RadarBanyuwangi.id - Atho’ilah Aly Najamudin pernah menulis tentang filosofi dari tradisi endog-endogan di Banyuwangi.
Aktivis PMII yang juga alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Jogjakarta, itu secara khusus membahas budaya masyarakat Banyuwangi dalam merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Berikut ulasan Atho’ilah Aly Najamudin yang lahir di Banyuwangi pada 9 Maret 1997 tersebut.
Banyuwangi memang beda dari yang lain, keunikan daerah ini menjadi daya tarik bagi sejumlah daerah ataupun wisatawan yang berkunjung di sini.
Kabupaten yang terkenal dengan ikon gandrung ini memberikan warna pada kebudyaan Indonesia.
Salah satunya adalah tradisi Maulidan atau dalam bahasa Indonesia yang intinya memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Di Banyuwangi sendiri memperingati maulid nabi dengan cara yang unik yakni dengan menghias telur.
Kemudian setelah di hias telur dengan kembang telur tersebut ditancapkan ke pada pohon pisang atau orang Banyuwangi menyebut dengan jodang.
Setelah itu pohong atau jodang pisang itu beraneka telur itu dibawa keliling kampung dengan diringi oleh musik kuntulan.
Tradisi ini memang menjadi rutinitas di Banyuwangi setiap bulan rabiul awal.
Kemudian keunikan ini di bulan Maulid yang diselenggarakan Banyuwangi ini melibatkan telur sebagai simbol dalam perayaan ini.
Seakan-akan telur menjadi salah satu kewajiban yang harus disiapkan menjelang bulan Maulid ini.
Sehingga masyarakat Banyuwangi yang berbondong-bondong mencari telur untuk dihias.
Endog-endogan dalam bahasa using yang berarti telur ini menjadi identitas baru bagi masyarakat Banyuwangi ketika perayaan Maulid nabi.
Kemudian, ketika berbicara maulid nabi di Banyuwangi, mengapa harus dengan telur sebagai simbol dalam perayaan maulid Nabi Muhammad di Banyuwangi, bukankah tidak relevan dengan simbol telur dengan kelahiran Nabi Muhammad?
Selanjutnya, apa makna di balik telur pada maulid Nabi Muhammad SAW di Banyuwangi.
Sedangkan di sisi lain, ketika zaman Nabi Muhammad SAW telur tidak menjadi seuatu yang penting.
Sehingga siapa tokoh yang memunculkan telur sebagai simbol telur dalam memunculkan acara ini?
Secara aspek historis, munculnya tradisi ini mulai tumbuh dan berkembang pada akhir abad 18.
Kisah awal adanya tradisi endog-endogan diawali dengan pertemuan dua tokoh ulama yang kharismatik, yakni KH Kholil, pimpinan Pesantren Kademangan Bangkalan, Madura, dengan ulama KH Abdullah Faqih, pimpinan Pesantren Cemoro, Balak, Songgon.
Dua ulama besar ini saling bertukar pendapat mengenai Islam di tanah Jawa. Khususnya dengan lahirnya organisasi Nahdahtul Ulama
Kemudian Kyai Kholil mengatakan, “Kebangge Islam wes lahir di Nusantara.”
Dari peryataan Kyai kholil Bangkalan itu, kemudian ditafsirkan bahwa organisasi Nahdatul Ulama telah lahir yang dipersonikan dengan simbol endog atau telur.
Selanjutnya, kulit telur melambangkan kelembanggaan Nahdatul Ulama. Sedangkan isi telur melambangkan amaliyah Nahdatul Ulama.
Dari pertemuan kedua ulama tersebut, Kyai Abdullah Faqih lalu pulang dan membawa misi amanat dari Kyai Kholil.
Kemudian Kyai Faqih menjalankan amanat dari kyai Kholil dengan cara membuat telur atau endog. Lalu ditancapkan ke jodang yang kemudian diarak keliling kampung diiringi musik sholawat.
Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya tradisi endog-endogan.
Telur atau endog memiliki makna yang filosofis untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Makna telur yang menjadi simbol dalam peringatan ini menyimpan yang tersirat dalam pelaksaanaan tradisi ini.
Pertama-pertama untuk memahami pesan yang tersirat dari telur dari kedua ulama tersebut, kita melihat secara umum telur memiliki beberapa bagian.
Yakni lapisan luar atau cangkang, lapisan putihan, dan yang terakhir adalah lapisan kuning.
Dari beberapa bagian tersebut memiliki beberapa makna yang menyimpan beberapa pesan untuk kita sebagai umat islam.
Pertama, pesan yang kita peroleh dari ajaran Nabi Muhmamad SAW pada telur pada lapisan yang pertama adalah bagian telur yang paling luar yang dikenal dengan kulit telur atau cangkang yang disimbolkan sebagai Islam.
Selanjutnya, Islam sebagai agama kita yang diajarakan oleh Nabi Muhammad SAW yang memuat beberapa unsur.
Di antaranya membaca syahadat, sholat lima waktu, zakat, puasa di bulan Ramadan, dan yang terakhir adalah naik haji.
Kedua, pesan yang diambil pada lapisan kedua dari kulit atau disebut dengan lapisan putihan melambangkan kepada kita mengenai iman.
Kemudian apa yang disebut beriman dalam Islam, Iman itu adalah beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.
Ketiga, adalah pesan yang terakhir pada lapisan kuningan ini melambangkan mengenai Ihsan. Yang artinya engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya. Jika engkau tidak melihatnya, maka Dia melihat engkau.
Dari makna yang mendalam dari filosofis tersebut banyak masyarakat yang tidak mengetahui menganai makna yang tersirat tersebut.
Pesan yang disimbolkan telur dalam peringatan Nabi Muhammad SAW memiliki pesan yang mendalam dalam tatanan kita beragama Islam.
Sehingga kita sebagai muslim dengan adanya tradisi endog-endogan bisa mengingatkan atas pentingnya islam, iman dan ihsan.
Pesan yang tersirat kemudian disimbolkan dengan endog atau telur merupakan metode ulama tempo dulu untuk berdakwah kepada umat.
Sedangkan dahulu kondisi masyarakat yang tidak masih memangang ajaran nenek moyang sangatlah kuat.
Banyak masyarakat yang masih percaya dengan ajaran ajaran nenek moyang. Realitas tempo dulu itu lalu ulama mencoba metode dan cara yang berbeda dalam mengenal apa itu Islam, iman, dan ihsan.
Cara yang kreatif yang digambarkan kedua tokoh di atas mengambarkan bahwa, Islam masuk ke dalam Nusantara melalui berbagai cara.
Tentunya untuk mengenalkan Nabi Muhammad SAW dengan metode dakwah yang langsung kepada masyarakat.
Ulama tempo dulu berusaha mendialogkan nilai-nilai Islam dengan kebudayaan.
Permasalahan yang melanda umat di era kosmpolitan ini menjadi tantangan kita. Hal semacam ini udah mulai ditangkap oleh ulama-ulama tempo dulu.
Mari dengan adanya tradisi ini, kita rawat dan kita jaga tradisi ini. Banyak pesan yang dan nilai nilai yang baik dalam tradisi ini. (*)
Editor : Ali Sodiqin