Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sumur Pendapa Sabha Swagata Blambangan Masih Terjaga dan Sering Dikunjungi Wisatawan

Gareta Yoga Eka Wardani • Sabtu, 1 Juli 2023 | 00:00 WIB
WISATAWAN: Beberapa pengunjung melihat kondisi sumur tua di sudut belakang Pendapa Sabha Swagata Blambangan Banyuwangi.
WISATAWAN: Beberapa pengunjung melihat kondisi sumur tua di sudut belakang Pendapa Sabha Swagata Blambangan Banyuwangi.

RadarBanyuwangi.id – Di kawasan belakang Pendapa Sabha Swagata Blambangan terdapat sumur tua. Ada yang bilang, sumur ini ”dekat” dengan gambaran sumur legenda Sritanjung.

Posisi sumur tua ini tepatnya di pojok timur belakang kompleks Pendapa Sabha Swagata Blambangan. Di sudut tersebut berdiri rumah adat Oseng beratap empat (tikel balung). Nah, sumur tua yang masih terpelihara ini berada di sisi belakang rumah adat tersebut.

Dalam legenda Sritanjung, aroma darah wangi muncul dari sumur tempat jasad Sritanjung dibuang oleh suaminya, Sidapaksa. Selanjutnya berkembang kisah, bahwa Sritanjung yang dibunuh oleh suaminya sendiri itu berada di sekitar pendapa. Air sumur itu juga mengalir dalam tanah, mengikuti kapiler hingga ke sebelah timur pendapa (sumur rumah warga di Kelurahan Temenggungan).

Budayawan Banyuwangi Aekanu Hariyono menjelaskan, kisah Sritanjung jejaknya ditemukan pada relief-relief batu di candi peninggalan Majapahit. Seperti Candi Surowono dan Tegowangi di Kediri, Candi Penataran di Blitar, Gapura Bajangratu di Trowulan, Candi Jabung di Probolinggo, serta di Candi Sukuh Jawa Tengah.

”Sritanjung adalah anak Sadewa, dia dibunuh oleh suaminya sendiri Sidapaksa karena fitnah keji dari rajanya, Prabu Sulahkromo. Darah wangi Sri Tanjung membuktikan kesuciannya, kebenaran, ketulusan, dan kejujurannya,” ujar Aekanu.

Berdasarkan relief dan naskah kuno Kidung Sritanjung yang ditulis dengan huruf Arab pegon tahun 1746, menceritakan Sritanjung yang dibunuh oleh Sidapaksa kemudian disucikan (diruwat) dan dihidupkan kembali oleh Sang Dewi (Durga) di Gandamayu. Tempat yang sama di mana Dewi Durga dibebaskan dari kutukan oleh Sadewa, ayah Sritanjung.

”Darah wangi dari tubuh Sri Tanjung adalah simbol hati perempuan yang suci murni seperti kerelaannya untuk menerima kematian. Ia seorang perempuan yang pemaaf dan hingga kini ada kepercayaan bahwa Sri Tanjung masih hidup yang hadir pada perempuan pada ritual adat tertentu,” lanjutnya.

Masyarakat Bumi Blambangan mempercayai mitos bahwa Sritanjung itu benar-benar ada. Mitos sendiri adalah cerita prosa rakyat, yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang empunya cerita. ”Peristiwa terjadi di dunia lain, atau di dunia yang bukan seperti yang kita kenal sekarang, dan terjadi pada masa lampau berdasarkan buku Dananjaya tahun 1997 halaman 50,” imbuh bapak satu anak itu.

sumurBaca Juga: Jamin Ketersedian Air Bersih, Pemkab Banyuwangi Bangun Puluhan Infrastruktur Sumur Bor di Desa-Desa

Menurut Aekanu, tidak ada mitos yang salah. Kecuali mereka yang tidak mempercayainya. Bagi yang mempercayainya, semua peristiwa mitos, seberapa aneh pun, adalah benar-benar terjadi seperti yang diceritakannya. Semacam menjadi kitab suci bagi para penganutnya.

Sama seperti saat Aekanu mendampingi para pengunjung di Pendapa Sabha Swagata Blambangan. Selama itu, Aekanu mengajak pengunjung untuk mempercayai apa yang dia ceritakan. Sehingga, cerita yang disampaikan Aekanu dapat diterima oleh seluruh pengunjung baik lokal maupun internasional.

”Manusia menempatkan dirinya menjadi bagian dari mitos sehingga semua sikap dan tingkah lakunya disesuaikan dengan kebenaran mitos tersebut. Memahami mitos suatu masyarakat berarti memahami pola berpikirnya bagaimana mereka menghayati hidup ini,” pungkasnya. (rei/bay/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#blambangan #sumur #sritanjung #budayawan #legenda #banyuwangi #mitos