RADARBANYUWANGI.ID – Selain Lontar Yusuf, Banyuwangi juga memiliki sederet manuskrip kuno yang kaya akan nasihat.
Salah satu manuskrip kuno tersebut adalah Lontar Ahmad, yang berisi kisah perjalanan saudara kembar bernama Ahmad dan Muhamad.
Kedua saudara kembar itu dikisahkan berasal dari negeri Syam dan kemudian menjadi raja dan menteri di Mesir usai memakan hati dan kepala seekor burung ajaib.
Walaupun mengandung kata Ahmad, naskah ini bukan berkisah tentang Nabi Muhammad SAW.
Tetapi cerita rakyat yang mengandung nilai-nilai Islam dan budaya lokal.
Lontar Ahmad diperkirakan ditulis pada masa sebelum abad ke-20. Namun, tidak ada tanggal pasti yang tercatat dalam naskah tersebut.
Naskah ini merupakan manuskrip kuno yang sudah digunakan dalam ritual pelantunan tembang Osing di Banyuwangi. Naskah ini sudah beredar sejak lama di pesisir utara Jawa.
Kondisi fisik naskah yang sudah menua dan penggunaan tinta hitam serta merah menunjukkan Lontar Ahmad merupakan karya yang berasal dari masa lalu.
Kemungkinan beberapa abad lalu, meskipun sumber spesifik tentang tahun penulisan Lontar Ahmad belum ditemukan.
Hingga kini, tradisi pembacaan Lontar Ahmad masih berlangsung setahun sekali di Dusun Delik, Desa Jembesari, Kecamatan Giri, Banyuwangi.
Selain sebagai teks ritual, Lontar Ahmad juga berkembang sebagai seni pertunjukan tradisional yang mirip dengan kesenian Janger dan Rengganis. (gas/bay)
Editor : Ali Sodiqin