Asisten Manajer Ramayana Banyuwangi Agus Salim mengungkapkan, Hardy’s Mall mulai berdiri di tahun 2004. Di awal-awal pembukaan, Hardy’s Mall menjadi tujuan masyarakat Banyuwangi untuk berbelanja.
Perbelanjaan yang berfokus pada sektor grosir ini pada masanya cukup diminati masyarakat saat itu. Lantaran harga barang yang dijual kala itu lebih ”miring” dibanding pusat perbelanjaan lain yang sudah lama berdiri di Banyuwangi.
Namun menjelang tahun berikutnya, pusat perbelanjaan lain mulai hadir di Banyuwangi. Hardy’s Mall otomatis mulai memiliki pesaing. ”Hardy’s Mall mulai aktif di tahun 2004. Di awal-awal kami memang ada kendala karena muncul mal pembanding. Saat itu, memang Hardy’s Mall telah menerapkan sistem pajak. Sehingga, barang yang dijual terkena pajak, akibatnya harganya lebih mahal,” ujar Agus, Jumat lalu (28/4).
Hardy’s Mall di Jalan Adisucipto Banyuwangi ini ”hanya” mampu bertahan selama tiga tahun. Tepatnya, mulai November 2004 hingga Juni 2007. Sebelum akhirnya, tempat ini menjadi Mal Ramayana hingga saat ini. ”Karena mungkin Hardy’s merasa keuntungan tidak sebanding dengan yang diharapkan. Sehingga diambil jalan pintas untuk disewakan. Hingga akhirnya tahun 2007 pada bulan Juni, mulai di-take over oleh pihak Ramayana,” imbuh Agus.
Pada masa itu, karyawan di Hardy’s memiliki dua opsi untuk tetap bekerja di Hardy’s atau ke Ramayana. Sehingga perbandingan pegawai adalah 50 : 50. ”Jadi, karyawan boleh gabung ke Hardy’s atau Ramayana dengan kebijakan masing-masing. Saya dulu juga orang Hardy’s. Akhirnya saya ikut bergabung dengan Ramayana hingga saat ini,” ucapnya.
Menurut Agus, keputusan tersebut dibuat karena pemasukan yang diperoleh Hardy’s Mall tidak cukup untuk meng-cover biaya operasional. ”Waktu itu Hardy’s merekrut orang cukup banyak sehingga tidak bisa menutupi operasional,” pungkas Agus. (rei/bay/c1) Editor : Gerda Sukarno Prayudha