Bangunan Gedung Juang 45 itu, kini semakin menjadi salah satu ikon baru di Bumi Blambangan. Bangunan yang dibangun dengan skema pembangunan tahun jamak alias multiyears tersebut dahulu hanya memiliki satu lantai.
Namun pasca-direvitalisasi, bangunan yang dulunya bernama Societeit de Club atau Balai Perserikatan Sosial itu kini menjelma bangunan tiga lantai. Lengkap dengan indoor amphitheater di lantai paling atas.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi M. Yanuarto Bramuda mengatakan, setelah direvitalisasi, gedung tersebut sudah diserahterimakan dari pihak Dinas Pekerjaan Umum, Cipta Karya, dan Perumahan Rakyat (PU-CKPR) kepada Disbudpar. ”Gedung ini direvitalisasi agar ke depan lebih bermanfaat untuk orang banyak,” ujar pria yang karib disapa Bram tersebut.
Setelah direvitalisasi, lantai satu gedung tersebut banyak dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan kemasyarakatan serta kegiatan seni dan budaya. Misalnya untuk kegiatan pameran lukisan, fotografi, dan lain sebagainya.
Sementara pada lantai dua kerap digunakan untuk kegiatan-kegiatan outdoor. Seperti melukis on the spot, menggambar, dan lain-lain. Sedangkan yang paling spesial terletak di lantai tiga yakni indoor amphitheater. Arena ini sudah banyak dimanfaatkan untuk pentas seni tari, pertunjukan teater, baca puisi, lomba bercerita, dan kegiatan seni lainnya.
”Karena selama ini Banyuwangi hanya punya pentas outdoor, yakni di Gedung Seni Budaya (Gesibu) Blambangan. Sedangkan dengan digelar di pentas indoor, pasti akan memberikan pengalaman berbeda kepada penyaji maupun penonton. Karena penampilan mereka akan dipadukan dengan teknologi pencahayaan (lighting) dan lain-lain,” jelas Bram.
Sekadar diketahui, Gedung Juang 45 dibangun pada 1887 oleh VOC Belanda. Namanya ketika itu yakni Societeit de Club atau Balai Perserikatan Sosial. Gedung ini dimanfaatkan masyarakat Eropa dan elite intelektual untuk berkumpul dan menggelar berbagai acara. Mulai pertunjukan musik, dansa, kesenian tradisional, pameran, seminar, lelang, dan sampai pertemuan ilmiah.
Karena kondisi bangunannya sudah uzur, Pemkab Banyuwangi memugarnya pada tahun 2016 lalu dengan posisi gedung yang sama. Jika semula hanya satu lantai, dipugar menjadi tiga lantai dengan diarsiteki Adi Purnomo alias Mamok.
Mamok menyulap Gedung Juang tidak hanya menjadi lebih anggun. Tapi juga bisa menjadi tempat tiga kegiatan dalam waktu yang bersamaan. Lantai satu dan lantai dua bisa dijadikan tempat pameran lukisan, stand produk UMKM, dan lainnya.
Sementara lantai tiga dikhususkan untuk kegiatan seni budaya. Bentuknya berupa gedung teater. Dengan dinding dan atap seluruhnya berwarna hitam. Sangat cocok untuk kegiatan seminar, sarasehan, dan kuliah umum. Lebih bagus lagi untuk pertunjukan tari, musik, serta teater modern dan tradisional.
”Tidak asal memugar, tetapi tetap memberikan ruang dan fungsi Gedung Juang agar lebih bermanfaat untuk semua kalangan, dengan tidak meninggalkan sejumlah kenangan para veteran pada gedung tersebut,” tandas Bram.
Adi Purnomo dikenal sebagai arsitek yang peduli pada kearifan lokal dengan melestarikan heritage dan mempertahankan budaya. Termasuk mengembalikan Pendapa Sabha Swagata Blambangan ke bentuk aslinya. Pendapa kabupaten Banyuwangi itu pun kini terasa lebih wibawa. (ddy/bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono