Kepolisian Republik Indonesia (Polri) memberikan proteksi personel dari ancaman tembakan senjata api kepada petugas yang berhadapan dengan kejahatan-kejahatan serius. Misalnya, terorisme maupun gangguan keamanan dengan eskalasi tinggi.
Beberapa produk rompi antipeluru dengan kualitas terbaik telah melalui uji standar keamanan perlindungan balistik dari US National Institute of Justice (NIJ). NIJ merupakan pemegang standardisasi pelindung tubuh tepercaya.
Rompi antipeluru terdiri dari dua tipe berbeda, yakni keras dan lembut. Balistic body armour ”soft” dirancang untuk melindungi sebagian besar senjata genggam dan amunisi senjata kecil. Sedangkan balistic body armour ”hard” dirancang untuk menghentikan putaran amunisi kaliber besar seperti peluru senapan serbu dan senapan mesin ringan.
Kapolresta Banyuwangi Kombespol Dedy Foury Millewa melalui Kasat Samapta AKP Basori Alwi mengatakan, rompi antipeluru (bulletproof vest) adalah baju pelindung atau baju zirah yang melindungi bagian tubuh pemakainya dari proyektil peluru dan serpihan ledakan granat. ”Umumnya digunakan oleh personel militer dan orang-orang yang memiliki risiko terkena tembakan. Kalau di kepolisian penggunaannya jika ada tugas-tugas atau operasi yang berisiko,” jelasnya.
Kapolresta selalu mengingatkan kepada anggota di lapangan agar selalu menggunakan rompi antipeluru sebagai upaya melindungi diri dari ancaman kejahatan yang akhir-akhir ini marak menimpa anggota kepolisian. ”Utamanya, bagi anggota yang bertugas dalam operasi penangkapan dan pemberantasan kejahatan,” imbuh Basori.
Bahan yang digunakan untuk membuat rompi antipeluru selalu mengalami perkembangan seiring dengan hasil penemuan-penemuan baru. Secara umum bahan yang digunakan yakni arami— akronim dari kata aromatic polyamide.
Aramid memiliki struktur yang kuat, alot (tough), memiliki sifat peredam yang bagus (vibration damping), tahan terhadap asam dan basa. Selain itu, dapat menahan panas hingga 370 derajat Celsius sehingga tidak mudah terbakar.
Produk yang dipasarkan dikenal dengan nama Kevlar. Kevlar memiliki berat yang ringan, tapi lima kali lebih kuat dibandingkan besi. Prinsip kerja rompi antipeluru adalah dengan mengurangi sebanyak mungkin lontaran energi kinetik peluru dengan cara menggunakan lapisan-lapisan serat untuk menyerap energi laju tersebut dan memecah ke penampang rompi yang luas. Sehingga, energi tersebut tidak cukup lagi untuk membuat peluru dapat menembus rompi.
Dalam menyerap laju energi peluru, rompi mengalami deformasi yang menekan ke arah dalam (shock wave). Tekanan ke dalam ini akan diteruskan sehingga mengenai tubuh pengguna. Batas maksimal penekanan ke dalam tidak boleh lebih dari 4,4 sentimeter. Jika batasan tersebut dilewati, maka pengguna baju akan mengalami luka dalam yang berpotensi membahayakan keselamatan jiwa. (ddy/bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono