Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Spekta Rebanana 2023

Samsudin Adlawi • Selasa, 2 Januari 2024 | 22:30 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi*
Oleh: Samsudin Adlawi*

”INI rekor. Dalam setahun, Rebanana bisa tampil sampai tiga kali.”

Itu pernyataan spontan. Keluar dari mulut Adlin Mustika. Di halaman kantor Balai Desa Lugjag, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.

Menjelang pergantian tahun 2023 ke 2024. ”Benar, ini rekor luar biasa,” kata Adlin, sekali lagi, meyakinkan saya.

Ya. Kemarin malam (31/12/23), kami memang sedang menyiapkan penampilan hadrah kolosal. Kebetulan, Rebanana dipercaya untuk mengisi hadrah kolosal itu.

Sebagai bagian dari rangkaian Festival Old & New Refleksi Akhir Tahun (FONRAT).  Penyelenggaranya Pemkab Banyuwangi.

Tidak seperti sebelum-sebelumnya di mana acara serupa selalu digelar di lapangan Taman Blambangan, acara kali ini digelar di wilayah Kecamatan Rogojampi.

”Kami senang dan bangga. Ini yang pertama, Rogojampi dipercaya menjadi lokasi acara besar seperti. Rakyat Rogojampi sangat gembira mendapat kepercayaan besar dari Pemkab Banyuwangi,” ujar Camat Rogojampi Danisworo.

Sebagai lapangan desa, Lapangan Lugjag tidak begitu besar. Tidak sebesar Lapangan Maron di Genteng. Atau, bahkan, lapangan Taman Blambangan di jantung kota Banyuwangi.

Menyesuaikan luasan lapangan, Ketua Panitia FONRAT Yusdi Irawan meminta manajemen Rebanana menyiapkan personel lebih sedikit dari acara sebelumnya.

Bila pada acara malam puncak Harjaba (Hari Jadi Banyuwangi) pada 18 Desember 2023 lalu, Rebanana melibatkan 252 pemain, maka pada acara FONRAT hanya diisi 131 personel.

Durasinya pun lebih pendek—meski materinya 90 persen sama. Tapi, memang tidak mudah memangkas materi sebuah pertunjukan menjadi lebih pendek.

Faktor kesulitannya kurang lebih sama dengan ketika menggarap konsep pertunjukan sebelumnya.

Butuh perombakan sana-sini: mengurangi sekaligus menambahi. Bahkan, menambal yang sekiranya dinilai kurang atau bercela dari sisi musikalisasi.

Intinya, tim komposer punya prinsip bahwa sebuah pertunjukan harus digarap serius. Bukan hanya saat latihan dan penampilan.

Melainkan sejak membuat konsep pertunjukannya. Bahkan, porsi pembuatan konsep itu menghabiskan waktu sepertiga dari total waktu pertunjukannya sendiri.

Momen penting itu menuntut fokus yang total dari beberapa anggota tim komposer. Mereka mula-mula memilih komposisi (lagu) apa saja yang akan dimainkan.

Komposisi-komposisi itu akan disajikan dalam berapa genre. Setelah ketemu jenis genrenya lewat riset, baru dikompromikan dengan durasi waktu yang diminta panitia.

Tidak cukup sehari menggarap konsep itu. Banyak pertimbangan yang harus diperhatikan. Tidak heran bila menghabiskan waktu berhari-hari.

Bahkan, saat memasuki tahap akhir berupa recording, selama ini selalu selesai sampai dini hari!

Bagi tim Rebanana, kesempurnaan proses itu merupakan sebuah kewajiban. Sebagai aspek profesionalitas.

Alhamdulillah, dengan prinsip kerja seperti itu, dan melalui proses latihan sangat melelahkan—bermandikan keringat dan menguras emosi, penampilan Rebanana mendapat apresiasi luar biasa dari penonton.

Mulai dari penonton biasa hingga para penikmat dan pemerhati musik. Utamanya musik etnik/tradisional. Bukan hanya saat penampilan terakhir di acara FONRAT.

Melainkan juga saat tampil di acara malam puncak peringatan Harjaba ke-252 Banyuwangi, pertengahan Desember kemarin.

