Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sumur Konvensional Butuh Lahan Luas, Bikin Waswas Karena Rawan Kecelakaan

Dedy Jumhardiyanto • Sabtu, 1 Juli 2023 | 04:00 WIB
TRADISIONAL: Sumur manual yang digali dengan peralatan sederhana biasanya diberi lingkaran pagar pembatas.
TRADISIONAL: Sumur manual yang digali dengan peralatan sederhana biasanya diberi lingkaran pagar pembatas.

RadarBanyuwangi.id – Sumur konvensional merupakan sumber air buatan yang digali dengan peralatan manual seperti cangkul dan sekop. Sumur gali ini cukup umum dijumpai di masyarakat. Mulai di rumah-rumah warga, tempat ibadah, hingga di ladang pertanian.

Sumur konvensional dibuat dengan memanfaatkan tenaga manusia untuk menggali tanah. Pada umumnya, sumur galian memiliki diameter yang cukup lebar. Kedalaman sumur minimal tujuh meter hingga 15 meter dari permukaan tanah. Untuk lokasi tepi pantai, biasanya sumur konvensional tidak terlalu dalam. Hanya beberapa meter sudah muncul airnya.

Membuat sumur konvensional hanya butuh jasa tukang untuk menggali tanah hingga kedalaman tertentu. Umumnya penggalian sumur minimal 7–10 meter. Namun terkadang, perlu melakukan penggalian lebih dalam lagi sampai air benar-benar muncul.

Latif, seorang tukang gali sumur mengaku, dia bisa menyelesaikan pengerjaan sumur galian dalam waktu dua pekan. Itu pun tergantung jenis tanah yang digali. ”Jika banyak batu dan rejeng bisa selesai sebulan,” kata warga Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi itu.

Untuk mengerjakan sumur gali, biasanya dibutuhkan tenaga lebih dari satu orang. Apalagi, jika galian sudah mencapai kedalaman lebih dari lima meter. Maka, butuh bantuan untuk mengangkat material tanah dan batu dari dalam galian. ”Biasanya menggunakan katrol manual untuk mengangkat material dari dalam galian,” terang Latif.

Meski dikerjakan dengan manual, biaya sumur galian ini lebih murah dibanding sumur bor. Biasanya untuk satu kali galian, Latif mematok harga antara Rp 750 ribu sampai Rp 1 juta. ”Sudah terima bersih, sampai muncul sumber airnya dan bisa digunakan,” ucap bapak dua anak ini.

Sumur galian memang tidak bisa langsung digunakan. Butuh waktu setidaknya enam jam setelah air muncul. Air yang keluar dibiarkan lebih dahulu sampai kotoran tanahnya mengendap dan air benar-benar bening atau jernih. ”Butuh dikuras kalau sumur sudah keruh,” bebernya.

Umumnya sumur gali memiliki diameter yang cukup besar. Hal ini karena sumur gali dibuat manual dengan tenaga manusia. Diameter sumur yang lebih besar dapat membuat debit air yang berada di dalam sumur menjadi semakin besar. Namun demikian, lubang sumur yang lebar juga kerap bikin waswas, terutama bagi yang memiliki anak kecil. ”Harus dipasang tembok tepian sumurnya. Kalau tidak, bisa dicor dan disedot menggunakan pompa air,” tandasnya. (ddy/bay/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#sumur #air tanah #Mata Air #Pompa Air #banyuwangi