Kontributor Jawa Pos Radar Banyuwangi Yudi Setyo Prayogo melaporkan, area King Fahd yang berada di Masjidilharam mencakup pintu 74 sampai dengan pintu 93. Tempatnya berada di basemen. Untuk turun ke lokasi, jemaah menggunakan eskalator. ”Tempatnya memang agak tersembunyi dan tidak ada papan penunjuk arah ke lokasi pembagian mushaf,” ungkap Fika Dian Saptawati, salah seorang jemaah haji asal Banyuwangi.
Yang menarik, ketika melintas di area ini jemaah asal Indonesia yang sedang mengantre, tiba-tiba dipanggil oleh salah satu petugas dengan langsung menyebut, ”Indonesia!”. ”Jemaah Indonesia sangat dikenali, jadi begitu tahu jemaah asal Indonesia akan diberi Alquran dan buku tambahan berupa tafsir Al-Usyr Al-Akhir berbahasa Indonesia,” katanya.
Berbeda dengan jemaah haji dari negara lain yang hanya mendapatkan Alquran berukuran kertas A5. ”Sebagai negara muslim terbesar, jemaah Indonesia bisa meminta buku-buku berbahasa Indonesia. Tinggal bilang Indonesia, petugas akan mengambilkan buku edisi berbahasa Indonesia,” timpal Nurul Arini, jemaah haji lain asal Kelurahan Sumberejo.
Saat memasuki pintu 74, akan ada pusat informasi. Di tempat tersebut, jemaah haji bisa mendapatkan buku gratis berisi panduan ibadah sesuai bahasa negara, brosur, peta Masjidilharam, dan tempat bertanya informasi perihal ibadah. Di tempat ini juga ada video seputar pengetahuan ibadah yang bisa ditonton.
Sementara itu, kondisi Masjidilharam mulai longgar. Jemaah haji mulai leluasa beribadah di dalam masjid. Masjidilharam tidak lagi penuh sesak. ”Datang tiga puluh menit sebelum waktu salat, saf di dalam masjid masih banyak yang kosong. Hal ini berbeda sebelum puncak haji. Kala itu Masjidilharam penuh sesak sampai ke halaman,” tandasnya. (ddy/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud