RADARBANYUWANGI.ID - Peradaban Islam sekilas identik dengan jejak peninggalan berupa bangunan fisik.
Namun lebih dari itu, Islam telah memperkaya khazanah pemikiran dalam bentuk manuskrip. Seperti beberapa manuskrip yang ditemui di Banyuwangi.
Manuskrip kuno sendiri bisa menjadi jendela ke masa lalu yang dapat memberikan pemahaman mendalam tentang sejarah peradaban manusia.
Manuskrip dalam Islam tidak hanya terbatas pada Kitab Suci Alquran, hadist, dan fikih.
Tetapi lebih dari itu, manuskrip dalam Islam menjangkau keilmuan secara umum seperti sastra, tata bahasa, sains, matematika, sejarah, geografi, kedokteran, astronomi, hingga filsafat.
Semua manuskrip yang berasal dari peradaban Islam bisa dikategorikan sebagai manuskrip Islam apabila ditulis oleh penulis muslim dan terlahir dari struktur komunitas Muslim.
Ini artinya naskah tersebut itu diproduksi dalam tradisi intelektual Islam yang dominan, seperti kesultanan Islam, pondok pesantren, atau komunitas muslim.
Sementara itu, manuskrip Islam terbentang luas di dunia Islam yang mencakup zona geografi yang luas.
Diantaranya membentang dari Afrika Barat, jazirah Arab, hingga semenanjung Melayu dan Indonesia.
Manuskrip tersebut ditulis dalam berbagai bahasa dan sistem aksara seperti Arab, Persia, dan Turki.
Tetapi ada juga manuskrip yang ditulis dalam bahasa Urdu, Pashtu, Jawa, Melayu, Makassar, dan Swahili.
Baca Juga: Ajak Milenial Belajar Manuskrip Kuno
Selain itu, manuskrip Islam di Eropa Barat dan Amerika Utara juga berkembang pada abad 15 Masehi hingga abad 20 masehi.
Dalam manuskrip Arab ada dua aksara yang dominan digunakan yakni Kufi dan Naskhi. Aksara kufi sangat populer digunakan dalam manuskrip-manuskrip Islam asal Andalus dan Maroko.
Sementara, khat naskhi tersebar dalam naskah yang tesebar di Persia, Turki, dan Mughal.
Manuskrip Islam di periode awal banyak ditulis di atas kertas kulit. Sebagian lagi diwarnai dengan lapis lazuli. Dimana teknologi pembuatan kertas baru ada di Baghdad pada abad ke-8 M. (nic/bay)
Editor : Ali Sodiqin