MUNGKIN Anda merasakan apa yang saya rasakan. Yakni, rasa terkait kehadiran fenomena baru di Bumi Blambangan. Atau, sebenarnya Anda malah sudah tahu duluan.
Hanya saja tidak menyadarinya, bahwa apa yang Anda lihat beberapa waktu mutakhir sesungguhnya merupakan ”sesuatu” banget.
Apa itu? Semoga Anda setuju bila saya mengatakan fenomena baru itu terkait dengan iklim bisnis baru di Banyuwangi.
Bukan bisnis besar sih. Juga bukan bisnis berjejaring dalam skala gurita bisnis. Melainkan bisnis kelas rakyat kebanyakan. Rakyat kecil yang sebenarnya. Itu bisa dilihat dari tempat usaha dan harganya.
Meskipun, pada kenyataannya, banyak juga orang berpunya yang memanfaatkan kehadirannya. Baik secara sembunyi-bunyi maupun terang-terangan.
Fenomena pertama terkait dengan kuliner. Akhir-akhir ini, bermunculan warung-warung nasi padang (nasdang) dengan identitas baru.
Harus diakui, ide pembuatan new branding itu sangat cerdas. Karena begitu terpampang di bagian depan lapaknya, perhatian orang langsung tersedot.
Lalu berkomentar secara spontan: ”Wah murah banget”.
Ya. Tulisan brand baru itu berbunyi ”Nasi Padang Rp 10.000”. Penebalan harga Rp 10.000 tersebut sangat menggoda.
Dan, bahkan, langsung menggugah selera makan! Terutama bagi mereka para nasdang mania. Saya pun demikian. Menjadi salah satu di antara mereka. Sebagai nasdang mania.
Sayang sekali, saya belum sempat membuktikannya: apa benar harganya memang hanya Rp 10.000.
Lalu, dengan harga Rp 10.000 itu pembeli dapat lauk apa saja. Boleh memilih atau hanya dijatah satu jenis lauk. Nasi dan rendang saja, misalnya.
Seperti kita ketahui, saat masuk rumah makan Padang kita langsung disuguhi cukup banyak menu lauk. Selain rendang yang menjadi menu utama, juga ada bermacam lauk.
Seperti ikan laut dan ayam dalam menu goreng dan kare. Juga perkedel, telur dadar, telur rebus, kikil, dll. Pembeli tinggal tunjuk pilihannya.
Penjual akan sigap mengambilkannya. Ia juga akan melayani dengan senang saat pembeli minta sayur komplet khas nasdang: daun singkong rebus atau sayur tewel.
Minta dua jenis sambal pun dilayani: gerusan cabai besar merah atau cabai besar hijau.
Dari sisi bisnis, sekali lagi, pencantuman harga Rp 10.000 di sejumlah rumah makan Padang merupakan strategi bisnis yang jitu.
Dalam bisnis, branding menjadi salah satu senjata untuk menarik (calon) pelanggan. Dengan branding harga nasdang yang hanya Rp 10.000, orang langsung merasa penasaran.
Setidaknya bagi mereka yang selama ini makan nasdang dengan harga di atas Rp 10.000.
Meski belum (atau tidak) semua rumah makan Padang mencantumkan harga Rp 10.000 dengan tulisan besar, tapi gerakan pasang harga Rp 10.000 yang masif membuat branding baru itu dengan cepat diketahui masyarakat.
Tidak mungkin gebrakan pencantuman harga Rp 10.000 tersebut berangkat dari kesadaran sendiri-sendiri para pemiliknya.
Hampir pasti itu merupakan kesepakatan bersama para pemilik usaha nasdang. Entah siapa yang memulainya. Siapa yang pertama-tama melontarkan idenya.
Siapa pun ia dan atau mereka, idenya sangat keren. Karena, sekali lagi, langsung menyedot perhatian masyarakat. Saya pun demikian.
Masih terngiang-ngiang di rekaman otak saya. Dan, sudah gatal untuk mampir ke rumah makan nasdang yang ada tulisan ”Nasi Padang Rp 10.000” di depannya. Bagaimana dengan Anda?
Wa bakdu. Fenomena kedua ini hadir lebih dulu dari nasdang Rp 10.000. Sekitar dua atau tiga tahun lalu jumlahnya masih sedikit. Sejak awal 2023 lalu mulai bermunculan.
Bak jamur di musim penghujan. Merebak dalam waktu hampir bersamaan. Membuat Kota Gandrung hidup. Terutama saat malam.
Ya. Salah satu penanda kehadirannya memang lampu kelap-kelip. Lampu yang dinyalakan sepanjang malam itu dililitkan di bagian halaman depan.
Baik di tiang listrik atau soko teras. Kalau tidak ada tiang, lampu kelap-kelip itu dipasang di resplang teras.
Fenomena baru dengan tanda khusus lampu kelap-kelip itu berbentuk toko kelontong. Tidak terlalu besar. Tergantung bangunan yang disewanya.
Orang menyebut usaha baru itu dengan Toko Maduran. Disebut Toko Madura karena pemilik usaha itu hampir bisa dipastikan orang Madura.
Karenanya, pelanggan toko itu lebih suka menamainya dengan sebutan khas Madura: Toko 35. Toko Télok Lemak.
Pastinya, kehadiran Toko 35 di kota the Sunrise of Java merupakan fenomena baru. Menjadi bagian dalam lembaran catatan penting ragam bisnis di Banyuwangi—kalau ada yang mau mencatatnya.
Lebih dari itu, Toko 35 yang buka selama 24 jam nonstop sangat membantu masyarakat sekitar.
Atau para musafir yang sedang lewat dan membutuhkan bekal untuk camilan di perjalanan.
Ya. Toko 35 telah menggantikan peran toko modern berjejaring, yang sejak pandemi Covid-19 harus tutup pada pukul 22.00 WIB.
Dan, sebaiknya pemerintah (pemkab Banyuwangi, khususnya) jangan membuka lagi izin bisnis ritel yang melayani kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-hari itu.
Sebab, minimarket yang dikelola secara profesional itu terbukti telah ”mematikan” toko-toko kecil milik masyarakat.
Atau, setidaknya telah menggerogoti pendapatan toko-toko kecil milik rakyat kecil yang tersebar di pinggiran kota.
Nah, kebetulan, Toko 35 yang buka 24 jam nonstop juga menyediakan kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-hari.
Meski item koleksinya tak sebanyak toko modern. Paling tidak, kebutuhan utama warga di malam hari bisa didapatkan di Toko 35. Seperti rokok, minuman, mi instan, serta kue-kue ringan.
Beras, gula, telur, sabun, gas, sampo, kopi saset, dll juga tersedia. Pokoknya sangat merakyat. Seperti toko kelontong di desa yang ada sejak dahulu kala.
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin