RADARBANYUWANGI.ID - Terminal Sritranjung di Ketapang, merupakan terminal penumpang tipe A terbesar di Banyuwangi.
Meski tak seramai dulu, tempat ini selalu hadir menjadi zona penampung kendaraan (bufferzone) setiap penyeberangan Selat Bali mengalami masalah.
Berdiri sejak 1996, terminal ini berperan sebagai pusat transportasi darat utama yang menghubungkan berbagai wilayah, termasuk Bali dan Jawa Timur. Namanya diambil dari tokoh legenda Kerajaan Blambangan, Sri Tanjung.
Terletak sekitar 10 km dari pusat kota Banyuwangi dan hanya 2,5 km dari Pelabuhan Ketapang, terminal ini melayani berbagai moda transportasi.
Di sana beroperasi mulai dari mobil angkutan kota, mobil penumpang umum (MPU), serta bus antarkota dalam provinsi (AKDP), bahkan seharusnya ada bus antar kota antar provinsi (AKAP).
Sayangnya, aktivitas di terminal ini cenderung sepi. Akibat menurunnya jumlah penumpang dan panjangnya interval kedatangan bus di kawasan tersebut.
Angkutan kota yang tersedia di Terminal Sritanjung hanya memiliki satu trayek menuju Terminal Brawijaya. Angkot ini melintasi titik penting seperti Pelabuhan Ketapang dan Stasiun KA Ketapang.
Sementara itu, MPU di terminal ini menghubungkan berbagai kawasan utara Banyuwangi, termasuk Kalipuro dan Wongsorejo.
Bus ekonomi yang beroperasi di sini melayani berbagai tujuan, seperti Surabaya, Situbondo, hingga Jakarta, dengan sistem pembayaran langsung di atas kendaraan.
Perusahaan otobus (PO) ternama seperti Akas IV, Damri, dan Gunung Harta menjadi operator utama di terminal ini.
Selain itu, Damri kembali mengaktifkan layanan angkutan pemadu moda sejak 2018 untuk mempermudah akses ke Bandara Internasional Banyuwangi.
Terminal ini juga berperan penting selama pandemi Covid-19 sebagai buffer zone dan tempat pengecekan kesehatan penumpang sebelum penyeberangan ke Bali.
Meskipun kurang ramai, Terminal Sritanjung tetap menjadi gerbang transportasi yang krusial bagi mobilitas masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya. (gas/bay)
Editor : Ali Sodiqin