Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Layang Sowangan atau Gapangan Biasa Dipanjer Semalam Suntuk, Miliki Suara dan Bersinar Kelap-kelip

Gareta Yoga Eka Wardani • Minggu, 24 September 2023 | 20:00 WIB
EVAKUASI: Petugas PLN membawa layangan sowangan alias gapangan yang nyangkut di kabel listrik.
EVAKUASI: Petugas PLN membawa layangan sowangan alias gapangan yang nyangkut di kabel listrik.

RadarBanyuwangi.id – Bermain layang-layang tak harus dipegang dan ditunggu. Layangan gapangan alias sowangan justru lebih banyak ditinggal begitu saja semalaman.

Jenis layangan yang satu ini cukup unik. Wujudnya hampir sama di setiap daerah. Di Negeri Jiran Malaysia, masyarakat menyebutnya layang-layang ”waw”. Karena bentuknya yang melengkung dan bertumpuk seperti huruf w.

Sementara di Pulau Jawa, warga menamainya dengan gapangan. Ada dua sisi layangan jenis ini. Sisi atas berbentuk seperti dua busur.

Sedangkan sisi bawah bervariasi. Ada yang berbentuk belah ketupat di bawahnya. Ada juga yang sama seperti sisi atas, dua busur namun dengan ukuran lebih kecil.

Di Banyuwangi, masyarakat menyebutnya dengan nama sowangan. Ada pula yang menyebutnya suwangan. Yang perlu diingat dari nama suwangan adalah bentuknya yang cukup besar.

 Ada yang memiliki lebar satu depa anak-anak hingga orang dewasa. Selain itu, ciri khas lain dari layangan satu ini adalah bentuk yang beragam.

Riski Arifianto, 28, warga Desa Sepanjang, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi mengatakan, layangan gapangan memiliki bentuk yang tidak tetap dan bervariasi. Cara pembuatannya pun cukup rumit dibandingkan layangan aduan.

”Banyak bentuk dan ukurannya besar. Jadi, harus benar-benar memiliki keseimbangan yang bagus meski bentuknya rumit supaya bisa terbang,” ujarnya.

Sedangkan ciri khas unik lainnya dari layangan satu ini yakni memiliki lampu kecil di kerangkanya. Sehingga saat terbang di langit malam, layangan gapangan dapat memancarkan cahaya kelap-kelip dari lampu yang dipasang.

Ada pula yang memberinya tambahan pita agar layangan ini bersuara saat diterpa angin.

”Itu yang jadi keunikan dari layangan gapangan. Saat terbang bisa mengeluarkan suara keras karena bergesekan pita dengan udara,” pungkas Riski.

Sementara itu, gapangan biasanya dibiarkan diikat selama semalam suntuk. Namanya ”dipanjer”.

Namun sayang, kebiasaan ini bisa berdampak kurang bagus karena laju angin sepanjang malam bisa saja tak stabil.

Ketika embusan angin mengecil atau tidak ada sama sekali, layangan bisa turun atau jatuh. Akan bermasalah bila benang maupun layangan ini sampai menimpa jaringan kabel listrik PLN. (rei/bay/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#listrik #aduan #Layang-Layang #SUARA #cahaya #belah ketupat #layangan #pita #banyuwangi #sowangan