LELAH perjalanan udara 21 jam lebih terbayar lunas. Setelah Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas secara resmi menerima sertifikat Global Geoparks Network Institutional Member 2023–2026.
Sertifikat dari UNESCO Global Geoparks (UGG) itu diserahkan dalam acara The 10th International Conference on UNESCO Global Geoparks 2023 di Marrakesh, Maroko. Pada Sabtu (9/9) waktu setempat.
Disaksikan langsung oleh delegasi 48 negara. Juga beberapa rombongan dari Indonesia. Termasuk rombongan Bu Ipuk dari Banyuwangi. Yang ikut terbang dari Jakarta ke Marrakesh, Maroko.
Semua anggota delegasi yang hadir di negara juara keempat Piala Dunia 2022 itu mendapat ”bonus” khusus. Yakni, menjadi saksi dan bahkan merasakan langsung gempa terkuat yang pernah melanda negara di Afrika Utara dalam satu abad terakhir.
Dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), pusat gempa diketahui berada 75 kilometer (km) sebelah tenggara Marrakesh. Gempa terjadi pada kedalaman 18,5 km! Berkekuatan 6,8 Skala Richter.
Gempa terjadi pada Jumat (8/9). Pukul 23.14 waktu setempat. Ketika sebagian anggota delegasi sedang tertidur lelap. Juga warga Maroko. Tidak mengherankan jika korbannya begitu banyak.
Sampai catatan ini saya tulis Sabtu malam, korban meninggal sudah mencapai 2.000 orang lebih. Dan, sepertinya, akan terus bertambah. Karena masih banyak lokasi yang sedang dievakuasi oleh petugas.
”Perdana ini, Pak, ngerasain gempa kencang. Sampek bohlam lampu jatuh semua di kamar,” kata Zulfan Tri Adji, fotografer Humas Pemkab Banyuwangi yang ikut rombongan Bu Ipuk.
Naluri fotografernya langsung bekerja. Dia segera menenteng kameranya. Memotret dan memvideo momen penting. Yang pertama kali dia saksikan dalam hidupnya.
Foto dan video yang dia kirim lebih merupakan kesaksian. Di antaranya foto-video kondisi pascagempa. Di mana hampir semua para tamu hotel tempat delegasi menginap.
”Banyuwangi yang tidur di luar mulai semalam,” tulis Zulfan pada caption foto-video yang menggambarkan para tamu hotel tidur di halaman dan sekitar kolam renang hotel.
Alhamdulillah, semua anggota rombongan dari Banyuwangi selamat. Bahkan, tidak sepanik para tamu hotel yang lain. Dengan nada guyon Zulfan mengirim pesan: hanya tamu hotel dari Banyuwangi dan Indonesia yang tidak ikut lari keluar.
Maklum. Bagi orang Indonesia, guncangan gempa bumi sudah seperti santapan makan sehari-hari.
Sertifikat dari UGG yang diterima Banyuwangi untuk Taman Bumi Ijen berlaku empat tahun. Seperti tertulis di sertifikat ”For the period 2023–2026”.
Setiap penerima sertifikat punya kewajiban untuk menjaga marwah penghargaan yang diterimanya. Yakni, setidaknya terus merawat taman bumi (geopark) yang dimilikinya.
Bahkan, sebisa mungkin malah meningkatkan kampanye tentang ke-geopark-an. Khususnya, eksistensi taman bumi di daerahnya. Kepada siapa pun. Bukan hanya kepada warga di daerahnya sendiri.
Siapa yang harus berkampanye? Semua. Idealnya semua masyarakat Bumi Blambangan punya tanggung jawab yang sama. Bisa menjelaskan apa itu Geopark Ijen. Taman Bumi Ijen. Mulai warga biasa, ASN, guru, pramuwisata, sampai guru dan siswa.
”Semua harus menjadi agen Geopark Ijen,” pinjam istilah Bu Ipuk saat membuka Festival Literasi, di halaman luar stadion Diponegoro Banyuwangi, beberapa bulan lalu.
Tentu, tugas paling berat berada di pundak Badan Pengelola Ijen Geopark UNESCO Global Geoparks (BP IGUGG). Ia harus gerak cepat. Beberapa strategi program harus segara dijalankan.
Yang pertama dan utama adalah memastikan pembangunan berbasis geopark bisa berbarengan/berjalan beriringan dengan pembangunan sarana dan prasarana. Oleh pemerintah pusat maupun daerah.
Tugas BP IGUGG berikutnya ini: meningkatkan edukasi berbasis riset. Khusus tugas yang satu ini, BP IGUGG seyogianya tidak ”menjual” Taman Bumi Ijen dari sisi keindahan alamnya. Namun, harus dilengkapi dengan narasi tentang sejarah terbentuknya Kawah Ijen. Mulai kapan.
Akibat apa. Karena proses alam. Kekayaan geologi apa yang ada di Gunung Ijen—selain kawah dan blue flame-nya, tentu saja. Dan, narasi itu harus dibagikan kepada semua warga Banyuwangi. Dengan begitu, semua masyarakat Kota Gandrung bisa menjelaskan dengan fasih tentang IGUGG.
Tak kalah pentingnya adalah meningkatkan visibilitas. Gerbang penanda IGUGG sudah ada apa belum. Kalau ada, memadai apa tidak. Kalau dirasa kurang, sebaiknya segera diperbanyak. Termasuk monumen dan panel interpretasi.
Keduanya harus diperbanyak. Sebanyak-banyaknya. Memperkuat dan memperkaya narasi. Sehingga, pengunjung tahu mereka sedang berada di kawasan Geopark Ijen.
Ada baiknya, mulai sekarang BP IGUGG mengecek. Bekerja sama dengan Dinas Pariwisata. Bertanya secara acak. Kepada pengunjung Ijen. Tahukah pengunjung kalau Taman Bumi Ijen sudah masuk UGG. Serta apa yang mereka ketahui tentang UGG.
Wa ba’du. Tak ada salahnya pula melongok ke dalam. Coba tanya kepada diri sendiri. Perlukah dilakukan revitalisasi dan optimalisasi badan pengelola IGUGG. Revitalisasi dilakukan, misalnya, karena larinya kurang kencang.
Program-programnya belum berjalan secara optimal. Gema Geopark Ijen mulai redup. Masyarakat sudah mulai lupa. Karena program-programnya temporal. Tidak utun. Kurang istiqah. Atau, ada alasan yang lain.
Bila itu benar-benar terjadi, jurus pemungkas harus dikeluarkan. Dilakukan pembelajaran manajemen, agar badan pengelola bisa memahami dan melaksanakan prinsip UGG.
Dua hal itu penting. Untuk cermin. Agar apa yang terjadi pada Geopark Kaldera Toba tidak dialami Geopark Ijen. Jangan sampai Geopark Ijen sama seperti Geopark Kaldera Toba. Selama tiga tahun hanya menjual keindahan alam kawasan Danau Toba.
Tidak ada upaya dari badan pengelolanya untuk menjual keajaiban dan kekayaan geologi Kaldera Toba. Bahkan konservasi lingkungan, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat juga tak berjalan.
Akibatnya, tim asesor dari UNESCO turun ke kawasan Danau Toba pada 31 Juli–4 Agustus lalu. Untuk melakukan validasi ulang keanggotaan Kaldera Toba di UGG.
Jika dianggap tidak lagi memenuhi syarat, Kaldera Toba yang menjadi anggota UGG ke-209 pada 2020 akan dicoret dari keanggotaan UGG pada 2024 mendatang. Naudzubillahi mindzalik. Semoga Geopark Ijen tidak bernasib sama.(*)
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin