”ANDA harus mencobanya. Anda harus naik. Bagus sekali pemandangan dari dalam Teleferic,” promosi Saif berulang-ulang. Sopir brewokan itu berusaha meyakinkan saya. Di sepanjang perjalanan dari Makkah ke Taif.
Teleferic. Ya, begitu orang lokal Arab menyebut Teleferic Taif Cable Car. Gondola. Kereta gantung. Yang menjadi kebanggaan warga Arab Saudi. Dan, mereka terus mempromosikannya. Walhasil, para jemaah umrah dan haji kepincut. Tergoda. Untuk menjajal Teleferic.
Naik Teleferic berbeda dengan berada dalam kereta gantung umumnya. Terutama tantangan pengalaman menggantung di ketinggian. Teleferic lebih memacu adrenalin. Kebetulan saya pernah mencoba kereta gantung di Malaysia. Dua kali.
Dalam tahun dan kesempatan yang berbeda. Lokasinya di Genting Highlands. Namanya Awana SkyWay. Gondola Awana melayang di udara. Dalam dinding kacanya saya bisa menikmati pemandangan menakjubkan. Jauh di bawah sana membentang hutan hujan berusia 130 juta tahun.
Pohon-pohon purba menjulang tinggi. Dahan dan rantingnya sangat rimbun. Hijau memukau. Tampak seperti hamparan karpet bulu. Itu membuat perasaan tenang. Meski tak bisa menghilangkan rasa ngeri-ngeri sedap.
”Setidaknya, kalau gondolanya ngadat, atau bahkan jatuh, tidak langsung ke tanah,” batin saya, ketika itu.
Beda lagi ketika saya naik kereta gantung di atas Pegunungan Titlis, Swiss. Kereta gantungnya agak besar. Bisa membawa lebih banyak penumpang.
Maklum, kereta gantungnya juga menjadi kendaraan utama para pemain ski. Yang akan meluncur dari puncak gunung. Kereta gantung Titlis membawa penumpangnya dari Stasiun Engelberg ke ketinggian 3.020 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Setelah berada dalam kotak kaca selama 30 menit perjalanan, sampailah di puncak. Keluar dari stasiun langsung disambut hamparan salju.
Gunung Titlis seperti raksasa berselimut salju. Sejauh mata memandang, hanya salju jua yang terpampang. Kebul-kebul. Dinginnya tak kepalang. Meski sudah pakai sarung tangan khusus, dinginnya masih tembus ke tangan. Kaku dan membeku.
Itu pengalaman menakjubkan. Dan, tidak terlalu menakutkan. Meski melayang di ketinggian 3.000 mdpl. Salju yang terhampar di bawah cukup menenangkan perasaan.”Setidaknya, kalau jatuh masih ada salju tebal yang siap memeluk kami!”
Lain halnya pengalaman naik Teleferic. Meski lebih rendah 1.000 mdpl dibanding kereta gantung Titlis—Teleferic melayang di atas sekitar 2.000 mdpl, tetapi kereta gantung Teleferic cukup memacu adrenalin.
Terutama saat kereta baru meluncur turun dari stasiun dekat Ramada Hotel. Terasa mengejutkan. Sekaligus menakutkan.
Bayangkan, gerbong kereta yang berisi maksimal enam orang, meluncur ke bawah dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Lalu di bawahnya menghampar pegunungan batu. Gunung Al Hada, namanya. Berwarna cokelat kehitam-hitaman. Gersang.
Tak ada ada rindang pepohonan seperti di Genting Highlands. Atau hamparan salju di Titlis.
Jalan raya meliuk-meliuk nun jauh di bawah menambah kencang detak jantung. Meski, sebenarnya, liuk-liuk jalan itu sangat memesona.
Seperti ular piton raksasa sedang berjalan. Rupanya, itu jalan yang saya lalui saat perjalanan menuju Kota Taif, beberapa jam sebelumnya.
Secara geografis, jalur Taif–Al Hada merupakan jalan utama di Arab Saudi. Terletak 2.000 mdpl. Menghubungkan banyak kota besar di sana. Seperti Makkah, Jeddah, Taif, dan beberapa wilayah di utara, timur, barat, dan selatan Arab Saudi.
Al Hada menjadi jujukan penduduk Arab Saudi. Suhu udaranya sejuk. Saat musim panas, Al Hada menjadi destinasi favorit musim panas orang kaya Arab. Termasuk keluarga kerajaan.
Udara sejuk bukan satu-satunya pertimbangan orang ke Al Hada. Lokasi itu juga menyuguhkan pemandangan nan elok. Yakni, jalan meliuk-liuk membelah pegunungan cadas yang berdiri kokoh di sekitar Kota Makkah.
”Berapa tahun ya membuat jalan seperti itu?” tanya anak saya. Dia penasaran karena: Pertama, jalan itu sepertinya dibuat meliuk-liuk, agar tampak indah dilihat dari dalam Teleferic. Kedua, untuk membuat meliuk-meliuk, pekerja proyeknya harus mengepas gunung-gunung batu!
Lumayan, jalan meliuk-meliuk itu mengurangi rasa ngeri. Terutama saat membayangkan hal terburuk terjadi. Jatuh. Gunung cadas siap menyambut jauh di bawah jalur kereta gantung.
Tapi, saya yakin, Teleferic dibangun menggunakan teknologi canggih. Sangat aman. Tersebab itu, tiketnya pun lumayan mahal: 100 real. Alias Rp 400 ribu sekian.
Wa ba’du. Pengalaman menyenangkan itu sirna seketika. Yang indah-indah itu melayang seketika. Tersapu kenangan pahit. Apalagi, saat melintas di atas Al Hada.
Dari dalam kereta gantung Teleferic, sesungguhnya, saya bisa melihat jalan setapak yang panjang. Mengular. Menaiki-menuruni gunung, melewati lembah, dan menyeberangi sungai musiman. Konon, itu jalan sepatak yang dilalui Nabi Muhammad SAW.
Saat menuju Taif. Dari Makkah. Untuk berdakwah. Mengenal-sebarkan Islam. Kepada penduduk Taif.
Betapa beratnya perjalanan dakwah yang ditempuh Rasulullah itu. Tanpa sadar kesedihan membuncah. Air mata meleleh.
Saat kereta Teleferic melintas tepat di atas jalan setapak sempit—jalur perjalanan Rasulullah SAW. Lalu, ingatan tiba-tiba melayang ke sirah Nabi.
Dalam buku Sirah Nabawiyah (karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri) mengisahkan suatu hari di musim panas tahun 619 Masehi.
Tepatnya, bulan Syawal tahun Nubuwah (awal Juni 619 Masehi). Saat itu Nabi pergi ke Taif. Dengan satu tujuan: berdakwah.
Sang penghulu nabi dan rasul itu pergi berjalan kaki. ”Dikawal” pembantu setianya: Zaid bin Haritsah. Di setiap daerah yang dilalui, Nabi mengajak warganya memeluk Islam. Beriman hanya kepada Allah SWT. Dan mengakui Muhammad SAW sebagai utusan-Nya.
Walakin, tak satu pun warga yang menggubris ajakan itu. Hatta (sampai akhirnya) tibalah Kanjeng Nabi di Taif. Beliau menemui tiga bersaudara pemuka Bani Tsaqif. Putra Amr bin Umair Ats-Tsaqif. Yakni Yalail, Mas’ud, dan Hubaib.
Dengan ramah Rasulullah SAW mengabarkan tentang Islam. Sekaligus mengajak mereka hanya menyembah Allah SWT. Serta mengakui Muhammad sebagai utusan-Nya.
Sayang, sikap mereka idem ditto sama warganya: dengan tegas menolak dakwah Nabi! Tidak berhenti di situ.
Mereka juga mengancam dengan kalimat yang masyhur: ”Jika Tuhan benar-benar mengutusmu, aku akan meruntuhkan Kakbah,’’ kata salah satu pimpinan Bani Tsaqif itu, seperti dikutip dari novel biografi Muhammad karya Tasaro dengan judul: Lelaki Penggenggam.
Meski mendapat penolakan, Rasulullah tak segera pulang ke Makkah. Dikutip dari buku Sirah Nabawiyah, Muhammad masih tinggal di Taif selama 10 hari. Meneruskan dakwahnya. Hasilnya nihil. Sami mawon.
Tak seorang pun warga Taif yang mau. Sebaliknya, mereka malah beramai-ramai mengusir ayahanda Fatimah Al-Zahra itu pergi dari Taif. Mereka mengejar-ngejar Rasulullah SAW dan Zaid bin Haritsah. Sambil mencaci dan melempari Muhammad SAW dengan batu.
Salah satu batu mengenai sasaran. Tumit Rasulullah SAW luka dan berdarah. Zaid yang berusaha melindunginya, juga tak luput dari timpukan batu. Tubuhnya penuh luka.
Meski begitu, warga Taif tak mengendurkan serangan batunya. Saya bersyukur, saat ziarah ke Taif bisa melihat tempat di mana Rasulullah dan Zaid terluka akibat timpukan batu warga setempat.
Sayang, gerbang gubuk kecil itu terkunci, sehingga tak bisa melihat batu yang melukai tumit kaki Rasulullah SAW—yang konon masih berada di dalam gubuk itu. Tapi saya tetap senang. Masih bisa merasakan aura kesedihan mendalam dari dalam gubuk itu.
Warga Taif baru benar-benar berhenti mengejar dan menyerang, setelah Nabi dan Zaid masuk ke kebun milik Utbah dan Syaibah. Dari suku ’Abd Syams. Keturunan Quraisy.
Lalu, Nabi duduk di bawah rerimbun pohon anggur. Lalu dengan suara lembut beliau berdoa kepada Allah SWT. Mengadukan kelemahan kekuatannya. Juga siasat dan kehinaan di hadapan manusia.
Doa Nabi itu rupanya menyentuh hati Utbah dan Syaibah. Yang mendengar doa Nabi dari pinggir kebun. Mereka tidak tega melihat saudara sekaumnya teraniaya.
Kemudian mereka memanggil pembantunya, Addas. ”Ambil setandan buah anggur ini. Berikan kepada orang itu,” perintah Utbah.
Addas sigap. Dia segera mendekati Rasulullah SAW. Menyodorkan setandan anggur segar. Rasulullah SAW memetik sebutir disusul ucapan terima kasih. Sebelum memasukkan anggur ke mulut, Nabi mengucap bismillah.
Addas terkejut mendengar kalimat yang baru saja dilafalkan Rasulullah SAW. Dia lantas bertanya tentang kalimat yang berarti ”Dengan nama Allah’’ tersebut.
Nabi bertanya balik,’’Dari negeri mana asalmu dan apa agamamu?’’
”Aku seorang Nasrani dari penduduk Ninawy (Nineveh),’’ jawab Addas.
Lalu Nabi menjelaskan kepada Addas. Nineveh adalah kota asal Yunus putra Matta. Addas makin terpesona. Dia bertanya lagi tentang Yunus bin Matta. Nabi menjawab: ”Beliau adalah saudaraku. Beliau seorang nabi, begitu juga aku’’.
Singkat kisah. Pemuda Nasrani itu pun memeluk dan mencium tangan serta kaki Rasulullah SAW. Tapi juragan Addas, Utbah dan Syaibah tidak suka dengan sikap yang dipertontonkan Addas.
Addas bergeming. Hatinya sudah bulat. Sebulat tekadnya. Sejumlah literatur menyebutkan, akhirnya Addas memeluk Islam.
Bahkan, tempat bertemunya Rasulullah dengan Addas di Taif, kini diabadikan dengan dibangunkan sebuah masjid. Nama masjid itu Masjid Addas.
Alhamdulillah, saya berkesempataan melihat secara langsung masjid penanda tapak tilas sejarah penting perjalanan dakwah Rasulullah SAW di Taif itu.
Plong rasanya. Gembira hati ini. Meninggalkan Kota Taif. Sesemangat (mungkin) Rasulullah SAW dan Zaid meninggalkan kebun anggur milik Utbah-Syaibah. Kembali ke Makkah. (*)
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin