Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dilaunching Bupati Ipuk Sejak 2021, Batik Macan Putih Masih Belum Diproduksi Massal

Dedy Jumhardiyanto • Minggu, 8 Oktober 2023 | 23:15 WIB
TELITI: Perajin batik melukis kain sesuai motif yang dipesan pembeli.
TELITI: Perajin batik melukis kain sesuai motif yang dipesan pembeli.

JAWA POS RADAR BANYUWANGI – Banyuwangi punya koleksi motif batik khas tema kearifan lokal. Namanya motif batik macan putih.

Meski begitu, motif batik macan putih masih belum diproduksi massal. Motif ini di-launching Bupati Ipuk Fiestiandani Azwar Anas di Balai Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat, tahun 2021 silam.

Awal penciptaan motif tersebut untuk memunculkan batik khas dengan kearifan lokal di Desa Macan Putih, yang konon pernah berdiri Kerajaan Macan Putih.

Untuk bisa menghasilkan karya batik dengan motif khas tersebut, dilakukan sejumlah riset kecil-kecilan terlebih dahulu.

 ”Mulai dari membaca buku dan sejumlah literatur seperti Babad Tawang Alun, serta cerita tutur dari masyarakat Macan Putih,” ujar Dedy Wahyu Hernanda, desainer motif batik macan putih.

Usai mengumpulkan materi cerita sejarah dari berbagai sumber, kemudian Dedy mulai mengaplikasikan dalam bentuk gambar pada kertas. Setelah sketsa gambar motifnya selesai digambar di kertas, baru kemudian diwujudkan dalam kain.

TELITI: Perajin batik mencampurkan sejumlah bahan baku untuk membuat warna yang pas sesuai selera pemesan.
TELITI: Perajin batik mencampurkan sejumlah bahan baku untuk membuat warna yang pas sesuai selera pemesan.

Di dalam motif batik macan putih itu, lanjut Dedy, diberi sentuhan motif batik khas Banyuwangi yang sudah ada. Sebut saja motif gajang oling, kawung, beras kutah, cerucuk bung, dan motif jajang sebarong.

Motif batik kawung dalam aplikasi digunakan dalam pagar keraton atau kerajaan. Sedangkan motif cerucuk dijadikan sebagai pintu gerbang.

Motif cerucuk bung yang berbentuk segitiga ini disebut mirip gigi buaya yang dapat diartikan sebagai simbol pertahanan.

Setelah itu, berdasar cerita tutur bahwa di belakang tembok kerajaan juga dikelilingi bambu, dibuat motif jajang sebarong (bambu serumpun).

Tidak sampai di situ, dalam motif batik tersebut khas utamanya adalah gambar macan putih dan perkutut putih yang merupakan representasi hewan peliharaan Tanpo Uno Tanpo Uni, ayahanda Prabu Tawang Alun.

Pada bagian pelataran kerajaan juga diberikan aksen gambar motif beras kutah, sebagai simbol bahwa Kerajaan Macan Putih yang dipimpin Prabu Tawang Alun masyarakatnya makmur.

 ”Jadi beras kutah ini adalah simbol kemakmuran dan kesejahteraan,” jelas Dedy.

Batik Macan Putih, lanjut Dedy, merupakan sebuah gambaran sketsa cerita perjalanan Prabu Tawang Alun, dengan tidak meninggalkan sentuhan motif batik khas Banyuwangi yang sudah ada.

”Jadi, memadukan motif batik yang sudah ada dengan cerita perjalanan Kerajaan Macan Putih. Jadilah batik khas macan putih ini,” jelas warga Desa Gladag, Kecamatan Rogojampi ini.

Untuk membuat motif batik khas tersebut bukan perkara mudah. Selain harus belajar dari literatur dan cerita tutur, selama proses pembuatan motif batik tersebut juga ada sejumlah kejadian di luar nalar.

Seperti kain terbakar saat dibatik menggunakan malam, hingga pembatik dan penjahit yang mengalami sakit.

”Jadi, saya bersama dengan tiga orang yang membantu saya dalam proses membuat batik motif ini sakit, badan meriang, demam semua,” katanya.

Karena itu, Dedy masih belum berani memproduksi batik khas macan putih tersebut secara massal.

 Sebab, pihaknya masih harus menyempurnakan lagi dari gambar awal. Masih ada bagian-bagian yang terpotong dan belum lengkap.

”Yang sudah jadi baru tiga lembar kain dan itu sudah jadi rompi. Kami coba akan menyempurnakannya terlebih dahulu,” tandasnya. (ddy/bay/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#Motif #kearifan lokal #kain #batik #sketsa #corak batik #Macan putih #Ipuk Fiestiandani #banyuwangi