ARSITEK-sejarawan. Begitu saya menjuluki Marco Kusumawijaya. Dia menyempurnakan ilmu kearsikturannya dengan sejarah.
Malah yang tampak kemudian adalah sosok sejarawan mengalahkan profesi utamanya sebagai seorang arsitek.
Itu tampak gamblang dalam seminar ‘’Menengok Asrama Inggrisan, Dari Masa Silam ke Masa Depan’’ di Pelinggihan kantor Dinas Pariwisata Banyuwangi Ahad kemarin (17/12/23). Sebenarnya Bung Marco oleh panitia diminta membahas seputar Inggrisan.
Namun, karena pengetahuan dia begitu luas, maka peserta seminar justru mendapatkan ilmu yang tidak dibayangkan sebelumnya: yakni tentang Inggrisan an sich.
Baca Juga: Ribuan Warga Hadiri Selawatan Hari Seni Rupa di Dusun Temurejo, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng
Saya pun demikian. Mendapat bonus ilmu banyak dari paparan Bung Marco.
Meski sebetulnya saya sudah sadar sebelumnya, bakal mendapatkan banyak informasi penting dari dia.
Seperti yang sudah ditulisnya di buku besar dan tebal bersampul hitam: ‘’Kota-Kota di Indonesia: Pengantar untuk Orang Banyak’’.
Buku berseri itu sudah terbit tiga jilid. Rencana segera terbit jilid keempat. ‘’Sayang sekali, isinya membahas tentang Sumatera,’’ kata Marco, ketika saya goda untuk memasukkan Banyuwangi dalam buku jilid keempatnya.
Saya berdoa, sepulang dari Bumi Blambangan, Marco terinspirasi memasukkan kota The Sunrise of Java dalam buku jilid kelimanya. Aamiin….
Wajar bila Marco fasih memaparkan tentang pelestarian kota secara umum. Ternyata dia tercatat sebagai seorang peneliti di Rujak Centre for Urban Studies.
Kata Marco, revitalisasi Asrama Inggrisan semesinya tidak melulu menjamah Inggrisan saja. Sebab, sambungnya, pelestarian sebuah kota (Inggrisan di dalamnya) harus memperhatikan kawasan di sekitarnya.
Maka, ketika rencana revitalisasi Inggrisan dibarengi dengan pemugaran pasar Banyuwangi bagian selatan, itu membenarkan teori yang disampaikan Marco.
Kita tahu, letak pasar Banyuwangi bagian selatan itu sebelah-menyebelah dengan Asrama Inggrisan.
Bicara kawasan, sebenarnya bukan hanya pasar Banyuwangi. Kawasan Inggrisan jauh lebih luas lagi.
Di lapisan pertama, sebut saja begitu, kawasan Inggrisan juga mencakup esplanate (bahasa Belanda; lapangan terbuka, Alun-Alun) Taman Blambangan.
Termasuk di dalamnya Gesibu Blambangan, yang terletak diantara asrama Inggrisan dan Alun-Alun Taman Blambangan.
Lebih luas lagi, masuk ke lapisan kedua, di timur esplanate Taman Blambangan benteng. ‘’Dan, memang seperti itu kawasan yang dibangun Belanda. Selalu ada fort (Belanda; benteng) di timur esplanate.
Di mana-mana seperti itu. Alun-Alun dibangun tak jauh dari pantai. Di antara pantai dan Alun-Alun ada benteng,’’ kata Marco.
Dia benar. Di timur Taman Blambangan, tepatnya di bangunan bagian belakang Makodim 0825 Banyuwangi dulu ada benteng.
Namanya benteng Utrecht. Sayang sekali. Artefak benteng bersejarah itu kini tak bisa dilihat oleh generasi sekarang.
Foto lawas penampakan benteng itu bisa dilihat didokumentasi koleksi Banyoewangi Tempo Doeloe. Milik Kang Munawir. Dari fotonya, benteng Utrecht terlihat gagah dan megah.
Ditopang tembok tebal berbentuk melengkung (oval) seperti mihrab masjid, di depannya berdiri kokoh empat pilar besar (dua di kanan, dua di kiri) khas bangunan Eropa. Sedangkan atapnya berbentu limas. Di sebelah kanan terdapat pos jaga.
Lebih lanjut Marco mengatakan, pada lampiran berikutnya pelestarian dan revitalisasi Inggrisan bisa menjangkau kawasan lebih luar lagi.
Lebih jauh lagi. Kelak, ketika Asrama Inggrisan dan pasar Banyuwangi kelar direvitalisasi, harus segera diwujudkan kawasan pendukungnya.
Yakni, yang urgen, mulai dari pendapa Sabha Swagata Blambangan, Masjid Agung Baiturahman, Taman Sritanjung, sampai Taman Blambangan, dan bahkan pantai Marina Boom.
Kawasan itu harus menjadi satu kesatuan yang utuh. Bisa untuk destinasi kota. Atau city tour tentang objek wisata bernilai sejarah. Tapi kawasannya harus dibuat nyaman.
‘’Bila perlu tidak boleh ada kendaraan lewat di kawasan itu. Yang datang ke kawasan itu harus jalan kaki,’’ saran Marco.
Benar Marco. kawasan seperti Inggrisan dan sekitarnya juga ada di banyak negara di luar negeri. Semua orang yang datang ke tempat-tempat itu berjalan kaki.
Tidak ada lalu-lalang kendaraan bermesin. Semua kendaraan di parkir lokasi yang sudah disediakan.
Meski dari lokasi parkir ke kawasan wisata kota lumayan jauh, pastinya lebih jauh dibanding pendapa sampai pantai Boom, para wisatawan enjoy-enjoy saja.
Tidak mengeluh. Sebaliknya mereka malah menikmati dengan selfie-selfie, berbelanja di lapak-lapak souvenir, atau kongkow-kongkow sambil menikmati kopi di kedai yang tertata rapi dan bersih.
Sebagian yang lain tampak sedang asyik menyantap makanan dan jajanan khas negara tersebut. Bersyukur saya pernah melakukan semua itu. Tepatnya ketika keliling Eropa beberapa tahun lalu.
Bisa dimaklumi. Peradaban di sejumlah negara Eropa itu sudah terbentuk lama. Dan, terus mengalami perubahan dan kemajuan.
Menyesuaikan perkembangan zaman. Meski begitu, derasnya arus perubahan tak menggerus kebiasaan jalan kaki.
Bangunan modern boleh terus bermunjulan. Tapi budaya jalan kaki menikmati artefak-artefak kuno berbaur bangunan modern tidak pernah luntur. Atau, sengaja dihilangkan.
Wa ba’du. Kita berdoa semoga revitalisasi Asrama Inggrisan berjalan lancar. Dan segera menjangkau kawasan sekitarnya.
Sehingga mimpi besar kita memiliki kawasan wisata kota dengan destinasi sejarah segera terwujud.
Semua orang di kawasan baru itu berjalan kaki. Dari satu lokasi ke lokasi berikutnya. Dari yang dekat sampai yang terjauh.
Mari segera bangun. Bangkit. Agar mimpi segera menjadi kenyataan!
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin