Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Menggigil dalam Pelukan Haramain Express

Ali Sodiqin • Selasa, 22 Agustus 2023 | 22:00 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi*
Oleh: Samsudin Adlawi*

MEMANG tak secepat Shanghai Maglev. Kereta api paling cepat milik Tiongkok. Kecepatan maksimumnya mencapai 460 kilometer (km)/jam.

Kecepatan rata-ratanya 251 km/jam. Atau kereta Harmoni CR dan kereta CR Fuxing. Juga asal Tiongkok. Yang memiliki kecepatan tertinggi sampai 350 km/jam.

Tapi, naik Haramain Express tetap menyenangkan. Haramain Express (Qithar Haramain Al-Sari’/Haramain High Speed Railway). Meski kecepatan lajunya tidak sampai 350 km/jam, Haramain Express melipat waktu begitu banyak.

Sangat membantu jemaah yang sudah melakukan umrah dan atau haji. Berkali-kali. Yang ”ngeri” duluan, membayangkan perjalanan darat dengan bus menuju Makkah. Atau sebaliknya.

Perjalanan darat menggunakan bus dari Madinah ke Makkah menghabiskan waktu 6–6,5 jam! Itu pun jika sopir busnya tidak banyak menghampiri rest area.

Namun, dengan menggunakan Haramain Express, jarak tempuh 450 km itu dipangkas menjadi hanya 2 jam 20 menit!  

Setelah ambil miqat di Bir Ali (Bi’run Ali), saya melanjutkan ke stasiun Haramain Express. Hanya butuh waktu 20 menit. Stasiunnya megah. Juga modern. Menunjukkan kemewahan teknologi. Bagian kemajuan Arab Saudi. Desain stasiunnya khas Arab. Terdiri empat lantai. Yang terhubung dengan eskalator dan lift.

Jangan harap menemukan papa nama konvesional. Semua sudah berbentuk digital. Semua tulisan merek dan tempat layanan umum tak ada yang timbul. Tulisan-tulisan itu memancar dari landasan layar. Dengan aneka warna.

Sesuai trademark masing-masing merek. Ada ATM beberapa bank lokal, AlBaik (restoran cepat saji khas Arab, saingan KFC), Dunkin’ Donuts, Starbucks, dll.

Juga ada musala wanita dan pria, tempat pemeriksaan paspor, Madinah Health Cluster (ruang kesehatan stasiun), Pharmacy Zahrat (apotek), dlsb.

Semua nama-nama itu, sekali lagi, tertulis di papan digital. Kita tahu, hingga detik ini, digitalisasi merupakan lambang modernisasi yang paling gampang dikenali. Untuk membedakan (dan membandingkan) dengan era konvensional.

Kereta berangkat tepat waktu. Pukul 17.30. Sesuai dengan jadwal di tiket elektronik. Yang saya simpan di kotak catatan HP.

Ketepatan waktu itu sendiri menjadi tanda perubahan budaya di Arab. Yang serba molor dan tak tentu. Hal yang kerap dikeluhkan selama ini.

Saya bersama istri dan anak duduk di kereta nomor 001. Di gerbong paling depan. Sesuai dengan yang tertera di tiket. Di bangku nomor 6, 7, dan 8. Kelas bisnis. Hanya ada dua kelas di Haramain Express: ekonomi dan bisnis.

Saya sendiri pilih kelas bisnis. Menjawab tantangan dari Direktur PT Al Haram Ziarah Wizatama Syukron Ma’mun Hidayat.

”Mumpung ada kesempatan. Harus naik yang bisnis. Biar bisa merasakan fasilitas mewah dari kereta cepat Haramain Express,” kata Syukron.

Benar juga. Begitu masuk ke gerbong bisnis, kemewahan sangat terasa. Kursi penumpangnya hanya ada 18. Kanan dua kursi. Kiri satu kursi. Kursi di bagian tengah berhadap-hadapan. Dengan meja di tengah sebagai pembatas. Sekaligus menaruh makanan.

Ya, penumpang memang mendapat satu kotak makanan. Terdiri dari lima macam menu. Makanan itu disajikan setelah pramugari membagikan secangkir kopi khas Arab.

Kemewahan fasilitas dalam kereta bertolak belakang dengan pemandangan di luar. Sepanjang rute yang dilalui, hanya padang pasir dan gunung batu yang tampak.

Sesekali ada bangunan. Tapi minimalis sekali jumlahnya. Baru setelah mendekati Kota Jeddah, pemandangannya agak enak dipandang mata. Kerlap-kerlip lampu memancar dari jalan, rumah, dan gedung-gedung tinggi.

Untuk membunuh rasa bosan, saya lebih fokus pada display rute perjalanan yang dilalui kereta. Dari awal keberangkatan di Madinah, lalu singgah di Stasiun Jeddah, sampai stasiun terakhir di Makkah.

Display rute itu tersaji di papan monitor televisi. Yang tergantung di atap. Persis di atas kursi tengah penumpang. Dengan arah bertolak belakang.

Penumpang di bagian belakang dan depan gerbong pun bisa melihatnya dengan jelas. Mereka bisa tahu. Sudah sampai mana kereta yang ditumpanginya. Dan kurang berapa lama perjalanan kereta cepatnya.

Display rute itu mirip dengan yang ada di pesawat. Terutama pesawat jarak jauh. Atau pesawat kelas premium. Penumpang tidak hanya bisa melihat display rute perjalanan yang sedang dan akan dilaluinya di televisi monitor.

Melainkan juga bisa melihat dari dekat. Persis di depan matanya. Karena display rute itu terletak di belakang sandaran kursi penumpang di depannya. Bercampur dengan kumpulan film, games, dan acara televisi. 

Kembali ke display rute perjalanan Haramain Express, awalnya berupa blok berjalan berwarna merah. Rute yang sudah dilalui berubah warna hitam.

Dengan beberapa variasi tampilan rute. Misal, perjalanan dari Madinah sudah sampai Jeddah, maka garis rute dari dua kota itu berubah warna hitam. Sedangkan dari Jeddah sampai Makkah masih berwarna merah.

Bukan hanya berisi informasi rute perjalanan. Di layar display juga terpampang banyak informasi. Dalam bahasa Arab dan Inggris.

Contoh: Destination Makkah stops Jeddah at 19.15. Juga ada display tanggal dan hari perjalanan. Serta data cuaca di luar kereta.

Sayang sekali, data suhu di dalam kereta cepat buatan Spanyol itu tidak tersaji. Pastinya sangat dingin. Saking dinginnya, saya sampai menggigil.

Dinginnya menembus dua lembar kain ihram yang membungkus tubuh saya. Parah sekali. Dinginnya terbawa sampai di kamar Hotel Movenpick. Tempat saya menginap selama di Makkah. Semalam suntuk. Gak main, ya. Masak naik kereta cepat malah kedinginan!

Wa ba’du. Kereta cepat Haramain Express merupakan fasilitas alternatif. Bagi mereka yang ingin melipat waktu dari Madinah ke Makkah dan sebaliknya.

Terutama bagi mereka yang sudah berkali-kali umrah dan atau berhaji. Tapi, bagi yang baru pertama umrah/haji, sebaiknya tetap naik bus. Menempuh perjalanan minimal enam jam.

Waktu enam jam itu belum sebanding. Untuk menapaktilasi perjalanan yang ditempuh Nabi Muhammad SAW. Baik ketika menempuh perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah, atau pun saat melakukan perjalanan haji wada’ dari Madinah ke Makkah.

Waktu enam jam di jalanan aspal mulus tidak ada apa-apanya dibanding perjalanan Nabi. Saat itu, Nabi dan rombongan membutuhkan waktu delapan hari sembilan malam. Melewati gurun, ngarai, dan menembus gunung batu.

Maka, ketika badan menggigil, saya terus tafakur. Saat melintasi gurun, ngarai, dan gunung batu, saya membayangkan Nabi dan rombongan sedang naik unta dan sebagian berjalan kaki. Begitu beratnya....

Saya berusaha menghibur diri. Membayangkan kelak ada kereta cepat Surawangi. Rute Surabaya–Banyuwangi dan sebaliknya. Mirip Madinah–Makkah.

Yang melipat waktu perjalanan kereta Surabaya–Banyuwangi enam jam menjadi 2 jam lebih 30 menit. Kapan? Entahlah.

*) Pekolom Banyuwangi

Editor : Ali Sodiqin
#madinah #Express #gurun #Kereta Api #makkah