Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ritual Bersih-bersih di Mata Air Tawar Watudodol Diyakini Beri Efek Positif

Fredy Rizki Manunggal • Kamis, 20 Juli 2023 | 20:00 WIB
JADI JUJUKAN RITUAL: Mata air tawar Watudodol dikeramatkan oleh beberapa orang. Lokasinya di bawah patung gandrung Watudodol.
JADI JUJUKAN RITUAL: Mata air tawar Watudodol dikeramatkan oleh beberapa orang. Lokasinya di bawah patung gandrung Watudodol.

RadarBanyuwangi.id – Ritual bersih-bersih yang dilakukan saat malam 1 Suro tak pernah lepas dari air. Di dekat Pantai Watudodol, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, ada sebuah spot mata air yang kerap menjadi jujukan ritual malam 1 Suro.

Sumber yang memancarkan air tawar itu terletak tak jauh dari patung gandrung Watudodol. Lokasinya tepat berada di bawah jembatan. Untuk menjangkaunya, pengunjung bisa melewati anak tangga di sisi utara patung gandrung, lalu turun dan melewati garis pantai.

Dulu, mata air itu dibiarkan terbuka sehingga kerap bercampur dengan air laut yang naik ke pantai. Sekarang warga sudah menutupnya. Namun, air dari sumber tawar tersebut masih bisa digunakan karena airnya tetap dialirkan agar bisa digunakan.

Salah satu tokoh Desa Ketapang, Slamet Kasihono mengatakan, mata air tawar Watudodol memang dikeramatkan oleh beberapa orang. Lokasinya yang tepat berada di tepi pantai, membuat beberapa orang mempercayainya sebagi mata air yang memiliki khasiat tertentu.

Bagi umat Hindu, mata air tersebut dianggap sebagai air suci. Saat masih menjabat sebagai kepala desa, Slamet sempat mengajukan izin agar bisa membangun tempat ibadah di lokasi tersebut. ”Ada permohonan pengajuan pura di sana, tapi belum bisa direalisasikan sampai sekarang,” ungkapnya.

Pada malam 1 Suro, sejumlah orang menggelar ritual di kawasan tersebut. Mereka biasanya mandi bersama-sama tepat pada pergantian malam 1 Suro. ”Di Desa Ketapang ada dua tempat, yang satu di Watudodol, satunya Sumber Penawar. Di lokasi Sumber Penawar lebih ramai pengunjung,” jelas Slamet.

Dari penelusuran Jawa Pos Radar Banyuwangi, ritual di mata air Watudodol digelar oleh puluhan orang. Mereka tak hanya berasal dari Banyuwangi, tapi dari berbagai kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jakarta. Dulunya, mereka adalah murid-murid salah satu tokoh spiritual asal Desa Ketapang.

Setelah tokoh tersebut meninggal dunia pada 2017, murid-muridnya masih menjalankan ritual mandi di malam 1 Suro. Yuli, salah seorang pelaku ritual menuturkan, sebelum mandi di mata air, dia lebih dulu melarung hasil bumi ke Pantai Watudodol.

Tepat tengah malam, puluhan orang mandi di mata air yang berada tak jauh dari patung gandrung itu. ”Biasanya murid yang dari luar kota sudah datang mulai seminggu sebelumnya. Sebelum ritual, mereka sudah berada di Banyuwangi,” kata Yuli.

Air di sumber Watudodol dipercaya bisa memberikan efek positif. ”Setelah mandi, besoknya biasanya dilanjutkan dengan ritual ider bumi. Mereka yang mandi malam harinya, esoknya puasa sembari berjalan kaki. Biasanya dimulai dari pukul 05.00 sampai pukul 15.00,” imbuhnya

Pelaku ritual lainya, Puji menambahkan, ritual mandi di mata air Watudodol masih terus berjalan hingga saat ini. Meskipun jumlah orang yang ikut tak sebanyak tahun 2017 lalu, namun masih banyak yang tetap melestarikannya. ”Sampai sekarang ritual masih berjalan. Tahun kemarin juga masih digelar,” tandasnya. (fre/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#1 Suro #ritual #patung #air tawar #Mata Air #watudodol #gandrung