Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Budaya Endog-Endogan Dicetuskan alm KH Abdullah Faqih, Kini Tiap Maulid Nabi di Banyuwangi ‘Wajib’ ada Telur

Agus Baihaqi • Rabu, 27 September 2023 | 13:30 WIB
Alm KH Abdullah Faqih semasa hidup.
Alm KH Abdullah Faqih semasa hidup.

RadarBanyuwangi.id – Tidak ada yang tahu secara pasti kapan budaya endog-endogan di Banyuwangi dimulai.

Yang jelas, budaya endog-endogan dicetuskan pertama kali dicetuskan oleh almarhum KH. Abdullah Faqih.

KH Abdullah Faqih lahir di Dusun Cemoro, Desa Balak, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, pada 1873 silam.

KH Abdullah Faqih lahir dari pasangan KH Umar Mangunrono dan Nyai Rokso. Saat itu, sang ayah menjabat sebagai Kepala Desa Pertama Desa Balak yang berasal dari Banten.

KH Abdulah Faqih belajar ilmu agama kepada banyak guru di Indonesia dan Makkah.

Kali pertama masuk pesantren saat masih berumur sembilan tahun pada Kiai Purwosono di Lumajang.

Dua tahun kemudian, belajar pada KH M Shiddiq, kakak Kiai Hamid di Pasuruan.

Usai belajar dari kedua kiai itu, Abdullah Faqih yang masih remaja melanjutkan pengembaraannya ke Bangkalan, Madura, untuk belajar pada Syaikhona Kholil.

“Saat menyeberang ke Madura, ada kedian aneh,” cetus cicit KH Abdulah Faqih, Gus Reza Abdullah.

Saat akan menyeberangi laut menuju ke Pulau Madura, Kiai Faqih tidak menemukan perahu.

Dan akhirnya, melintasi Selat Madura itu menggunakan pelapah pohon kelapa.

“Belajar ke Syaikhona dengan sejumlah kiai besar NU,” terangnya.

Di antara kiai besar yang belajar bersama dengan Kiai Faqih dan kebetulan satu kamar itu, ada KH Hasyim Asy’ari Jombang; KH Abdul Karim Kediri, KH M Munawir, Krapyak,  Jogjakarta; KH Ma’roef Kediri, dan KH Wahab Hasbulloh Jombang.

“Kiai Faqih santri Syaikona Kholil yang ke-22,” jelasnya.

Setelah Kiai Faqih menyelesaikan ilmu alat di Bangkalan, melanjutkan ke Semarang dengan belajar pada Kiai Sholeh Darat.

Kiai ini, cukup terkenal karena di antara santrinya KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan, dan RA Kartini.

“Dari Semarang melanjutkan belajar pada Kiai Idris Jamansero di Solo,” ungkapnya.

Saat belajar di Solo itu, Kiai Faqih mendapat hadiah untuk melanjutkan belajar ke Makkah dari Raja Solo.

Hadiah itu, diberikan karena Kiai Fakih dianggap mengagungkan ilmu.

Tapi sebelum berengkat ke Makah, Kiai Fakih sempat belajar ke Kiai Jamil, Buntet, Cirebon, dan ke Pesantren Batu Quran Banten.

“Dari Banten Kiai Fakih menuju Makkah untuk melaksanakan ibadah haji, sekaligus melanjutkan belajar agama,” jelas Gus Reza.

Makam alm KH Abdullah Faqih di Dusun Cemoro, Desa Balak, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, masih sering dikunjungi peziarah hingga sekarang.
Makam alm KH Abdullah Faqih di Dusun Cemoro, Desa Balak, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, masih sering dikunjungi peziarah hingga sekarang.

Selama di Makkah, Kiai Fakih berguru pada Syekh Mahfud Atermasi, lalu ke Syekh Nachrawi Albanyumasi, dan terakhir pada Syekh Nawawi Albantani.

“Para guru Kiai Faqih itu semua ulama besar Makkah yang berasal dari Jawa,” terangnya.

Setelah 25 tahun lebih mengembara belajar ilmu agama, Kiai Fakih pulang ke kampung halamanya sekitar tahun 1899, dan mendirikan Pondok Pesantren Cemoro, Desa Balak.