Bahkan, saat tampil spektakuler di acara Festival Tradisi Islam Nusantara di Stadion Diponegoro, Banyuwangi, pada 9 Januari 2023, Rebanana yang menampilkan 500 personel (penerbang, penari, Banser, dan Pagar Nusa) mampu menyihir Presiden Joko Widodo.

Dari panggung utama, Presiden Jokowi dan para undangan VVIP tampak terkagum-kagum. Mereka terus mengembangkan senyum dan beberapa kali tangan mereka sibuk bertepuk sebagai apresiasi.

Para tokoh yang menyaksikan aksi grup Rebanana, antara lain: Menteri BUMN Erick Thohir, Menko Polhukam Mahfud MD, Menpan-RB Abdullah Azwar Anas, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Sekjen PBNU KH Saifullah Yusuf, Ketua Badan Pengembangan Inovasi Strategis PBNU Zabuba Arifah Hafsoh alias Yenni Wahid, dan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

Wa ba’du. Benar-benar di luar dugaan. Rebanana bisa tampil tiga kali dalam setahun selama 2023. Tiga-tiganya kolosal!

Dan, ketiga tampilan itu boleh dibilang sukses. Mendapat sambutan sangat luar biasa dari masyarakat. Tentu, itu sangat membanggakan. Membahagiakan. Sebab, misi dari manajemen Rebanana tercapai.

Adapun misi tim Rebanana adalah, nguri-uri atau menghidup-hidupkan kembali kekayaan seni Bumi Blambangan yang pernah jaya di masa lalu. Sekadar tahu, dulu Kota Gandrung punya seni rodat syi’iran dan juga hadrah kuntulan.

Belakangan dua kesenian itu redup. Tergerus oleh modernisasi. Anak-anak muda banyak yang meninggalkannya.

Misi kedua menumbuhkan kebanggaan. Alhamdulillah, pada penampilan perdana di Festival Tradisi Islam Nusantara, tim Rebanana berhasil mengangkat ”derajat” sahabat-sahabat Banser dan Pagar Nusa.

Bila selama ini Banser dan Pagar Nusa asyik dengan kegiatan sendiri, maka sejak tampil bersama Rebanana di Festival Tradisi Islam Nusantara derajat kedua lembaga dalam tubuh NU itu naik drastis.

Bahwa Banser dan Pagar Nusa sekarang sudah bisa melakukan gerakan-gerakan koreografi. Sekarang, hampir semua kegiatan NU selalu menampilkan aksi sahabat Banser.

Misi terakhir dirasakan oleh para pelajar. Rebanana berkomitmen untuk terus menjadikan pelajar Banyuwangi sebagai bagian dari konsep-konsep penampilannya.

Sebab, manajemen Rebanana ingin menjalankan proses regenerasi seniman. Khususnya, seni hadrah.

Alhamdulillah, sudah hampir 1.000 penerbang pelajar lahir selama tiga kali penampilan Rebanana. Sekolah-sekolah pun sekarang mulai menggiatkan ekstrakurikuler terbang.

Dan, bahkan, Dinas Pendidikan Banyuwangi sudah mengagendakan Festival Hadrah/Rebana 2024 khusus untuk pelajar di Banyuwangi.

Terakhir, saya harus menjawab pertanyaan kapan sebenarnya Rebanana lahir. Jawaban saya tegas.

Grup hadrah klasik Rebanana lahir bertepatan dengan ulang tahun ke-100 NU. Momentum seabad NU itu mudah-mudahan membawa berkah bagi Rebanana.

Sebagai pembina, saya dan Hasan Basri (Ketua DKB) masih punya tugas panjang mengembangkan Rebanana.

Tapi setidaknya kami sudah berhasil mewujudkan keinginan Pak Anas (Menpan-RB Abdullah Azwar Anas) saat menjadi bupati Banyuwangi dulu. Yakni, Banyuwangi harus punya event hadrah kolosal! (Pekolom Banyuwangi)

 

 

  

Editor : Ali Sodiqin
#Kolosal #tradisional #festival #hadrah #man nahnu #Rebana #banyuwangi #samsudin adlawi