RadarBanyuwangi.id – Awalnya raket dibuat dengan bahan dasar kayu. Selanjutnya, bahan dasar raket mengalami perubahan menjadi logam. Lantaran besi terlalu berat, aluminium kemudian populer sebagai material baku raket badminton.
Aluminium merupakan logam kelas atas (IIIA) yang pada mulanya berharga sangat mahal. Ini karena sulitnya pengolahan untuk mendapatkan biji aluminium. Namun kini, aluminium banyak diaplikasikan ke berbagai produk.
Karena sifatnya yang kuat tetapi ringan, maka aluminium menyaingi platina dan magnesium. Tetapi harga aluminium lebih murah. Sehingga, aluminium lebih sering diaplikasikan untuk memproduksi berbagai barang, termasuk perlengkapan olahraga seperti raket.
Bahkan saat ini, frame raket yang terbuat dari besi juga kalah pamor dengan raket berbahan aluminium. Warna raket ini tidak lekas pudar atau berkarat meski dalam jangka waktu lama. Karena warna aslinya yang mengkilap, biasanya barang dari aluminium tidak dicat. Bahkan, serbuk aluminium bisa dijadikan bahan campuran cat agar menghasilkan warna metalik.
Raket yang terbuat dari bahan aluminium ini biasanya digunakan oleh pemain di level intermediate. Raket aluminium direkomendasikan hanya untuk bermain santai atau uji coba. ”Raket ini tidak disarankan untuk latihan persiapan pertandingan karena tidak didesain untuk kompetisi,” ujar Asrorul Umami, pemain badminton di Banyuwangi.
Meski dinilai ringan, pada kenyataannya raket aluminium masih cukup berat dan cukup sulit dikontrol. Sehingga, jika ingin fokus pada kemudahan kontrolnya, sebaiknya memilih raket dengan bobot yang lebih ringan misalnya yang berbahan baku serat karbon.
”Pada dasarnya, makin berat bobot raket, makin tinggi pula kekuatan pukulnya. Untuk pria, raket dengan bobot 85 gram lebih disarankan. Jika ingin merasa kuat, maka dapat menggunakan raket berbahan aluminium dengan berat 90 gram,” jelas Asrorul. (ddy/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin