Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Punya Arti Gemah Ripah Loh Jinawi, Perajin Batik Banyuwangi Kampanye Motif Sembruk Cacing

Ayu Lestari • Minggu, 8 Oktober 2023 | 20:15 WIB

 

TERBARU: Motif batik Sembruk Cacing mulai dikenalkan lebih luas kepada masyarakat Banyuwangi.
TERBARU: Motif batik Sembruk Cacing mulai dikenalkan lebih luas kepada masyarakat Banyuwangi.

JAWA POS RADAR BANYUWANGI – Batik Banyuwangi terus berkembang mengikuti tuntutan zaman. Kali ini, para stakeholder di Bumi Blambangan tengah gencar mengampanyekan motif batik sembruk cacing.

Pemilik sebuah galeri batik di Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, Firman Sauqi mengatakan, batik sembruk cacing bukan termasuk jenis motif baru di Banyuwangi.

Hanya saja, motif batik tersebut yang diusung sebagai tema event Banyuwangi Batik Festival (BBF) 2023.

Sembruk cacing artinya rumah cacing, yang dikonotasikan bahwa setiap ada rumah cacing menandakan bahwa tanah itu subur.

Secara garis besar dapat diartikan Banyuwangi merupakan tanah yang subur, gemah ripah loh jinawi.

Terbukti pada dasawarsa pelaksanaan BFF, para perajin batik berhasil mengembangkan perekonomian, sekaligus juga pelestarian hak intelektual batik.

”Sampai saat ini perputaran produksi dan penjualan terus naik signifikan bila dibandingkan dengan daerah lainnya. Karena di Banyuwangi, pemerintah daerah sangat memfasilitasi UMKM. Tidak hanya UMKM batik, tetapi hampir semua bidang,” ujar Firman.

Firman mengaku, batik sembruk cacing memang belum terlalu familier di kalangan masyarakat.

Misalnya, jika dibandingkan dengan motif batik Banyuwangi lainnya, yakni gajah oling. Menurutnya, sembruk cacing merupakan jenis batik yang latarnya full motif.

Dengan begitu, pengerjaannya harus sangat teliti dan membutuhkan keterampilan yang tinggi.

Menurut Firman, minat masyarakat terhadap batik semakin meningkat. Tidak hanya digunakan dalam event tertentu, batik kini juga sudah biasa dikenakan dalam aktivitas sehari-hari.

Bahkan, batik juga dikombinasikan dengan jenis kain berbeda agar lebih indah.

”Dalam event batik tersebut (BBF, Red) kami mengusung batik lama yang awalnya masyarakat tidak begitu tahu, akhirnya jadi mengerti dan menjadi salah satu pilihan batik baru.

Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Kecintaan terhadap kain batik sekarang jauh lebih meningkat,” jelas Firman.

Sementara itu, unsur tanah, air, dan udara menginspirasi Wahyu, seorang perajin dan pembuat desain batik di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Menurutnya, tanah divisualisasikan melalui pola latar sembruk cacing.

Sedangkan bentuk bumi berisikan kembang telon. Sementara simbol keberadaan ”tuyo” atau ”banyu arum’’, erat kaitannya dengan perlengkapan ritual adat atau pun sesandingan lainnya, dalam upacara ritual adat masyarakat khususnya suku Oseng.

Menurut Wahyu, dalam motif batik sembruk cacing ini ada pesan yang tersirat. Bahwa sebagai manusia agar ingat pada sangkan paraning dumadi atau asal usul manusia diciptakan dan dikembalikan.

Karena itu, kita harus hidup berpegang pada sebuah prinsip gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belangnya, dan manusia mati akan meninggalkan nama baiknya.

Sehingga, imbuh Wahyu, seburuk apa pun rupa wujud sebagai manusia, asalkan masih bisa memberikan manfaat untuk manusia dan mahluk yang lain, maka nama baik akan selalu dikenang untuk selamanya.

Karena pada dasarnya Tuhan menciptakan segala sesuatu itu tidak ada yang sia-sia. ”Jadi, dalam penciptaan motif batik ini tidak sembarang membuat, tapi ada sebuah proses dan makna filosofi yang amat dalam,” jelasnya.

Batik motif tersebut, lanjut Wahyu, sudah diproduksi massal untuk pelaksaan BBF 2023 dengan tema Sembruk Cacing.

”Semoga batik khas Banyuwangi akan terus tumbuh dengan berbagai macam kreasi dan inovasinya,” tandasnya. (tar/ddy/bay/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#Motif #cacing #festival #Perajin #batik #keterampilan #banyuwangi