RadarBanyuwangi.id – Dewi Ayu Larasati, telah merangkum sedikitnya ada 7 tradisi masyarakat Indonesia dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Dewi Ayu Larasati yang juga dosen di Universitas Sumatera Utara itu mengirim tulisannya ke Jawa Pos Radar Banyuwangi beberapa tahun yang lalu. Berikut ulasannya:
Pada bulan Rabiul Awal, umat Islam merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Peringatan Maulid Nabi ini sebagai wujud penghormatan sekaligus ungkapan rasa syukur atas lahirnya insan termulia yang membawa lentera hidayah di alam semesta.
Walaupun peringatan terhadap kelahiran Baginda Nabi Muhammad, bukanlah tradisi yang ada ketika Rasul hidup.
Perayaan ini justru menjadi tradisi dan berkembang dalam kehidupan umat Islam dari berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, jauh sesudah Rasulullah wafat.
Di Nusantara, peringatan Maulid dibawa oleh penyebar Islam yang berasal dari Hadramaut, Yaman.
Selanjutnya tradisi itu melebur dengan kebudayaan lokal yang kaya ragamnya, sehingga menciptakan banyak ritual khas.
Namun, peringatan Maulid Nabi hanya sebatas seremonial belaka. Sejatinya, harus ada hikmah yang diambil dari perayaan Maulid sekaligus mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari.
Untuk itu, makna dan hikmah tradisi Maulid Nabi di setiap daerah di Indonesia penting untuk dikaji.
Selain menyimpan nilai tauhid, tradisi tersebut tentunya sarat akan nilai-nilai kemanusiaan atau humanis.
Tradisi Maulid Nabi di berbagai daerah di Indonesia sarat akan nilai kepedulian terhadap sesama.
1. Khanduri Maulod di Aceh
Di Aceh, peringatan Maulid dikenal dengan istilah ”khanduri maulod”. Warga menggelar kenduri besar dengan mengundang anak yatim dan kerabatnya.
Menurut orang Aceh, memuliakan hari kelahiran Nabi dengan cara berkenduri besar-besaran adalah suatu keharusan bagi yang mampu.
Sebagai bentuk syukur atas nikmat Iman, Islam, dan Ihsan, yang telah diperoleh.
Melalui khanduri maulod, umat Islam bisa merajut persaudaraan serta kebersamaan.
Menu yang dihidangkan sangatlah istimewa seperti kuah beulangong dan bu kulah.
Kuah beulangong atau masakan kari berbahan dasar daging merupakan masakan tradisional yang sudah ada sejak era Kerajaan Aceh Darussalam.
Bu kulah adalah nasi putih dibungkus dengan daun pisang yang dibakar di atas bara api hingga terlihat hijau mengilap. Bentuknya mengerucut seperti piramida.
Kuliner ini disuguhkan kepada para undangan dalam hajatan khanduri maulod di masjid-masjid, meunasah-meunasah, bahkan di rumah warga masing-masing.
2. Bungo Lado di Padang Pariaman, Sumatera Barat
Tradisi Maulid Nabi Bungo Lado yang ada di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat juga sarat dengan nilai kepedulian.
Bungo lado (yang berarti cabai berbunga uang) adalah pohon yang dihias dengan daun berupa uang kertas.
Uang-uang yang menempel di pohon hias ini selanjutnya dikumpulkan dan disumbangkan untuk kegiatan keagamaan.
Selain bungo lado, prosesi arakan juga disertai makanan khas bernama jamba, yang dimasak oleh masyarakat desa. Jamba merupakan istilah yang berarti makan bersama.
Ibu-ibu di nagari setempat akan memasak beragam makanan mulai makanan berat seperti nasi dan lauk, hingga snack dan buah.
Ini merupakan simbol perhatian masyarakat setempat terhadap warga yang kurang mampu yang nanti makanan tersebut akan dibagi-bagikan.
Semua makanan dihidangkan di dalam masjid atau surau, kemudian angku atau imam mempersilakan seluruh masyarakat untuk makan bersama.
3. Upacara Sekaten di Keraton Yogyakarta
Upacara sekaten yang merupakan upacara yang digelar oleh masyarakat dan istana Keraton Yogyakarta dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW juga memiliki nilai kepedulian.
Prosesi menyebar ”udhik-udhik” sebagai tanda dimulainya perayaan sekaten menjadi simbol upaya dari seorang pemimpin untuk selalu berusaha menyejahterakan rakyat yang dipimpinnya.
Tradisi udhik-udhik adalah bentuk pemberian Raja Keraton Yogyakarta kepada rakyatnya atau sedekah berupa uang logam, beras kuning, serta bunga-bunga.
Hal ini sudah berlangsung sejak lama dan menunjukkan bahwa Sultan itu harus selalu memberikan sesuatu kepada rakyatnya karena posisi Sultan yang tinggi.
Tradisi ini juga sebagai upaya mendekatkan keraton dengan warga sekitarnya.
Dengan demikian, tradisi khanduri maulod, bungo lado, serta tradisi udhik-udhik pada upacara sekaten tidak hanya merupakan ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad, namun juga memiliki filosofi tentang kepedulian sesama dengan cara berbagi.
4. Endog-endogan di Banyuwangi, Jawa Timur
Tradisi endog-endogan hanya ada di Banyuwangi, Jawa Timur. Kata endog dalam bahasa Osing Banyuwangi berarti telur.
Telur jadi simbol kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini kerap dijadikan pengikat solidaritas masyarakat Banyuwangi, karena proses penyelenggaraannya melibatkan seluruh masyarakat, mulai dari awal hingga akhir.
Melalui kegiatan tersebut, akan terwujud suatu keakraban dan kerukunan bersama.
Dalam tradisi ini telur dihias dengan menarik dan ditancapkan ke batang pisang yang juga telah dihias.
Telur-telur yang telah direbus tersebut diarak keliling kampung dan selanjutnya dibagikan secara beramai-ramai kepada seluruh warga.
5. Tradisi Maudu Lompoa di Cikoang Tangkalar, Sulawesi Selatan
Tradisi maudu lompoa yang merupakan tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Cikoang Tangkalar, Sulawesi Selatan juga memiliki nilai filosofis untuk menguatkan solidaritas sosial budaya masyarakat.
Butuh persiapan panjang sekitar 40 hari untuk dapat menggelar tradisi ini.
Para pemuda bergotong-royong mempersiapkan replika kapal atau julung-julung.
Julung-julung ini berisi hidangan khas berupa nasi pamatra atau setengah matang yang dilengkapi lauk ayam kampung dan telur warna-warni penuh hiasan bunga kertas dan male atau guntingan kertas minyak menyerupai tubuh manusia.
Mengakhiri prosesi, isi julung-julung selanjutnya dibagikan kepada semua warga yang hadir.
6. Festival Walima di Gorontalo
Festival walima, yaitu perayaan Maulid Nabi di Gorontalo, juga memiliki nilai filosofis tinggi.
Adat tersebut merupakan ajang mempererat tali persaudaraan warga Gorontalo di perantauan dan dengan suku lain yang hidup berdampingan di Kota Bitung.
Dalam prosesi walima, setiap keluarga yang mampu akan membuat tolangga (wadah besar) yang diisi dengan kue dan makanan tradisional Gorontalo.
Salah satunya kolombengi, semacam bolu kering yang manis dan gurih. Tolangga biasanya memuat hingga ratusan kue.
Tolangga kemudian diantarkan ke masjid untuk didoakan melalui prosesi dikili atau zikir yang dilaksanakan semalam suntuk.
Keesokan harinya kue dan makanan dibagikan kepada masyarakat.
7. Baayun Maulud di Banjar, Kalimantan Selatan
Perayaan Baayun Maulud atau Baayun Mulud adalah tradisi khas etnis Banjar, Kalimantan Selatan untuk menyambut perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Ayunan ini terbuat dari kain jarik batik tersusun dengan rapi. Semuanya dihias secantik mungkin menggunakan kertas warna-warni, ataupun kain yang dibentuk pita.
Di atas ayunan, ada nama bayi yang akan diayunkan. Setiap ayunan diisi seorang bayi dan didampingi kedua orangtuanya.
Seorang tokoh adat mengarahkan acara. Memberikan aba-aba untuk mengayun anak. Saat diayun, anak-anak juga diperdengarkan senandung pujian kepada Nabi Muhammad SAW.
Karena memang, Baayun adalah bentuk pujian dan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad.
Sembari mengayun anak, para orangtua berebut bendera hiasan ayunan. Isinya berupa makanan ringan dan telur rebus.
8. Tradisi Weh-wehan di Desa Plantaran, Kaliwungu
Berikutnya adalah tradisi weh-wehan untuk memperingati Maulid Nabi di Desa Plantaran, Kaliwungu, Kabupaten Kendal.
Tradisi ini tidak memperhatikan perbedaan gender. Laki-laki dan perempuan mempunyai peran masing-masing tanpa memunculkan diskriminasi stereotip gender untuk mengikuti tradisi wewehan.
Istilah weh-wehan berasal dari kata weweh (bahasa Jawa) yang berarti memberi.
Jadi weh-wehan artinya memberi atau berkunjung atau bersilaturahmi kepada tetangga, teman, kerabat, atau saudara.
Masyarakat Kaliwungu dalam hal ini menyiapkan berbagai makanan tradisional yang dihidangkan di depan rumah masing-masing.
Mereka seperti berjualan. Tetangga yang berkunjung memberi makanan, akan diganti dengan makanan miliknya.
Makanan tradisional yang dihidangkan, adalah sumpil. Sumpil terbuat dari nasi yang dibungkus oleh daun bambu (seperti ketupat) berbentuk segitiga. Cara memakannya dicampur dengan sambal kelapa.
Berdasar ulasan tersebut, saatnya kita menjadikan ritual Maulid Nabi sebagai sarana membangkitkan spirit beragama.
Serta sebagai inspirasi dalam menjunjung tinggi humanisme dalam menciptakan keharmonisan sosial.
Apalagi kita tengah menghadapi krisis nilai kemanusiaan.
Semoga substansi dari tradisi Maulid Nabi dapat terealisasi dalam kehidupan kita. Serta menjadikan kita manusia yang mampu menyempurnakan manusia sesuai hakikatnya. (*)
Editor : Ali Sodiqin