IDEALNYA lebih bagus. Begitu komentar Kang Hasan (Hasan Basri, yang terpilih kembali sebagai ketua dalam Musda DKB, akhir Desember lalu) tentang Banyuwangi Festival (BWI-Fest) 2024.
Komentar itu masuk akal. Sebab, 79 event dalam BWI-Fest 2024 merupakan event terpilih. Sudah lolos dalam proses kurasi yang ketat. Dan, Kang Hasan menjadi salah satu tim kuratornya bersama saya.
Tim kurator BWI-Fest 2024 bukan hanya berisi pejabat di Dinas Pariwisata Banyuwangi. Tapi juga melibatkan stakeholder yang berkompeten di bidangnya, namun masih terkait dengan perkembangan seni dan pariwisata.
Selain saya dan Kang Hasan, pihak luar yang masuk dalam tim kurator antara lain Farizqi Panduardi dan Aditya Wiralatief Sanjaya (akademisi Poliwangi), serta Vicky Hendri Kurniawan (Ketua BYCN).
Lewat diskusi (dan juga perdebatan sengit), tim kurator dengan terpaksa menolak beberapa event. Baik yang diajukan oleh individu, kelompok masyarakat, maupun kantor/instansi pemerintah dan swasta. Penolakannya lebih didasarkan pada skala/kelas event-nya dan juga kualitas materinya.
Sebaliknya, yang dinyatakan lolos pun masih banyak yang mendapat catatan. Alias, lolos dengan catatan. Kelompok itu umumnya merupakan event yang sudah digelar beberapa kali dalam BWI-Fest 2024. Catatan besar untuk kelompok tersebut ada dua. Materinya harus digarap lebih serius. Tidak boleh sama persis dengan event sebelum-sebelumnya.
Agar tidak muncul kesan ”asal menggugurkan kewajiban”. Panitia event-nya harus menggali dan mengeksplorasi potensi-potensi yang belum muncul dalam event sebelumnya.
Selain materi, tim kurator juga meminta penyelenggara event langganan BWI-Fest 2024 untuk kembali kepada visi awal event-nya. Bahwa event-event dalam BWI-Fest 2024 tidak boleh meninggalkan kearifan lokal Bumi Blambangan.
Event musik modern, misalnya, tidak dilarang dalam BWI-Fest 2024. Yang tidak boleh adalah, materi event-nya 100 persen modern. Dari awal sampai akhir pertunjukannya.
Apa pun event-nya harus menampilkan minimal salah satu potensi seni asli Banyuwangi. Baik itu untuk mengisi pembuka pertunjukan.
Maupun ditaruh di tengah dan atau terakhir. Lebih bagus lagi bila dikolaborasikan dengan event yang ditampilkan. Apa bisa?
Bisa!
Kita sudah pernah melakukannya. Silakan buka rekaman event-event (terutama musik) di awal pelaksanaan BWI-Fest.
Adalah event Jazz Pantai (Banyuwangi Beach Jazz Festival) yang bisa dijadikan contoh baik bagi penyelenggara event dalam BWI Fest 2024.
Di awal-awal penyelenggaraannya, pergelaran musik jazz di Pantai Boom itu mentradisikan kolaborasi antara musik tamu yang notabene beraliran modern dengan musik tradisional Banyuwangi.
Ketika itu, Bupati Abdullah Azwar Anas mewanti-wanti dengan keras bahwa musik modern boleh datang dan tampil di kota the Sunrise of Java.
Musisi top Indonesia boleh manggung di Banyuwangi. Tapi harus diingat, mereka harus berkolaborasi dengan seniman lokal. Harus ”nggendong” seniman tuan rumah.
”Dengan begitu, seni dan seniman Banyuwangi akan ikut terangkat. Menjadi terkenal berkat event musik yang mengajaknya kolaborasi,” ujarnya.
Seni dan seniman Kota Gandrung yang diajak kolaborasi bukan sebagai ”penggugur syarat” saja. Bukan sekadar tempelan saja.
Melainkan terlibat serius mulai dari proses penggarapan konsernya. Buktinya, kolaborasi mereka menyuguhkan sajian musik berkelas.
Tengok saja Jazz Pantai 2013. Ketika itu, Syaharani berkolaborasi dengan Gandrung Temu Misti. Bukan lagu Diva Jazz Indonesia itu yang dibawakan bersama dengan Mbok Temu.
Tapi, justru sebaliknya, lagu khas Banyuwangi yang dinyanyikan Syaharani bersama Mbok Temu. Hasilnya luar biasa. Dahsyat.
Suara khas Syaharani bersahut-sahutan dengan lengking laik-laik Gandrung Mbok Temu. Menggetarkan panggung dan jantung penonton Jazz Pantai 2013.
Mereka menyanyikan laku Pethetan. Saya tahu persis, bagaimana kesungguhan Syaharani mempelajari lagu karya Andang C.Y. (alm) itu.
Lewat sahabatnya yang berdinas di Pemkab Banyuwangi Agus Nur Ahmadi (alm), Syaharani minta dikirimi lagu Pethetan. Lalu dipelajarinya. Dia rekam. Lalu dikirim ke Banyuwangi.
Oleh Kang Agus dilanjutkan ke Mbok Temu. Dipelajari oleh Mbok Temu. Dan, akhirnya, mereka berlatih bersama saat gladi.
/Pethetan/yo kembang pethetan/Kembang ilang/isun kang kelangan/Masiyo mung kembang/piro regane kembang/Tapi kang ilang/kembange kembang/
Syair lagu berbahasa Oseng itu dilantunkan Syaharani bersama kelompoknya, Syaharani and Queenfireworks di panggung Banyuwangi Beach Jazz Festival 2013. Sekitar 2.000 penonton tersihir.
Sebenarnya, Pethetan adalah lagu sedih. Tapi tim musik Syaharani mengaransemen ulang bersama pemusik etnik lokal Banyuwangi.
Iramanya punya menjadi agak nge-dance. Lebih nge-jazz. Kolaborasi itu sukses. Mbok Temu masih bisa merespons aransemen baru itu lewat tarian dan nyanyian.
Bahkan, ia tampil spektakuler. Tubuhnya gemulai mengikuti musik kolaborasi dan suara melengkingnya mengimbangi suara Syaharani yang nge-jazz. Syaharani pun kagum dengan totalitas Mbok Temu dalam berkesenian.
”Orangnya energik, suaranya indah. Saya selalu terharu melihat kekayaan budaya lokal seperti ini,” ujar Rani seraya menitikkan air mata di panggung.
Bukan hanya Pethetan yang di-jazz-kan saat itu. Ulan Andong-Andong juga mendadak populer setelah dinyanyikan oleh Trio Lestari (Glenn Fredly, Sandhy Sondoro, dan Tompi) di panggung sama.
Kolaborasi lokal-modern kembali terjadi pada pergelaran Jazz Pantai 2014. KUA Etnika pimpinan Djaduk Ferianto (alm) sukses membuka Jazz Pantai 2014 dengan kolaborasi bersama seni Kuntulan Banyuwangi. Djaduk merangkul seniman musik dan tari tradisional Banyuwangi Sayun Sisianto (alm). Sayun melibatkan 70 penerbang (penabuh rebana) pilihan dari seluruh Banyuwangi. Djaduk berhasil mengawinkan jazz etnik khas KUA Etnika dengan rancak tabuhan rebana menjadi sebuah pertunjukan musik spektakuler.
Di akhir pertunjukan, KUA Etnika kembali manggung. Tidak hanya kolaborasi dengan pemusik terbang Bumi Blambangan.
Kali ini, mereka tampil bersama Trie Utami. Membawakan komposisi musik berjudul Kupu Tarung. Sebuah komposisi ciptaan Djaduk Ferianto. Lagu itu dia ciptakan saat menimba ilmu di Banyuwangi pada 2000.
Djaduk terus terang mengakui, Kupu Tarung terilhami kesenian Banyuwangi. Seperti Angklung Caruk dan Kuntulan Caruk.
”Saya sempat belajar dari pemusik Banyuwangi. Kupu Tarung ini saya ciptakan di Banyuwangi. Makanya saya kembalikan lagi ke habitatnya,” kata Djaduk kala itu. Hebatnya, Kupu Tarung telah dipentaskan KUA Etnika selama tur di Eropa dan Australia.
Wa ba’du. Alasan tim kurator meminta materi event BWI-Fest 2024 kembali seperti di awal-awal event terbesar di Indonesia itu dihelat sangat jelas. Bahwa seni Banyuwangi tidak boleh ditinggalkan.
Kita boleh silau terhadap musik modern. Tapi, jangan pernah melupakan musik lokal. Undang pemusik-pemusik luar kota, musisi top, dan beken. Tapi, mereka harus mau kolaborasi dengan musisi lokal.
Kalau tidak mau, jangan diundang. Cari yang lain. Yang mau berkreasi dengan musisi lokal. Syaharani, Trie Utami, Trio Lestari, KUA Etnika yang sudah punya nama besar saja mau, masak yang lain tidak mau.
Pernyataan tegas Pak Abdullah Azwar Anas (saat menjadi bupati) ini harus dijadikan pegangan bagi siapa pun yang hendak mengundang musisi Indonesia tampil ke Banyuwangi:
”Perpaduan antara unsur lokal dan modern memang menjadi keharusan dari berbagai acara dalam rangkaian Festival Banyuwangi, termasuk Festival Jazz Pantai Banyuwangi.
Dengan perhelatan seperti ini, budaya lokal bergaul dengan publik global. Dengan demikian, diharapkan tumbuh budaya saling mengapresiasi, saling menghargai, bukan saling menegasikan antara lokal dan global.
Lewat berpadunya elemen budaya lokal dengan elemen musik modern itu diharapkan pula lahir kesadaran bahwa dalam kesenian tidak ada keindahan tunggal,” tandas Anas usai menonton Jazz Pantai 2014.
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin