RADARBANYUWANGI.ID - Jalan nasional Banyuwangi - Jember ternyata melintasi wilayah Jajag di Kecamatan Gambiran. Karena itu, tak heran bila wilayah tersebut ada terminal bus.
Terminal Jajag sudah ada sejak lama. Pada tahun 1960-an sudah ada pangkalan angkutan umum di sana.
Namun, bangunan terminal terbaru yang sampai saat ini eksis merupakan bangunan terminal yang diresmikan pada Oktober 1994 silam.
Terminal ini telah melayani berbagai moda transportasi. Mulai dari mobil penumpang umum (MPU), angkutan perintis, hingga angkutan antarkota.
MPU yang beroperasi di Terminal Jajag melayani rute ke daerah seperti Kecamatamn Bangorejo, Kecamatan Siliragung, dan Kecamatan Pesanggaran.
Hingga 2010, terdapat tiga trayek aktif yang menghubungkan terminal ini dengan berbagai desa terpencil.
Armada yang digunakan didominasi oleh kendaraan berukuran kecil seperti Suzuki Carry, Mitsubishi Colt, dan Isuzu Elf.
Kemudian sejak tahun 2015, Damri cabang Banyuwangi menambahkan layanan angkutan perintis yang membuka akses ke daerah pelosok, yang sebelumnya sulit dijangkau kendaraan umum.
Rute ini menghubungkan Terminal Jajag dengan Pasar Sarongan, melewati berbagai titik. Seperti melewati Pasar Bangorejo, Siliragung, dan kawasan Sumberjambe.
Keberadaan angkutan perintis ini tidak hanya mempermudah mobilitas warga, tetapi juga mendukung pertumbuhan sektor pariwisata.
Banyak destinasi wisata alam tersembunyi yang kini lebih mudah diakses berkat angkutan perintis ini, seperti Pulau Merah, Pantai Rajegwesi, Teluk Hijau, hingga Taman Nasional Meru Betiri.
Namun kini, nasib Terminal Jajag tak jauh beda dengan terminal lainnya. Seiring menurunnya intensitas bus antar kota dan kendaraan umum pedesaan, Terminal Jajag pun ikut sepi.
Tak heran, bila musim libur Idul Fitri tiba, kawasan luas terminal ini bisa berubah jadi area parkir kendaraan milik pemudik. (gas/bay)
Editor : Ali Sodiqin