ADA yang unik di pertunjukan Gandrung Sewu 2023 (GS-23), Sabtu (16/9). Klimaks pertunjukannya justru tidak terjadi di pertunjukan utamanya.
Melainkan di pra dan pasca. Sebelum dan sesudah perhelatan selama sekitar satu jam itu selesai.
Klimaks pra GS-23 berupa air show. Demo udara itu ”hadiah” dari TNI Angkatan Udara. Berupa demo udara pesawat tempur dan penerjunan oleh prajurit TNI AU.
Disaksikan langsung oleh Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Abdullah Azwar Anas, Duta Besar Norwegia untuk Indonesia HE Rut Kruger Giverin, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dan tuan rumah Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas.
Ribuan pasang mata penonton GS-23 tersedot pada atraksi empat buah pesawat tempur. Pesawat berjenis EMB-314 Super Tucano itu melintas rendah di atas arena tari di Pantai Marina Boom. Tepatnya, di ujung pementasan tari pembuka.
Tak lama berselang, sebanyak 15 prajurit TNI AU tampak menari-nari di langit Pantai Boom. Lalu mendarat di arena pergelaran GS-23. Empat di antara prajurit itu ternyata perempuan. Hebatnya, salah satu dari mereka asli Banyuwangi.
Lebih hebat lagi, dia satu-satunya prajurit yang berhasil mendarat tepat di tengah venue. Alias di depan undangan kehormatan. Aksinya mendapat tepuk tangan meriah. Termasuk dari Marsekal Fadjar Prasetyo dan seluruh undangan VVIP.
Sebetulnya, saat mendarat dengan posisi berdiri tubuhnya sempat terpelanting. Kepalanya tertampar tali parasut yang masih belum mengembang akibat angin kencang.
Tapi dengan cepat dan sigap, prajurit perempuan itu berdiri tegak kembali. Lalu dengan sikap tegap memberi hormat kepada KASAU dan seluruh tamu undangan kehormatan.
Marsekal Fadjar Prasetyo tampak bangga pada salah satu prajurit perempuan yang telah menjalankan tugas dengan baik sekali.
Terbukti, saat menerima buket dari si prajurit cantik itu, pejabat tertinggi di lingkungan TNI AU itu tampak mengajukan beberapa pertanyaan.
Atraksi belum selesai. Giliran tiga buah pesawat tempur T-50i Golden Eagle yang muncul tiba-tiba. Terbang di atas kepala. Suara jet tempur itu menggelegar.
Memekakkan telinga. Tapi tidak lama. Cepat sekali melesatnya. Dalam sekejap sudah lenyap dari pandangan mata. Begitu pun suara gelegarnya.
Klimaks kedua terjadi setelah pertunjukan. Ketika 60 panjak berhenti membunyikan alat musik tradisional Banyuwangi, ketika 1.140 penari GS-23 duduk rapi di atas hamparan pasir tempat pertunjukan, seribuan orang tua mereka menyeruak masuk ke arena tari.
Mencari anak-anaknya masing-masing. Ada yang langsung menemukannya. Tapi juga banyak yang butuh waktu lama mencari di mana gerangan posisi anak kesayangannya berada. Dandim 0825/Banyuwangi Letkol (Kav) Eko Julianto Ramadan salah satunya.
Begitu turun dari tangga panggung utama, Eko bersama istrinya membaur bersama ribuan orang tua yang sedang kebingungan mencari putrinya.
Begitu berhasil menemukan putrinya, para orang tua berikut kerabatnya langsung memeluknya erat-erat.
Lama sekali. Lalu menciumi pipinya. Sambil berderai air mata. Tanda bahagia. Bahagia karena latihan selama berbulan-bulan, telah terbayar lunas. Anak-anak mereka tampil luar biasa.
Para orang tua itu bangga. Sebab, anaknya sudah menuntaskan tugas penting dalam hidupnya. Mereka menari dengan baik. Tanpa kesalahan berarti.
Aksinya membuat kagum ribuan penonton. Terutama para pejabat penting dari pusat. Serta tamu-tamu dari luar daerah. Mereka telah mengharumkan nama Banyuwangi, dengan menampilkan tarian tertua di Bumi Blambangan.
Yakni, gandrung dalam kemasan dan sentuhan modern. Gandrung garapan: Gandrung Sewu.
Harus diakui. Anak-anak SD–SMA yang ikut GS-23 membuat kita iri. Masih kecil tapi mereka sudah berprestasi. Membuat bangga daerah dan warga Kota Gandrung.
Lebih dari itu, mereka telah menunjukkan kepada dunia, bahwa di kota the Sunrise of Java yang namanya tari warisan leluhur dirawat dengan baik.
Lewat proses regenerasi yang masif. Sejak usia dini. Sulit mencari penyamanya di daerah lain di Indonesia. Bahkan, di dunia.
Baca Juga: Tanah Dikuasai Mantan Kades, Warga Tanjung Kamal Wadul DPRD Situbondo
Wa ba’du. Pertunjukan GS-23 sendiri tampak lebih rapi. Itu diakui langsung oleh orang yang sudah pernah menyaksikan GS edisi sebelumnya.
”Tahun ini, Gandrung Sewu yang kami saksikan tadi sore (Sabtu, 16/9), lebih bagus, lebih terkonsep dibanding yang tahun-tahun sebelumnya,” kata salah satu pimpinan media online dari Jakarta saat jamuan makan malam di halaman belakang Pendapa Sabha Swagata Blambangan, Sabtu malam (16/9).
Benar pernyataan itu. Dan, itu bukan satu-satunya pujian. Masih banyak yang memberi apresiasi serupa. Wajar komentar seperti itu terlontar. Memang, persiapan GS-23 lebih detail. Diawali dengan pembuatan konsep.
Tema Omprog The Glory of Art diterjemahkan dalam gerak tari dengan baik oleh Miftahul Jannah. Seniman perempuan muda Banyuwangi yang moncer.
Dia sudah beberapa kali terlibat dari pembuatan konsep tari. Bersama beberapa seniman muda lainnya lulusan kampus seni. Sebut saja Gilang (suami Miftahul Jannah), Adlin, Pungky, dan Achzana Ilhamy.
Antara lain, mereka saya libatkan mengonsep koreografi Rampak Hadrah/Terbang dalam Festival Tradisi Islam Nusantara (perayaan Satu Abad NU, Februari lalu di stadion Diponegoro Banyuwangi) dan Gandrung Massal dalam perayaan kemenangan Aga Khan for Architecture di Bandara Internasional Banyuwangi, beberapa bulan lalu.
Miftah dkk sudah terbiasa membuat konsep pertunjukan yang rapi. Mereka merasa enjoy bila diberi kepercayaan penuh. Tanpa intervensi dalam bentuk apa pun.
Ketika menggarap Rampak Hadrah, misalnya, saya hanya menyampaikan konsep globalnya begini dan begitu.
Lalu saya minta mereka terjemahkan dalam konsep karya yang lebih detail. Saat proses penggarapan berjalan, saya memberi evaluasi kecil.
Mereka dengan senang hati menerima evaluasi itu. Karena memang rasional. Dan ketika diterapkan dalam konsep, hasilnya menjadi bagus.
Sejak saat itu, saya makin pede. Sudah waktunya memberi panggung sebesar-besarnya kepada para seniman muda Bumi Blambangan.
Pelan tapi pasti, mereka telah teruji. Mereka mau belajar. Terus belajar. Dan, tak lupa mau mendengarkan masukan-masukan dari orang lain.
Tidak egois. Tidak pernah merasa sudah hebat. Apalagi, merasa paling hebat.
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin