Di kancah persaingan bisnis fashion, Wijaya Dept. Store nyaris tanpa pesaing. Kalaupun ada, hanya sebatas toko biasa yang sama-sama menyediakan fashion. ”Kalau yang dijual di Wijaya saat itu, bermerek dan barang branded semua. Jadi harganya sudah bisa dipastikan mahal,” katanya.
Sementara itu, toko-toko fashion hanya ada di beberapa pasar kecamatan yang menyediakan berbagai jenis pakaian, celana, dan produk fashion lainnya. Sebut saja di Kecamatan Rogojampi ada Toko Sedulur, Toko Nusantara, serta di Kecamatan Genteng ada Toko Kalisari. Toko-toko itu bukanlah pesaing Wijaya, melainkan mitra bisnis yang saling melengkapi. ”Kalau dulu masuk dan beli barang di Wijaya itu sudah membanggakan,” ucap Husnul.
Wijaya menambah fasilitas yang semakin lengkap. Tidak hanya sebagai tempat berbelanja, tetapi juga sebagai sarana berlibur untuk keluarga. Tak heran, jika kala itu Wijaya menjadi ikon dan kebanggaan masyarakat Banyuwangi. ”Kalau belum berbelanja di Wijaya, rasanya kurang lengkap dan bergengsi, utamanya anak muda zaman itu,” terangnya.
Baru memasuki era tahun 2006, Pemkab Banyuwangi mulai memberikan izin kepada investor untuk mendirikan pusat perbelanjaan yang lebih besar dan maju. Sehingga bermunculan pemain baru mal seperti Roxy, Hardy’s, dan Giant. Belum lagi toko ritel berjaringan seperti Indomaret dan Alfamart yang bermunculan.
Selain itu, para pendatang baru hadir dengan harga lebih terjangkau. Akhirnya, perlahan Wijaya mulai kehilangan pelanggan. ”Wijaya seolah kalah bersaing dan mulai ditinggalkan pelanggan setianya,” beber lelaki yang akrab disapa Didik itu. (ddy/bay/c1) Editor : Gerda Sukarno Prayudha