“Pendirian pesantren tidak berjalan mulus, karena harus berhadapan dengan VOC,” terangnya.

Sebelum mendirikan pesantren, Kiai Fakih menikah dengan Nyai Rokso dan dikaruniai lima orang anak.

Kelima anaknya itu  tiga laki-laki dan dua perempuan. Setelah pesantren berdiri, hanya ada beberapa orang santri yang belajar.

Tapi karena kealimannya, lambat laun santrinya bertambah dari dari luar Banyuwangi banyak yang berdatangan.

“Waktu itu santrinya seribu lebih,” ungkapnya.

Setelah santri bertambah banyak, Kiai Fakih mendapatkan tekanan dari Belanda.

Menghadapi itu, Kiai Fakih menyerukan kepada santri dan masyarakat sekitar untuk melakukan perlawanan, dan Pesantren Cemoro menjadi markas tentara barisan Hizbullah dan Sabillilah.

“Pesantren sibuk melakukan perlawanan terhadap Belanda, salah satu putra Kiai Faqih, Kiai Idris Abdullah meninggal tertembak saat perang di Lemahbang,” kenangnya.

Salah satu perang yang sering diperbincangkan Kiai Faqih itu perang Bedewang pada Mei 1926.

Saat itu, rakyat Desa Bedewang dan sekitarnya melakukan perlawanan pada pasukan Belanda, dan pejuang banyak yang meninggal karena keterbatasan senjata.

“Kiai Faqih meninggal pada Mei 1953 usai salat tarawih dengan usia 80 tahun,” terangnya.

Sepeninggal Kiai Faqih, pesantren dilanjutkan putra kedua Kiai Sholeh Abdullah.

Belum lama mengurus pesantren, Kiai Sholeh ditangkap pasukan Belanda.

Kiai Sholeh dianggap memprovokasi masyarakat untuk melakukan perlawanan kepada tentara Belanda.

“Kiai Sholeh mendekam dipenjara Belanda selama sembilan tahun, padahal Indonesia waktu itu telah merdeka,” jelasnya.

Saat Kiai Sholeh dipenjara, Pesantren Cemoro kehilangan pengasuh.

Dan itu, membuat santrinya mulai menghilang. Hingga saat ini, pesantren itu hanya tinggal nama. Bangunan sudah berganti menjadi tempat pendidikan formal Madrasah Ibtidaiah (MI) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Yang masih aktif pesantren Toriqoh Sayadiliah setiap malam Jumat,” ucapnya.

Di mata Guz Reza, Kiai Fakih sosok kiai yang berilmu luas dan memiliki jiwa keberanian yang tinggi, dan beberapa kali memimpin pasukan melawan penjajah.

Di antara peninggalan Kiai Fakih adalah tujuh goa yang digunakan untuk bersembunyi dan menyusun strategi peperangan, dan dua di antaranya konon tembus sampai ke Pulau Bali.

“Goa itu bernama sadong dan kompresi,” cetusnya.

Kiai Fakih juga meninggalkan karya kitab yang berjudul Nadaham Aqidah yang saat ini masih diajarkan di beberapa pesantren murid Kiai Fakih.

Adapun yang paling mengena, peninggalan budaya kembang endog-endogan yang selalu digelar dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

“Budaya endog-endogan itu peninggalan Kiai Fakih,” katanya.

Kembang endog sendiri dibuat dalam rangka syiar agama Islam dengan nilai filosofis telur yang diistilahkan dengan rukun agama yang berjumlah tiga, yaitu Islam, Imam, dan Ihsan.

Islam adalah cangkang telor, lalu Iman pada bagian telor yang berwarna putih, sedangkan ihsan adalah telor berwarna kuning.

Sedangkan kembang yang menghiasi telor itu agar dalam beragama bisa menjadi lebih indah.

“Pesan tersebut disampaikan dalam bentuk telur yang dihias, karena waktu itu dakwah secara langsung dilarang oleh Belanda,” bebernya. (mg5/abi)

Editor : Ali Sodiqin
#pesantren #tradisi #budaya #nabi muhammad saw #Syaikhona Kholil #maulid #Banten #banyuwangi #makkah #endog-endogan