Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kilau Dua Emas Dhea

Samsudin Adlawi • Selasa, 5 Desember 2023 | 19:15 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi*
Oleh: Samsudin Adlawi*

BENDERA nasional membentang di punggungnya. Mengikuti posisi kedua tangan yang merentang. Itulah pose sang juara. Biasa dilakukan oleh para juara.

Utamanya di kejuaraan-kejuaraan dunia. Seperti olimpiade dan atau lomba internasional yang lain.

Semua atlet pasti mengidamkan bisa berpose seperti itu. Tapi tak banyak atlet yang bisa melakukannya. Hanya para juaralah yang punya kesempatan seperti itu. Aldhea Azarina Bharata adalah salah satu dari yang sangat sedikit di dunia tersebut.

Ya. Dhea, panggilan karib Aldhea Azarina Bharata, membentangkan bendera merah putih di punggungnya. Kedua lengannya merentang sejajar pundak.

Jari kanan dan kirinya menarik kuat kedua ujung sang merah putih. Sementara itu, dua medali emas menggelayut di lehernya. Senyum bangga terus mengembang dari bibir Dhea.

Siswi SDN 1 Mojopanggung, Kecamatan Giri, Banyuwangi, tersebut layak melakukan selebrasi juara itu. Sebab, ia tidak hanya mengharumkan nama kota kelahirannya, Banyuwangi.

Melainkan juga nama Indonesia. Dhea baru saja merebut dua medali emas. Di kelas ”Kata” (jurus) dan ”Kumite” (perkelahian/tarung) +40 sekaligus!   

Dua emas itu diraihnya di salah satu kejuaraan bergengsi di dunia. Yakni, MIKO (Maia International Karate Open) di Portugal. Berlangsung 2–3 Desember 2023.

MIKO bukan kejuaraan kaleng-kaleng. Tetapi ajang karate internasional. Rutin digelar setiap tahun. Awalnya, ajang itu dikenal dengan nama Tournament 25th of April.

Diadakan oleh klub karate Maia. Memperingati Hari Kemerdekaan Portugal. Turnamen nasional itu berkembang menjadi kejuaraan internasional. Banyak negara ikut berlomba di turnamen itu.

Akhirnya, penyelenggara memutuskan untuk mengganti nama kejuaraannya menjadi MIKO. Dan, tahun 2023 ini merupakan tahun ke-20 MIKO digelar. Tercatat lebih dari 791 atlet dan 93 tim berpartipisasi.

Dhea masih kelas VI SD. Usianya baru 11 tahun. Tapi badannya sudah terbentuk. Sudah sangat ngarate. Pukulannya tidak hanya sempurna. Tapi juga powerfull.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dan beberapa pejabat pemkab sampai terkagum-kagum.

Melihat Dhea memeragakan gerakan-gerakan jurus karate di Lounge Pelayanan Publik, Pemkab Banyuwangi (20/11/23).

Saat itu, Dhea pamit dan mohon doa restu kepada Bupati Ipuk. Agar sukses dan meraih prestasi tertinggi di ajang MIKO Portugal. Sebab, dia menjadi satu-satunya wakil Indonesia di kejuaraan internasional di negara CR7 alias Ronaldo itu. ”Saya ingin menjadi juara,” ujar Dhea yakin.

Tidak semua anak bisa ikut kejuaraan MIKO. Pun Dhea. Ia mendapat tiket berangkat ke MIKO dengan status juara di tingkat nasional.

Dhea berkompetisi di Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) jenjang SD. Di ajang itu Dhea tampil trengginas. Spektakuler. Semua lawan ia sikat. Baik di kelas Kata perorangan putri maupun di Kumite kelas +33 kilogram putri.

Di final kelas Kata perorangan putri, Dhea mengalahkan karateka asal provinsi NTB. Sedangkan di kelas Kumite +33 kilogram putri, dia mengubur mimpi juara karateka dari DKI Jakarta.

Dhea pun pulang membawa dua keping medali emas O2SN. Dan, mendapat kesempatan mewakili Indonesia di level internasional karate kelompok pelajar. Yakni, salah satunya MIKO.

Prestasi dunia yang diraih Dhea berkat ketekunan. Sang ibu, Rina Mayasari menuturkan kepada awak media, putrinya sudah mengikuti klub karate sejak kelas 2 SD.

Anak usia segitu umumnya masih kabur kanginan. Tidak istikamah. Masih belum tahu dan belum bisa menentukan satu sikap hidup.

Apalagi, menjadikan olahraga karate sebagai hobi yang akan dijalaninya dengan sepenuh hati. Banyak anak-anak usia dini yang perotol di tengah jalan. Merasa bosan berlatih.

Tapi Dhea termasuk tipe yang berbeda. Dia tekun berlatih. Prestasi demi prestasi berhasil dia raih. Secara berjenjang.

”Awalnya oleh sekolah diikutkan lomba karate tingkat kecamatan, lalu ikut tingkat kabupaten, baru tingkat nasional. Alhamdulillah, selalu menang. Juara pertama hingga akhirnya sekarang dikirim ke tingkat internasional,” tutur Rina saat mendampingi putrinya pamitan kepada Bupati Ipuk sebelum bertolak ke Portugal.

Wa ba’du. Dhea seharusnya menjadi inspirasi anak-anak Banyuwangi. Siapa pun bisa meraih prestasi tinggi, asal punya kemauan dan tekun berlatih.

Satu lagi, mengukir prestasi tidak harus menunggu usia remaja dan atau dewasa. Dengan modal kesiapan dan kemampuan mumpuni, anak-anak pun bisa berprestasi. Bahkan, meraih prestasi lebih tinggi dari usia di atasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Suratno memuji habis Dhea. ”Anak hebat dengan kecerdasan kinestetik terpadu. Semoga menginspirasi anak-anak Banyuwangi dan Indonesia,” doa Suratno.

Apresiasi tinggi juga diberikan oleh Bupati Ipuk. Orang nomor satu di kota the Sunrise of Java itu merasa bangga kepada Dhea. Sebab, di usia yang sangat belia, dia sudah menorehkan prestasi luar biasa.

Tentu, tidak mudah bagi Dhea bisa sampai pada titik seperti saat ini. Dibutuhkan latihan yang disiplin dan ketekunan selama bertahun-tahun.

”Semoga Dhea bisa menjadi inspirasi anak-anak Banyuwangi agar bersemangat untuk mengejar pestasi,” kata Bupati Ipuk.

*) Pekolom Banyuwangi

Editor : Ali Sodiqin
#internasional #medali emas #juara #merah putih #Pelajar #karate #dki jakarta #Portugal #miko #banyuwangi #O2SN