakan salah satu kota terpenting di Yunani Kuno.

Efes terkenal dengan kuil-kuil dan bangunan megah, ketika itu. Sebut saja Kuil Artemis yang masuk dalam Tujuh Keajaiban Dunia Kuno.

Selain itu, selama berabad-abad Kusadasi menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan penting.

Peninggalan sejarah yang kaya itu masih bisa dilihat hingga saat ini. Melalui situs arkeologi di Kusadasi.

Ada pula Ephesus. Berupa reruntuhan ibu kota kekaisaran Romawi. Sebelum dipindah ke Roma oleh Konstantinopel.

Meski 75 persen berupa reruntuhan, saya masih bisa merasakan keagungannya.

Terutama dari lantai marmernya. Yang membentang dari gerbang masuk sampai ke kastilnya.

Kusadasi menjadi pintu keluar bagi musuh terakhir Turkiye. Yakni Yunani.

Saat itu pasukan Mustofa Attaturk berhasil mengusir pasukan Yunani dari Izmir.

Dari catatan sejarah, Yunani menguasai Turkiye sejak 3000 tahun silam.

Singkat kisah, setelah Perang Dunia 1, lahir perjanjian unik. Yakni pertukaran penduduk.

Saat itu, pada 1924 (setelah Mustofa Attaturk mendirikan Republik Turkiye), sebanyak dua juta orang Yunani beragama Kristen yang berada di Turkiye, ditukar dengan Turkiye di Yunani. Bukan hanya yang Muslim tapi juga yang Kristiani.

Setelah peristiwa itu, tak ada lagi orang Yunani di Turkiye. Sekarang pun jarang ada orang Yunani di Negara Gerbang Timur dan Barat (sebutan Turkiye). Apalagi, di musim dingin seperti sekarang.

Saat musim panas, mereka datang ke Turkiye untuk belanja. Karena harga-harga di Turkiye lebih murah. Setelah belanja mereka langsung balik lagi ke negaranya.

Beruntung saya bisa ke Kusadasi saat musim dingin. Suasananya lebih tenang. Nyaman. Tidak terlalu ramai seperti musim panas. Saat tiba musim panas,

Kusadasi yang berada di barat Turkiye dan menghadap langsung ke Yunani, dibanjiri wisatawan Eropa.

Dengan suasana seperti itu pasti saya tidak bisa menyelesaikan tulisan ini.

*) Pekolom Banyuwangi

Editor : Ali Sodiqin
#Turkiye #man nahnu #yunani #samsudin adlawi