Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bukan Sekadar Baris-berbaris

Ali Sodiqin • Selasa, 5 September 2023 | 23:00 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi*
Oleh: Samsudin Adlawi*

ZAMAN sudah berubah. Bahkan perubahannya, terasa lebih cepat. Walhasil, banyak yang tertinggal. Karena tidak bisa menyesuaikan dengan suasana baru. Perubahan zaman itu merambah semua lini kehidupan. Mulai pemikiran hingga kehidupan sehari-hari.

Tentu, setiap individu punya tafsir sendiri-sendiri terkait perubahan zaman. Tapi, banyak di antara mereka punya perspektif dan persepsi yang sama soal perubahan yang dirasakannya.

Misal, terkait jalan raya. Dulu, sepuluh bahkan 20 tahun silam, jalanan terasa begitu lengang. Tidak sesesak sekarang. Kendaraan besar baru satu dua. Mobil pribadi masih bisa dihitung dengan jari. Pun motor. Masih belum banyak jumlahnya.

Ketika itu, motor dan mobil masih menjadi alat ukur status sosial. Pemiliknya pasti orang dari kalangan menengah ke atas. Kini, kondisinya berubah. Hampir semua orang punya motor. Sebagian yang lain bahkan memiliki mobil. Sulit mengetahui status si penunggang motor atau pengemudi mobil.

Dulu, kita hanya mengenal prahoto. Truk saja. Yang bentuknya kotak. Dengan merek Mercy dan Fuso. Sekarang sudah macam-macam jenis dan merek truk. Mulai jenis engkel hingga tronton, trailer, dan kontainer.

Kulla yaum (saban hari), ”makhluk jalanan’’ itu menguasai ruas-ruas jalan yang ada: jalan kabupaten, jalan provinsi, dan jalan nasional. Semua penuh. Oleh kendaraan. Itu fakta. Tidak bisa dimungkiri. Memungkirinya adalah kesalahan fatal.

Tak ada jalan lain, kecuali manusianya menyesuaikan diri. Dengan fakta menakutkan itu. Seperti yang dialami warga Jakarta. Saat ini. Mereka sedang hidup bersama polutan. Polusi yang salah satu penyebabnya berasal dari moncong knalpot motor dan mobil.

Tapi apa boleh jadi. Faktanya membentang di depan mata. Jalan raya dari hari ke hari makin sesak. Membuat jalan layang, memperlebar jalan yang ada, dan berpindah ke transportasi umum. Tiga solusi itu, konon, ampuh untuk mengatasi jalan yang jenuh.

Tapi, merealisasikan tiga solusi itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh dana besar dan tenaga ekstra untuk meyakinkan masyarakat. Sudah menjadi rahasia umum, tak mudah mengubah mindset masyarakat!

Bagaimanapun, perubahan yang hadir sangat cepat itu harus disikapi secara bijak. Melawan berarti bunuh diri. Jalan satu-satunya, kita harus beradaptasi. Menyesuaikan dengan perubahan yang sedang terjadi.

Kita tidak bisa menggunakan alasan nasionalime, misalnya, untuk melawan perubahan itu. Karenanya, kegiatan Agustusan (memeriahkan peringatan kemerdekaan RI) yang dilaksanakam di akses jalan raya seyogianya mulai dipikirkan ulang.

Sebab, seperti penulis uraikan di atas, semua jalan raya yang kita punya sudah jenuh. Penuh dan sesak dengan kendaraan. Dulu, gerak jalan dan karnaval masih bisa berjalan berdampingan dengan kendaraan yang lewat. Sekarang jangan coba-coba.

Yang banyak terjadi, karnaval dan gerak jalan menyebabkan kemacetan luar biasa. Berjam-jam. Bahkan, ada pengguna jalan yang terjebak kemacetan sampai puluhan jam. Gara-gara menunggu karnaval dan atau gerak jalan selesai.

Kemacetan panjang dan lama itu, antara lain, disebabkan oleh perubahan perilaku pesertanya. Dulu orang ikut gerak jalan dan karnaval murni untuk memeriahkan tujuh belasan. Mereka benar-benar berbaris. Rapi dan disiplin.

Sambil menyanyikan lagu-lagu dan yel-yel terkait kemerdekaan. Dari start sampai finis. Pakaian mereka juga sopan-sopan. Bernuasa merah putih. Atau, bagi peserta pelajar, mereka memakai seragam sekolahnya.

Sekarang tidak lagi seperti itu. Berubah total. Lebih terasa hura-huranya. Daripada semangat nasionalismenya. Seragam tak lagi menjadi pertimbangan utama. Peserta bisa pakai seragam apa saja. Seenaknya.

Sesuai seleranya. Semau-maunya. Keterampilan baris-berbaris menjadi pertimbangan nomor sekian. Yang penting jalan. Dan, sekali lagi, hura-hura di depan orang yang menonton.

Makin sempurna hura-huranya dengan sound system menggelegar mengiringi di belakang barisannya. Sambil menyanyikan (dan berjoget) lagu-lagu koploan.

Dalam suasana seperti itu, lantas di mana jejak kemerdekaannya. Nyaris tidak ada. Yang ada hanyalah efek negatif. Mulai banyak gerak jalan yang diwarnai gesekan antarpeserta. Lalu memuncak ke gontok-gontokan.

Tahun ini, keributan antarpeserta terjadi pada acara lomba gerak jalan di beberapa kecamatan di Banyuwangi. Sangat memprihatinkan. Katanya memeriahkan kemerdekaan. Kok malah tukaran. Malu rasanya melihat fakta itu.

Sudah waktunya dipikirkan solusi cepatnya. Sebelum kejadian serupa berubah menjadi tradisi. Yakni, memeriahkan gerak jalan dan atau karnaval kemerdekaan dengan gontok-gontokan.

Memperlebar jalan raya membutuhkan dana tidak sedikit. Juga waktu. Menggelar gerak jalan dan karnaval di banyak tempat terbukti mulai berdampak pada terganggunya distribusi kebutuhan ekonomi. Juga muncul gejala mengganggu ketertiban umum.

Maka, sekali lagi, harus dicarikan solusi cepat dan cerdas. Bukan meniadakan acara serupa. Tapi memindahkan ke lokasi yang lebih memadai—tidak menimbulkan dampak negatif kepada kepentingan umum.

Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispopra) Banyuwangi bekerja sama dengan Radar Banyuwangi telah berikhtiar. Membuat event serupa gerak jalan. Tidak di jalan raya lagi. Melainkan di dalam gedung: GOR Tawangalun Banyuwangi.

Event baru itu tidak jauh berbeda dengan gerak jalan, sesungguhnya. Juga mengutamakan kemampuan dasar baris-berbaris pesertanya. Yakni, Lomba Kreasi Baris-Berbaris (LKBB).

Kalau gerak jalan di jalan raya hanya menonjolkan gerakan baris-berbaris, maka dalam LKBB setiap peserta dituntut bisa menampilkan kreasi baris-berbaris. Salah satunya memasukkan yel-yel khas asal sekolahnya.

Ternyata itu lebih menarik. Lebih atraktif. Dalam waktu 10 menit peserta harus menampilkan ilmu baris-berbaris. Lalu mengakhirinya dengan kreasi khas sekolahnya. Itu bisa menghilangkan kesan negatif bahwa baris-berbaris itu monoton.

Tapi tidak mudah menampilkan gabungan baris-berbaris dengan kreasi gerakan khas. Seperti kata salah satu juri LKBB 2023, Nani Asiany Mustikowati.

Mbok Nany yang pernah menjadi paskibraka nasional di Istana Merdeka mengatakan, ada banyak aspek yang harus dipunyai peserta LKBB. Pertama, harus memiliki kecerdasan.

Kecerdasan itu membuat orang bisa fokus dalam waktu tertentu. Dan, dalam 10 menit penampilan, fokus peserta LKBB tidak boleh ambyar.

Berikutnya adalah disiplin. Modal fokus dan displin membuat peleton peserta kompak selama tampil di depan juri.

”Tidak mudah memahami formasi baris-berbaris dalam kurun waktu yang singkat dan tepat. Di sini tingkat fokus dan disiplin mulai diuji,’’ ujar pengurus DKB (Dewan Kesenian Blambangan) itu.

Syarat penting lainnya adalah jiwa seni. LKBB menuntut peserta punya modal jiwa seni. Sebab, kata Mbok Nani, kegiatan baris-berbaris memiliki nilai seni tinggi. Salah satu keindahan baris-berbaris adalah pada formasinya.

Tepatnya, perubahan dari satu formasi ke formasi berikutnya. Apalagi, diselilingi kreasi dan yel-yel yang tidak merusak formasi barisannya.

Wa bakdu. Beberapa hal yang disampaikan Mbok Nani menegasi bahwa LKBB sangat efektif untuk membentuk karakter generasi muda—selain menumbuhkan jiwa nasionalisme—tentunya.

LKBB tidak hanya memindahkan baris-berbaris di jalan raya. Lebih dari itu, LKBB menjadi sarana edukasi tentang karakter kebangsaan kepada generasi muda.

Dan, aura karakter kebangsaan itu memancar dari wajah-wajah peserta yang tampil di LKBB, kemarin. Yakni tim dari pelajar SMP dan MTs se-Banyuwangi.

Akankah aura itu makin kinclong pada penampilan peserta dari tim SMA/SMK/MA hari ini? Silakan datang dan rasakan langsung di GOR Tawangalun pagi ini hingga selesai.

*) Pekolom Banyuwangi

Editor : Ali Sodiqin
#baris berbaris #lkbb #agustusan #GOR Tawangalun #man nahnu #gerak jalan #samsudin adlawi #kemerdekaan