Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Menyayangi Lengan Sendiri

Samsudin Adlawi • Selasa, 10 Oktober 2023 | 19:30 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi*
Oleh: Samsudin Adlawi*

MIRIS. Alarm bahaya media sosial (medsos) bagi anak menyala di Situbondo. Perilaku siswa di salah satu Sekolah Dasar (SD) di Bumi Salawat Nariyah itu tidak hanya menyalakan lampu kuning. Tapi, sudah pada level lampu merah. Bayangkan, mereka menyayat lengannya sendiri!

Berawal dari ketidaksengajaan. Sebagaimana diberitakan media, pihak sekolah melihat lengan salah satu siswa kelas V penuh luka goresan.

Lalu, sekolah memeriksa semua siswanya. Ternyata ditemukan lebih dari 10 siswa dengan luka sayat di bagian lengan.

”Di sekolah kami ternyata ditemukan 10 siswa lebih yang lengannya juga tersayat. Kami langsung melakukan pembinaan dan memanggil orang tuanya,” kata kepala sekolah setempat kepada Jawa Pos Radar Situbondo (2/10/23).

Lalu untuk apa para siswa itu menyayat lengannya? Untuk gaya-gayaan kali! Ada dugaan kuat, para siswa tersebut meniru tren yang ada TikTok.

Konon aksi sayat lengan anak-anak itu sudah menyebar melalui media sosial. Juga grup aplikasi percakapan yang lain.

Pastinya, anak-anak yang masih duduk di bangku SD itu sengaja menggores lengan sendiri. Mereka menyayat lengannya menggunakan alat kesehatan berbentuk stik. Konon, alat seperti itu biasanya digunakan untuk mengecek kadar diabetes.

Alat itu, menurut pengakuan siswa, dibeli dari pedagang yang mangkal di sekolah setempat. Sekolah pun bertindak tangkas: menutup sementara akses para pedagang keliling yang berjualan di depan sekolah.

Pun aparat kepolisian dari resor Situbondo. Mereka juga melakukan razia terhadap para pedagang di depan sekolah.   

Alarm bahaya menyala dari Situbondo. Raungannya menggema sampai ke mana-mana. Termasuk Banyuwangi yang notabene tetangga paling dekat.

Tak ada salahnya jika kita juga bertanya penuh waspada: jangan-jangan kasus serupa juga terjadi di Bumi Blambangan.

Wajar pertanyaan spontan itu muncul. Sebab, sumber ”kegilaan” para siswa di kota berjuluk Afrikanse van Java itu bisa juga beredar luas di Kota Gandrung. Yang namanya medsos dan TikTok—wabilkhusus beredar luas di Banyuwangi juga kan.

Baca Juga: Menguji Moralitas dan Modernitas Politik Kota Santri

Anak-anak di sini juga menggandrunginya. Terpesona dengan konten-konten yang ditayangkan. Bahkan, tak sedikit yang menirunya.

Nasi sudah menjadi kebuli. Memisahkan anak dari medsos sama saja sulitnya dengan mengembalikan bubur menjadi nasi. Medsos sudah tertanam kuat di otak anak-anak kita.

Akar-akarnya sangat kuat menancap. Sudah menjadi pohon kekar. Dengan dahan dan ranting yang rimbun daun.

Jalan satu-satunya sebagai solusi adalah membakarnya. Karena memotong batangnya saja belum cukup ampuh. Akankah hal itu kita lakukan?

Sebelum melakukannya, alangkah bijak bila kita tarik ke belakang. Mundur bukan berarti kalah. Tapi sebaliknya; untuk menang.

Dengan memutar ulang rekaman perjalanan yang sudah dilalui, kita bisa menemukan simtom penghambat dan bahkan pengganggunya.

Tentu, kita masih ingat pandemi Covid-19. Apa yang kita lakukan selama kurang lebih tiga tahun masa horor itu. Banyak. Salah satunya, yang paling menyiksa, adalah pembatasan mobilitas.

Pembatasan gerak itu menjadi berkah bagi pengembang informasi teknologi. Terjadi revolusi silaturahmi.

Gelombang hijrah besar-besaran dilakukan masyarakat. Dari kegiatan interaksi konvensioal ke interaksi lewat gawai.

Untuk bertemu tak perlu bertatap muka secara fisik. Baik rapat, arisan, bermain, sampai ke belanja.

Untuk transaksi, pembeli tak perlu bertemu langsung dengan penjual. Semua dilakukan secara online. Termasuk proses kegiatan belajar mengajar!

Guru mengajar cukup lewat jaringan internet. Anak-anak mendengarkan cukup di rumah masing-masing. Tak perlu ke sekolah. Karena bahaya.

Bisa disergap virus Covid-19 dengan beragam variannya. Siswa cukup membuka telepon genggamnya. Atau laptop dan monitor komputer—bagi yang punya.

