RadarBanyuwangi.id – Sedikitnya ada 17 sungai besar yang tersebar di berbagai wilayah di Bumi Blambangan. Ini menunjukkan betapa besarnya potensi sumber daya air di Banyuwangi.
Banyuwangi tercatat memiliki sedikitnya 17 sungai besar. Panjang belasan sungai tersebut bervariasi. Ada yang panjangnya hanya 6,173 kilometer (km) yaitu Sungai Selogiri di Kecamatan Kalipuro sebagai sungai terpendek.
Ada juga sungai terpanjang dengan aliran mencapai 80,7 km yaitu Sungai Baru yang melintasi wilayah di Kecamatan Kalibaru, Kecamatan Glenmore, Kecamatan Tegalsari, hingga Kecamatan Pesanggaran di pesisir Selatan Jawa.
Sementara di area seputar wilayah kota Banyuwangi, ada beberapa sungai. Di antaranya Sungai Kalilo, Sungai Sobo, Sungai Pakis alias Kali Bagong, Sungai Tambong di Kecamatan Kabat, dan beberapa sungai lainnya.
Kepala Bidang (Kabid) Operasi dan Pemeliharaan pada Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Banyuwangi Deddy Koerniawan mengatakan, Sungai Kalilo memiliki debit air yang cukup besar yaitu 100 ribu liter per detik.
Sedangkan Sungai Sobo memiliki debit sekitar 200 ribu liter per detik.
”Sungai Kalilo sudah tidak ada sawah di area hilirnya. Kalau Sungai Sobo masih ada sekitar 500 hektare,” ujarnya.
Ya, hingga saat ini, sungai yang ada di seputar wilayah kota Banyuwangi sebagian besar masih dimanfaatkan sebagai sumber pengairan untuk pertanian.
”Selama ini ada yang dimanfaatkan sebagai sumber listrik. Lainnya masih dimanfaatkan untuk pertanian,” imbuh Deddy.
Dengan banyaknya sungai di Banyuwangi, potensi lain seperti banjir dan lainnya juga cukup besar.
Oleh karena itu, demi menjaga stabilitas debit air sungai tetap normal dan pemanfaatan sungai tetap terjaga, Dinas PU Pengairan Banyuwangi melakukan berbagai upaya antisipasi.
”Antisipasi jika ada banjir, ya membangun rumah pompa. Saat ini ada tiga rumah pompa, dua di Lingkungan Lebak (Kelurahan Tukangkayu), satu di Kampung Ujung (Kelurahan Kepatihan),” jelasnya.
Selain itu, Deddy berharap agar masyarakat juga turut menjaga kebersihan sungai. Yakni dengan tidak membuang sampah sembarangan pada saluran air atau sungai.
”Kami juga selalu siagakan alat berat di wilayah Korsda Singojuruh. Karena tidak jarang, banjir itu disebabkan adanya penyumbatan di area jembatan,” tandasnya. (rei/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin