Jembatan di Jalan Raya Jember ini menjadi penghubung antara Desa Pakistaji dengan Desa/Kecamatan Kabat. Kondisi jalan sedikit berkelok menurun ini berpotensi menyebabkan kemacetan hingga rawan laka lantas. Terutama saat malam hari, apalagi ketika penerangan di jembatan tersebut terganggu.
Darti, 40, warga Desa/Kecamatan Kabat mengungkapkan, sebelum Ramadan lalu, penerangan jembatan tersebut sering mati. Tak ayal, Jembatan Tambong pun tampak gelap gulita. ”Sekarang sudah berfungsi. Dulu sebelum bulan puasa sering mati,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Penataan Ruang Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Perumahan dan Permukiman (PU-CKPP) Banyuwangi Bayu Hadiyanto menyampaikan, meteran lampu jembatan masih sama dengan meteran untuk lampu penerangan jalan umum (LPJU) sekitarnya. Hal itu yang menjadi salah satu faktor penyebab lampu di jembatan sering mati. ”Kalau masih gabung, ketika salah satu lampu bermasalah. Maka lampu yang lain ikut eror,” kata Bayu.
Oleh karena itu, Bayu dan tim tengah berupaya mengubah jaringan listrik lampu penerangan Jembatan Tambong. Sehingga harus diubah jaringan listriknya agar tidak memengaruhi satu sama lain.
Menurut Bayu, pemasangan lampu di Jembatan Tambong itu sudah berlangsung sejak tahun 2018 silam. Karena sudah lima tahun, perlu sering dilakukan pengecekan dan penggantian konektor lampu. Sementara itu, jumlah tenaga pengecekan lampu di Banyuwangi sangat terbatas.
Bayu berharap, ada peran partisipatif dari masyarakat ketika mengetahui adanya lampu yang tidak berfungsi. ”Saat ini kami memiliki empat armada truk, dua kendaraan roda tiga, 1 pikap, dan 17 petugas yang merawat seluruh LPJU di Banyuwangi,” pungkasnya. (rei/bay/c1) Editor : Gerda Sukarno Prayudha