RADARBANYUWANGI.ID - Lontar Yusuf merupakan salah satu warisan living manuscripts, naskah yang hidup dalam masyarakat Suku Osing Banyuwangi.
Manuskrip kuno ini menceritakan puisi naratif tentang kehidupan salah seorang rasul bergelar Ulul Azmi dalam Islam yakni Nabi Yusuf.
Keberadaan Lontar Yusup sebagai living manuscripts ini menjadikan mocoan Lontar Yusup di Banyuwangi ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional di tahun 2019.
Naskah ini memaparkan kisah hidup seorang Nabi pilihan Tuhan (duta Nabi luwih) bernama Yusuf, putra dari Ya’qub, dengan latar negeri Mesir.
Nabi Yusuf merupakan salah satu Nabi yang sangat populer dalam kepercayaan agama samawi, termasuk dalam agama Islam.
Kehidupan Yusuf dikisahkan dari usia 12 tahun saat dia bermimpi melihat bulan dan sebelas bintang bersujud kepadanya dan laku durjana para saudara tirinya yang iri hingga membuangnya ke dalam sumur.
Kafilah dagang yang mendapati Yusuf kemudian mengantarkan jalan hidupnya ke dalam kehidupan istana hingga ia bersua dengan Putri Zulaikha. Akibat tertimpa fitnah, ia pun harus mendekam di penjara.
Namun berkat kemampuannya menakwilkan mimpi sang raja, Yusuf kemudian dilepaskan dari penjara, bahkan sang Raja Mesir kemudian menobatkannya sebagai Raja di negeri Mesir.
Lontar Yusuf diyakini telah ada sejak kebudayaan Islam masuk ke pulau Jawa sekitar abad ke-11.
Manuskrip ini ditulis diatas pelepah daun lontar dengan menggunakan aksara Jawa yang pada kemudian dalam perkembangannya menjadi huruf Arab Pegon.
Dalam serat tersebbut berisi tembang atau lagu Asmaradana di bagian manggala atau bagian pengantar.
Dimana isinya mengisahkan tentang fase kehidupan asmara manusia dalam hal ini Nabi Yusuf.
Naskah kuno Lontar Yusuf sendiri berisi 12 pupuh atau puisi, 593 bait, dan 4.366 larik.
Setiap tembang memiliki didalamnya memiliki arti masing-masing yang menggambarkan tentang kehidupan manusia.
Di mana manusia hidup di dunia harus paham tentang empat perkara, yaitu pupuh Kasmaran, Sinom, Durmo, dan Pangkur.
Perkara yang pertama pupuh Kasmaran. Fase dimana manusia menimbulkan rasa asmara jatuh hati terhadap lawan jenis.
Perkara yang kedua yaitu sinom yang memiliki makna sek enom atau masih muda.
Pada masa remaja memiliki banyak waktu luang dan tugas. Di antaranya menuntut ilmu sebagai bekal kehidupannya.
Perkara yang ketiga yakni Durmo. Di sini memiliki makna mendarmabaktikan apa yang elah dimiliki.
Di mana manusia wajib mengajarkan agar dapat saling memberi dan melengkapi satu sama lain dengan saling tolong menolong, welas asih, dan rela memberikan bantuan kepada siapa saja.
Perkara yang keempat atau yang terakhir yakni Pangkur. Di sini memiliki arti waktunya mungkur atau sudah waktunya kembali.
Secara lengkap 12 pupus atau tembang tersebut berisi Maskumambang, Mijil, Sinom, Kinanthi, Kasmaran, Asmaradana, Gambuh, Dhandanggula, Durma, Pangkur, Megatruh dan Pucung.
Di mana isinya mengisahkan awal mula manusia mulai dari alam ruh hingga meninggal dunia. Mocoan Lontar Yusuf digelar di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Banyuwangi.
Waktunya dilaksanakan mulai selepas salat Isya hingga usai sebelum waktu salat Subuh. (nic/bay)
Editor : Ali Sodiqin