RadarBanyuwangi.id – Tradisi endog-endogan Masyarakat Banyuwangi pernah mencatatkan diri dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).
Tepatnya pada 24 April 2026. Dimotori Jawa Pos Radar Banyuwangi, replika Masjid Agung Baiturrahman (MAB) Banyuwangi yang disusun dari ribuan telur berhasil memecahkan rekor MURI.
Sayangnya, saat itu, miniatur masjid dengan bobot 1 ton itu tidak sempat diarak keliling kota Banyuwangi.
Penyebabnya, masyarakat lebih dulu menyerbu ribuan telur tersebut sebelum pawai endog-endogan dimulai.
Untungnya, sebelum telur diserbu warga, tim dari MURI sudah tuntas melakukan pengecekan di garis start.
Karena itu, meskipun miniatur MAB tidak ikut diarak keliling kota, namun MURI sudah menyatakan miniatur masjid dari telur tersebut sudah pantas memecahkan rekor.
Penyerahan sertifikat MURI langsung diserahkan oleh tim penilai kepada Bupati Banyuwangi kala itu, Ratna Ani Lestari, di garis start.
Tim Penilai MURI, Okke Robino mengaku sangat kagum kepada publik Banyuwangi.
Sebab, pemecahan rekor pada 2006 tersebut ini merupakan yang ketiga sejak tahun 1994 silam.
Rekor MURI pertama diraih warga Banyuwangi bernama Khairudin, yang bisa menirukan berbagai macam bunyi.
Selanjutnya Bupati Ratna Ani Lestari dan I Gede Winasa yang meraih rekor MURI sebagai pasangan suami isteri pertama yang menjadi bupati di dua kabupaten berbeda, Banyuwangi dan Jembrana.
‘’Sekarang Banyuwangi meraih rekor MURI dengan miniatur Masjid yang ditempel telur dan baru pertama dilakukan,’’ kata Okke saat itu.
Ditambahkan Okke, sebelum pemecahan rekor miniatur masjid dari telur, sebelumnya memang ada beberapa rekor MURI miniatur masjid yang terpecahkan.
Yaitu miniatur Masjid yang terbuat dari cokelat, dan miniatur masjid dari dodol.
‘’Khusus di sini (Banyuwangi) mendapat nilai plus. Karena sebelum batas waktu, jumlah telur yang dibutuhkan sudah melebihi dari jumlah yang dibutuhkan. Ini berarti masyarakat ikut berperan serta besar,’’ beber Okke. (als)
Editor : Ali Sodiqin