Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kisah Difabel Merdeka di Bappeda Banyuwangi, Saat Tes CPNS Sempat Menginap di Pos Keamanan

Gareta Yoga Eka Wardani • Rabu, 16 Agustus 2023 | 23:00 WIB
Rhenif Oktoka, Staf Bidang Kepegawaian Bappeda Banyuwangi
Rhenif Oktoka, Staf Bidang Kepegawaian Bappeda Banyuwangi

RadarBanyuwangi.id - Menjadi berbeda dengan orang pada umumnya bukan halangan untuk bekerja di lingkungan yang sama.

Prinsip tersebut yang dipegang oleh Rhenif Oktoka, staf Bidang Kepegawaian di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Banyuwangi.

Pria yang sehari-hari disapa Rhenif tersebut mengaku menjadi bagian dari keluarga besar Pemkab Banyuwangi sejak tahun 2019.

Empat tahun lamanya Rhenif yang merupakan penyandang tuna daksa ini berhasil survive di lingkungan kerja pada umumnya.

”Alhamdulillah, meski saya memiliki keterbatasan tidak membuat saya berbeda dengan teman yang lain. Lingkungan kerja yang positif semakin meningkatkan semangat saya untuk terus berusaha,” ujarnya.

Ketika ditemui di kantor Bappeda Banyuwangi, Rhenif menunjukkan sorot mata yang sumringah.

Rhenif mengatakan sebagai perantau dari Kota Semarang, perjuangannya untuk dapat hidup di Bumi Blambangan bukan hal yang mudah.

Tahun 2018 menjadi langkah awal bagi warga asli Kota Semarang tersebut merubah kehidupan di kota lain.

Setelah keluar dari pekerjaan sebelumnya, Rhenif memutuskan mencoba peruntungan dengan tes CPNS di Banyuwangi.

Siapa sangka, kerja keras dan usahanya terbayar tuntas dengan pengumuman dirinya lolos menjadi PNS di lingkungan Pemkab Banyuwangi.

”Sebelumnya saya bekerja sebagai call center di salah satu perusahaan BUMN selama satu tahun. Bahkan, waktu berangkat ke Banyuwangi saya hanya membawa uang yang minim. Sehingga waktu jadwal tes diubah, saya terpaksa tidur di pos keamanan salah satu instansi,” ucapnya.

Kini, Rhenif merasa tanggung jawab dan hak yang dia dapatkan sebagai pegawai di lingkup pemerintahan tidak berbeda dengan pegawai lain.

Tidak ada diskriminasi atau pun perbedaan yang dia alami. Hal itu, yang menjadi salah satu bentuk keramahan bagi dirinya dan teman difabel yang lain di dunia kerja.

”Sehari-hari saya bekerja mengurus surat-surat karena pada dasarnya saya berada di kesekretarian. Kerja saya sama dengan teman yang lain, mungkin hanya terbatas pada ruang lingkup dan kecepatan dalam bekerja. Selebihnya, tidak ada yang berbedan dan saling bekerja sama,” imbuhnya.

Menurut alumnus D3 Statistika pada Universitas Negeri Semarang tersebut makna “Difabel Merdeka” adalah kebebasan untuk mengeksplore dan memperoleh hak yang sama.

Hal itu telah dia peroleh dalam dunia kerja di Pemkab Banyuwangi. Baik dalam bentuk pelatihan, pendidikan, sarana, prasarana, atau pun lainnya sejajar dan tanpa ada perbedaan.

”Karena difabel memiliki kebutuhan khusus, lingkup kerja sudah menyediakannya. Seperti saya yang dulu di bidang sarana dan prasarana (Sarpras) berada di lantai 3 harus nain turun tangga. Kemudian mengajukan diri untuk di bidang kepegawaian di lantai 1 langsung diizinkan. Itu salah satu bentuk kemudahan dan kebutuhan yang saya rasakan,” jelasnya.

Di akhir cerita, Rhenif berharap seluruh fasilitas di instansi pemerintahan atau pun swasta dapat memberikan akses bagi disabilitas yang lebih baik.

Sebab, pada umumnya Rhenif dan teman difabel yang lain memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti individu pada umumnya. (rei)

Editor : Ali Sodiqin
#Bappeda #pemkab banyuwangi #pns #tuna daksa #semarang #bumn