Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Penjor Umbul-Umbul Alami dari Janur Kuning, Cocok untuk Hiasan di Pintu Gerbang atau Pinggir Jalan

Gareta Yoga Eka Wardani • Minggu, 25 Juni 2023 | 16:30 WIB
HIASAN: Penjor dipasang di sudut sebuah acara di lapangan Tenis Indoor GOR Tawangalun Banyuwangi beberapa waktu lalu.
HIASAN: Penjor dipasang di sudut sebuah acara di lapangan Tenis Indoor GOR Tawangalun Banyuwangi beberapa waktu lalu.

RadarBanyuwangi.id – Umbul-umbul termasuk dekorasi dalam sebuah acara. Di Bumi Blambangan, acara resmi biasanya lebih sering menggunakan umbul-umbul tradisional berupa hiasan janur yang disebut penjor.

Penjor merupakan batang bambu yang dihiasi dengan daun kelapa muda, yang dibentuk secara khusus. Sekilas, tampilan penjor mirip seperti umbul-umbul. Penjor dibuat setinggi 10 meter, yang menggambarkan sebuah gunung tertinggi dan memiliki makna penting.

Penjor biasanya dipasang oleh masyarakat yang menggelar hajatan, misalnya pernikahan. Fungsinya sebagai penanda atau penunjuk jalan ke rumah mempelai yang mengadakan pesta. Umbul-umbul dibuat dengan sebatang bambu yang dihiasi dengan daun kelapa yang kuning hingga melambai di ujung bambu.

Sementara itu, bagi umat Hindu keberadaan penjor sejatinya cukup krusial. Fungsinya tak sekadar menjadi dekorasi di depan rumah atau dekorasi hajatan. Bagi mereka, penjor memiliki simbol penting dalam kehidupan.

Salah satu anggota pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Banyuwangi, Nayakawati Srina Lestari mengungkapkan, penjor merupakan lambang dari dharma, kebenaran, atau kemenangan. Di dalam penjor terdapat banyak hiasan dari janur yang merupakan perlambangan dari para Dewata Hindu.

”Pada umumnya sering digunakan untuk perayaan hari raya suci umat Hindu yaitu Galungan. Namun, apabila ada acara-acara besar keagamaan di pura seperti Piodalan atau upacara lainnya bisa menggunakan penjor,” ujarnya.

Penjor dikenal sebagai lambang dari Dewa Naga Basuki. Yang tak lain bermakna kesejahteraan dan kemakmuran. Namun, terdapat perbedaan antara umat Hindu di Jawa dan di Bali. Di Jawa, mayoritas perajin penjor didominasi oleh kaum laki-laki. Sedangkan di Bali, baik perajin laki-laki atau pun perempuan mahir membuat penjor.

”Kebanyakan yang pintar bagian merangkai penjor kalau di Jawa itu laki-laki karena perempuan tidak terlalu banyak yang bisa buat penjor. Beda kalau di Bali, mau perempuan atau laki-laki semua bisa buat penjor. Di sana seni dan budayanya sangat kental,” lanjut siswa SMAN 1 Bangorejo tersebut.

Menurut Srina, saat ini masyarakat umat Hindu sudah banyak yang lupa akan pakem pemasangan penjor. Dia menyebut, banyak umat Hindu yang memasang penjor sebelum Hari Raya Galungan. ”Banyak sekarang yang masang penjor sebelum waktunya, padahal yang benar memasang penjor adalah pada saat hari Penampahan Galungan atau Selasa,” jelasnya.

Menurut Srina, pemasangan penjor memiliki pakem tersendiri. Yang benar adalah pada hari Selasa Wage Wuku Dungulan atau pada waktu upacara Penampahan Galungan setelah jam 12 siang atau menjelang sore. Dan, memasang penjor harus berada di sebelah kanan dari posisi pintu/pagar rumah.

Menurut kepercayaan umat Hindu, pemasangan penjor saat hari Penampahan diartikan dengan manusia berperang melawan pikiran dan sifat negatif. Sehingga penjor melambangkan sifat kebenaran atau kemenangan manusia melawan sifat-sifat buruk itu.

Di sisi lain, umat Hindu juga meyakini bahwa para leluhur akan datang ke pamerajan atau sanggah-sanggah di rumah. Sehingga penjor merupakan bentuk penghormatan atau lambang sambutan selamat datang kepada para leluhur. Dengan penjor yang masih segar, leluhur akan merasa senang. Sebab, baru dipasang pada waktunya yang memang hari pemasangan penjor. (rei/bay/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#bambu #Janur Kuning #dekorasi #penampahan #daun kelapa muda #Umbul-umbul #Penjor #hindu