Model pembelajaran via daring itu memang sukses mengatasi kemandekan proses belajar mengajar. Tapi, model itu juga meninggalkan bom waktu.

Sekolah lewat handphone (HP) selama dua tahun lebih membuat siswa ketagihan. Padahal, isi HP tidak hanya pelajaran.

Bermacam-macam menu tersedia. Mulai dari pengajian sampai yang ”buka-bukaan”. Mulai yang manfaat sampai yang mudarat. Anak-anak tinggal klik. Semua bisa didapat.

Anak-anak dengan mudah bisa memilih dan mendapatkan ”guru” baru. Bisa mengunduh pelajaran yang tidak didapat dari guru sekolah. Guru baru itu sangat sakti.

Buktinya? Ia bisa menyulap anak dewasa lebih cepat. Yakni mencekoki anak-anak dengan konten-konten dewasa. Yang sebenarnya ”haram” mereka lihat.

Maka, masihkah kita heran atas pengakuan siswa SD di Situbondo kalau mereka mendapat ilmu menyayat lengan sendiri dari guru baru.

Mereka memanggilnya dengan sebutan Bu/Pak Guru TikTok. Guru baru itu menghipnotis para siswa.

Buktinya mereka lebih dipercaya daripada guru sekolah, yang pastinya melarang perilaku menyakiti diri sendiri (semoga masih ada guru yang mengajarkan akhlak seperti itu!).

Bom waktu kedua, entah sadar atau tidak, dilakukan oleh banyak orang tua kepada balitanya. Terutama oleh ibu-ibu muda yang sibuk.

Atau, memilih cara praktis untuk mendiamkan anaknya yang rewel dan menangis. Cara baru dan praktis itu terbukti ampuh. Bisa menghentikan tangisan anak dalam sekejap.

Kita sering menjumpai ada balita rewel banget. Tapi seketika anteng setelah ibunya menyodorkan HP kepadanya. Dan balita umur satu dan dua tahun itu sudah canggih-canggih.

Mereka bisa memilih, memulai, dan mengakhiri menu dalam HP. Bahkan, mereka juga bisa mengganti tontotan yang sedang ”on” dengan tontotan yang lain.

Ampuh tidak selalu ekuivalen dengan dampak yang ditimbulkan. ”Membungkam” tangis anak dengan mengalihkan perhatiannya pada tontonan di HP sama dengan menanamkan bibit kecanduan pada perangkat modern itu.

Sangat mungkin anak itu akan tumbuh dengan HP harus selalu digenggamannya. Menghabiskan waktu dengan HP. Bila itu terjadi, maka ia akan menjadi pribadi yang asosial.

Berpandangan tidak ada teman terbaik kecuali HP. Karena HP sudah terbukti ampuh membuatnya senang dan tenang.

Apakah Anda termasuk ibu yang seperti itu? Jangan takut. Masih ada waktu untuk mengubah keadaan. Syaratnya hanya ada satu. Mau meluangkan waktu untuk anak tercinta.

Bila anak rewel lebih baik selimurkan kepada hal-hal yang membuatnya terhibur. Ceritakan tentang kesukaan anak (asal bukan HP).

Bila si anak ngotot minta HP, beri tahu si buah cinta bahwa HP-nya mati. Pelan-pelan alihkan perhatian anak-anak ke hal lain.

Misal, cerita tentang tema-tema sesuai dunia kanak-kanak. Selipi cerita itu dengan pesan moral.

Ah, ngelantur ya saya. Khusus satu alenia di atas itu jangan dipercaya. Sebab, saya tidak pernah jadi ibu. Saya bukan seorang ibu! Anda, ibu-ibu lebih tahu dan jago daripada saya.

Wa ba’du. Bagi orang tua, jangan sia-siakan masa golden age anak kita. Selamatkan anak kita dari pengaruh negatif.

Apa pun bentuknya. Tentu, diawali dari internal keluarga. Sebisa mungkin kita mengalah, menjadi ”teman” bertumbuh mereka.

Sehingga muncul jiwa keterbukaan anak kita. Itu perlu. Sebab, dengan keterbukaan yang dimiliki, anak akan memberi tahu dan minta pendapat kepada orang tua tentang apa saja. Termasuk isi HP-nya.

Lingkungan dan sekolah juga punya dampak pada anak. Anak yang punya komunikasi tanpa batas dengan orang tua, akan menceritakan apa yang dilihat dan dialaminya selama berada di lingkungan dan sekolah.

Lalu, biasanya, ia akan meminta pendapat kepada orang tua. Kalau itu yang terjadi pada anak Anda, maka berbahagialah.

Sebab, Anda dikaruniai anak saleh dan atau salehah. Anak seperti itu tidak akan menyayat lengannya sendiri.

*) Pekolom Banyuwangi

 

 

 

 

Editor : Ali Sodiqin
#Pembinaan #siswa #tiktok #guru #sd #Medsos #orang tua #lengan #hp #sayat