RadarBanyuwangi.id – Masyarakat Banyuwangi memiliki tradisi unik dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Warga di ujung timur Pulau Jawa ini memperingatinya dengan tradisi Endog-endogan.
Tradisi pawai telur hias di Banyuwangi ternyata memiliki filosofi tinggi.
Sesuai namanya, endog alias telur direbus hingga matang.
Kemudian diletakkan pada tusukan bambu kecil yang dilengkapi dengan bunga hias dari kertas.
Tusukan bambu dengan hiasan kembang kertas itulah yang disebut ”kembang endog”.
Kembang endog tersebut kemudian ditancapkan pada jodang.
Jodang adalah pohon pisang yang juga sudah dihias dengan kertas warna-warni.
Di balik kembang endog tersebut, ternyata mengandung filosofi, makna, dan pesan yang sangat tinggi dan luar biasa.
”Sesungguhnya tradisi Endog-endogan merupakan hasil akulturasi kreatif di Banyuwangi yang dilakukan untuk memperingati lahirnya Gusti Kanjeng Nabi Muhammad,” ungkap Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) Taufiq Wr. Hidayat.
Menurut Taufiq, makna filosofi kembang endog jelas, yakni menyimbolkan keimanan dan ketauhidan.
Telur ayam menyimbolkan prinsip seorang mukmin. Kulit telur yang keras sebagai simbol iman bahwa iman harus keras dan kokoh.
Kemudian kulit tipis sesudah kulit luar yang keras itu adalah simbol kesucian (fitrah), putih telur sebagai simbol ihsan (kebaikan/akhlak), dan kuning telur di dalam inti adalah simbol tauhid.
Maka seorang mukmin sepatutnya memiliki keimanan yang kuat, hatinya bersih (suci/fitrah), dan selalu berbuat baik (ihsan/akhlak mulia) sebagai hakikat seorang insan, dan di balik itu semua adalah inti lahir batin yang mentauhidkan Allah.
”Lalu telur itu ditusuk, sebagai simbol kepasrahan dan kemantapan berjuang dan berkorban di jalan Tuhan. Itulah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad yang wajib diteladani dan senantiasa dijadikan pedoman bagi setiap kaum muslimin,” jelas lelaki asal Desa Gitik, Kecamatan Rogojampi ini.
Dalam Endog-endogan terdapat simbol pohon yang terbuat dari batang pisang yang ranting-rantingnya terdiri dari kembang endog.
Pohon tersebut menyimbolkan lahir batin seorang mukmin, yakni seorang mukmin bagaikan sebatang pohon yang rimbun, tapi buahnya bermanfaat bagi sesamanya.
Hal ini merujuk pada hadis Nabi tentang hakikat seorang mukmin yang beriman dan berilmu.
Mukmin yang berilmu dan menjalankan serta mengamalkan ilmunya bagaikan pohon yang rimbun dan memberikan manfaat buah bagi manusia.
”Sedangkan mukmin yang kokoh iman-tauhidnya bagaikan sebatang pohon rimbun, akarnya menancap kuat ke bumi, daun-daunnya rimbun memberikan kesejukan, ranting-rantingnya bercabang-cabang menunjukkan amal baiknya sangat banyak, menjulang ke angkasa penuh wibawa,” pungkas Taufiq. (ddy/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin