Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Nama Desa Kelir Berasal dari Bekas Layar Putih Pertunjukan Wayang Kulit yang Membatu

Niklaas Andries • Kamis, 5 Desember 2024 | 03:00 WIB
Foto lama yang menggambarkan rumah keluarga Jacob Senduk yang megah di masa lalu (kiri). Kondisi puing bekas rumah keluarga Jacob Senduk di Desa Kelir, Kecamatan Kali
Foto lama yang menggambarkan rumah keluarga Jacob Senduk yang megah di masa lalu (kiri). Kondisi puing bekas rumah keluarga Jacob Senduk di Desa Kelir, Kecamatan Kali

RadarBanyuwangi.id – Salah satu daerah dengan nama unik di Banyuwangi adalah Desa Kelir di Kecamatan Kalipuro.

Kelir dalam bahasa Jawa dan Bahasa Oseng, bisa memiliki makna berwarna atau warna.

Tentu saja, asal muasal nama daerah ini ikut memberikan warna tersendiri bagi perjalanan sejarah Banyuwangi.

Ada juga yang menyebut Kelir sebagai sebutan pada layar kain putih untuk pertunjukan wayang kulit.

Sementara itu, Desa Kelir memiliki luas wilayah 5,22 Kilometer persegi (Km2). Lokasi desa ini berada di Kecamatan Kalipuro.

Ada sekitar lebih kurang 5.364 jiwa penduduk yang mendiami desa yang berjarak sekitar 15 km dari pusat kota Banyuwangi ini.

Desa Kelir terbagi dalam empat dusun. Keempat dusun tersebut diantaranya Dusun Banjarwaru, Dusun Kopenbayah, Dusun Krajan, dan Dusun Pekarangan.

Mayoritas penduduknya bekerja di bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, dan sektor lainnya.

Sebagai desa yang ada di wilayah barat Kota Banyuwangi, Desa Kelir memiliki perjalanan dan lika-liku perjalanan yang unik.

Merunut cerita dari masyarakat, Desa Kelir memiliki sesepuh desa yang familiar disebut dengan M Rajak. Dia juga mantan Kepala Desa Kelir. Masyarakatnya juga kental akan budaya.

Salah satunya kerap digelar pertunjukan wayang kulit di sana. Pertunjukkan ini menjadi sebuah ritual atas hasil panen padi, menolak balak, dan agar sumber mata air tetap mengalir sehingga para petani tidak kekurangan air.

Konon, saat pertunjukkan sedang asyik-asyiknya, daerah di sekitar pertunjukkan terkena banjir bandang.

Hal ini membuat Kelir, semacam kain putih untuk layar pertunjukkan wayang kulit, konon ikut hanyut dibawa banjir.

Kain layar putih itu, kemudian tersangkut disebelah selatan Puskesmas Kelir di sebuah batu besar. Posisinya batu itu ada di sebelah selatan Puskesmas Kelir saat ini.

Keajaiban terjadi, di mana kain itu kemudian berubah menjadi batu. Maka sampai sekarang, masyarakat menyebutnya dengan batu kelir.

Hingga pada akhirnya, kawasan itu berubah menjadi nama desa yakni Desa Kelir.

Selain cerita rakyat tersebut, keberadaan Desa Kelir juga tak bisa lepas dari keberadaan perkebunan kopi milik kolonial Belanda.

Jejak itu di antaranya diwujudkan dengan keberadaan White House Kelir.

Rumah milik Jacob Senduk itu dibangun sekitar 1915. Kini rumah itu tinggal puing dan kenangan.

Ada yang menyebut kemudian bila komunitas masyarakat yang tinggal di Desa Kelir berasal dari pekerja kebun kopi milik tuan meneer dan keturunan dari Jacob Senduk tersebut. (nic/bay)

Editor : Ali Sodiqin
#kalipuro #asal usul #perkebunan kopi #Layar #wayang kulit #desa kelir #belanda #Nama desa #banyuwangi #white house