RadarBanyuwangi.id – Sumur bor menjadi harapan baru bagi petani di Desa Sidowangi, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi. Mereka tak lagi kesulitan mendapatkan air untuk lahan pertanian.
Petani di Desa Sidowangi kini sudah tidak perlu lagi mencemaskan ketersediaan air. Desa ini telah mendapatkan bantuan sumur bor untuk mengairi ratusan hektare sawah di kawasan tersebut.
Kepala Desa (Kades) Sidowangi Muansin mengatakan, tiga titik bantuan sumur bor tersebut didapat dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, Dinas Pertanian Banyuwangi, melalui program bagi hasil cukai tembakau. Satu titik bantuan sumur bor untuk irigasi dari BBWS Brantas ditempatkan di Dusun Pancoran wilayah barat. Kemudian, satu titik bantuan sumur bor dari Dinas Pertanian juga berada di Dusun Pancoran.
Sedangkan satu titik terakhir bantuan dari wakil bupati, ditempatkan di tengah-tengah, yang kini sedang dalam proses pengeboran. ”Alhamdulillah, ini sangat bermanfaat untuk petani kita di Desa Sidowangi. Dengan adanya sumur bor untuk irigasi ini insya Allah lahan pertanian kita semakin subur sehingga akan meningkatkan pendapatan hasil pertanian,” jelas Muansin.
Menurut Muansin, keberadaan sumur bor tentunya akan meningkatkan produksi pertanian di desa tersebut. ”Karena Desa Sidowangi memiliki lahan pertanian yang cukup luas yakni 634 hektare. Komoditas pertanian unggulan adalah tembakau, cabai, dan jagung. Yang sangat dibutuhkan oleh petani selama ini adalah air, pelan-pelan kita berbenah untuk memenuhi kebutuhan mereka,” jelasnya.
Muansin menjelaskan, untuk mendapatkan aliran irigasi sumur bor, pemilik lahan membayar biasa ganti bahan bakar minyak (BBM) solar yang digunakan mesin diesel menyedot dan mengalirkan air ke arah saluran irigasi. Untuk biaya ganti BBM solar ini, pemilik lahan membayar mulai Rp 35 ribu sampai Rp 70 ribu per jam tergantung dari besaran air yang dialirkan. ”Jadi menghitungnya berdasarkan berapa kubik air yang dialirkan ke aliran lahan. Karena besaran pipa yang dimiliki petani juga berbeda-beda,” jelasnya.
Muansin mengakui, masih dibutuhkan beberapa titik sumur bor untuk irigasi. Karena itu, pihaknya berharap mendapat dukungan dari pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, maupun pemerintah pusat. Sebab, air untuk menunjang sektor pertanian di Desa Sidowangi sangat dibutuhkan para petani.
Data Dinas Pertanian Banyuwangi, Desa Sidowangi memiliki luas lahan pertanian seluas 634 hektare. Sebanyak 70 persen dari luas lahan itu atau sekitar 400 hektare ditanami tembakau. Satu hektare lahan bisa menghasilkan lima ton tembakau. Pada musim panen raya, tembakau biasa dihargai Rp 25 ribu dari musim biasanya yang bisa mencapai Rp 30 ribu per kilogram.
Sebab itulah, jika sosialisasi pengelolaan sumber mata air ini berhasil, maka dalam satu tahun petani tembakau di Kecamatan Wongsorejo bisa melakukan panen tiga kali. ”Namun karena di Desa Sidowangi ini lahan pertaniannya merupakan sawah tadah hujan, dalam setahun hanya bisa panen sekali. Kalau dengan irigasi yang baik atau diimbangi dengan sumur bor, kemungkinan bisa dua kali panen,” tandas Muansin. (ddy/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin