Saya bersyukur bisa ikut acara Refleksi Sastra (Puisi) Akhir Tahun 2023. Meski hanya dalam kotak komputer jinjing lewat terowongan waktu bernama tautan Zoom.
Acara penting itu digelar Minggu malam (24/12/23). Penyelenggaranya Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI).
Kurang lebih 50 penyair yang ikut. Mereka berasal dari beragam latar belakang. Pastinya, mereka penyair semua. Mulai dari yang senior hingga junior seperti Isbedy Stiawan, Eka Budianta, Heru Warwata, Hermawan AN, Mohammad Octavianus Masheka, Rissa Churia, dan moderator Vie_fa.
Bahkan, ada yang mengaku baru belajar menyair. Juga ada beberapa kritikus sastra.
Refleksi berjalan gayeng. Peserta merasa sangat beruntung. Bahkan, merasakan gembira berlipat-lipat. Pasalnya, mereka mendapatkan informasi penting tentang perkembangan sastra mutakhir dari suhunya suhu sastra: Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri (SCB).
Bang Tardji sebetulnya tidak dalam kondisi baik-baik saja. Kesehatannya agak kurang baik. Karena faktor usia. Saat ini, Bang SCB berusia 82 tahun!
Dia tidak boleh bergadang malam terlalu larut. Beruntung Jenderal TISI Mohammad Octavianus Masheka berhasil ”menyanderanya”. Penyair gondrong itu bertandang ke kediaman Bang Tardji.
Menyediakan fasilitas Zoom Meeting. Lalu menodongnya ”pidato” di depan layar kamera. ”Demi kawan-kawan, aku yang harus mengalah. Pergi ke tempat Abang Tardji,” kata Octa—panggilan karib Mohammad Octavianus Masheka.
Seperti biasa, Bang Tardji tak pernah tampak kurang energi di hadapan para penyair. Semangatnya langsung menyala-nyala. Saat menyampaikan gagasan-gagasannya.
Memandang perkembangan sastra mutakhir. Yang ditandai dengan merebaknya karya sastra di dunia maya. Bak jamur di musim penghujan. Mekar tak terkendali. Berjejal-jejal di medsos. Juga di beberapa media publikasi lainnya.
Bukan SCB kalau tidak hadir dalam dentuman pukau. Kalimat itu saya ucapkan saat mendapat giliran bicara. Saya bilang, sulit membedakan apakah SCB sedang pidato, bicara, dan baca puisi.
Semua yang disampaikan adalah puisi. Caranya menyampaikannya juga sangat muisi. Entah saat pidato atau bicara. Apalagi, saat baca puisi.
SCB sendiri dengan bernas menjawab setiap pertanyaan atau tanggapan yang disampaikan peserta. Dan, jawabannya adalah puisi baru. Simak baik-baik pernyataan SCB: Tugas penyair adalah mensyukuri atas anugerah kata-kata yang diberi Tuhan.
Bila boleh dijuduli, materi pembicaraan SCB adalah ”Mensyukuri Anugerah Kata-Kata”.
Bukan hanya disyukuri. Menurut SCB anugerah kata-kata itu juga harus dielaborasi dengan sebaik-baiknya. ”Jadikan kata-kata itu bermakna dan bermanfaat,” pesannya.
Sangat mudah mendapatkan kata-kata. Dalam hidup keseharian, kita bisa menemuinya. Kapan dan di mana saja. Tugas penyair memberi makna pada kata-kata yang tak terhingga tersebut.
Pernyataan SCB selanjutnya cukup mengejutkan: Setiap penyair punya sidik jari. ”Itulah yang menandakan kekuatan kata-kata dari penyair,” tandasnya.
Lalu SCB memberi kiat. Sekaligus mengingatkan. Kata dia, sebagai penyair kata-kata jangan hanya diterima begitu saja. Apa adanya. Tapi ini yang harus dilakukan oleh penyair: Galilah kedalaman kata-kata tersebut.
Apa pasal? Karena tugas penyair memang sebagai penggali. ”Galilah sampai yang terdalam,” SCB mengingatkan!
Lebih lanjut, dia memberi perumpamaan seperti menggali tanah. Ketika tanah digali di dalam perutnya ada tambang timah, emas, dan yang lain-lainnya.
SCB juga menanggapi pertanyaan kritis tentang sastra masa kini. Menurut dia masih ada kegairahan.
Masih tidak terlalu merisaukan. Bahkan, dia mengaku setuju dengan adanya festival-festival sastra, utamanya puisi, yang digelar di berbagai daerah.
Di antanya Festival Sastra Internasional Gunung Bintang (FSIGB) di Tanjungpinang-Kepulauan Riau, di Aceh, di Medan, di Makassar, di Padang, di Situbondo, dan daerah yang lain. Dikatakannya, berbagai festival itu akan menguatkan kultural masing-masing daerah penyelenggara.
Sebab, sebagian besar penyelenggara festival memang mensyaratkan penulisan puisi bagi peserta mengangkat tema tentang potensi daerahnya. Dan, sebagian besar penyair peserta mengangkat tema tentang budaya.
Pernyataan SCB itu menguatkan tekad saya untuk menggelar kembali Kemah Sastra di Banyuwangi. Sekadar informasi, pada Mei 2018 silam, saya dan tim sukses menyelenggarakan Kemah Sastra ”Senyuman Lembah Ijen”.
Ratusan penyair dari nusantara dan Asia Tenggara hadir. Termasuk Bang SCB. Juga para penyair top Indonesia. Seperti D. Zawawi Imron, Ahmadun Yosi Herfanda, Hasan Aspahani, Rida K. Liamsi, Husnizar Hood, Wayang Jengki Sunarta, dll.
Juga hadir penyair dari Malaysia dan Singapura. Termasuk Presiden Persatuan Penulis Nasional (Pena) Malaysia Dr Mohamad Saleh Rahamad.
Saya sudah berdiskusi dengan Ketua DKB (Dewan Kesenian Blambangan) Hasan Basri. Hasilnya, kami bersepakat untuk menggelar kembali kemah sastra se-Asia Tenggara.
Meski terbuka kemungkinan namanya tidak lagi Kemah Sastra. Misalnya, menjadi Jambore Sastra atau nama lain yang semakna. Pastinya, acara sastra itu harus terselenggara di 2024. Agar kehidupan sastra modern di Bumi Blambangan naik kelas.
Wa ba’du. Tak terasa jarum jam menunjuk angka 21.30. Pertemuan pun harus diakhiri. Meski begitu, kesan yang ditinggalkan sulit dilupakan.
Hingga menjelang tidur, di telinga masih terngiang-ngiang suara penyair Khalid Al Rasyid, Sunu Wasono, Eka Budianta, Denting Kemuning, Rissa Churria, dll.
Pembacaan puisi mereka menambah meriah Refleksi Sastra (Puisi) Akhir Tahun yang dipelopori TISI. Puisi memang tak (akan) pernah mati.
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin